“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Tentang Teman dan Hasrat Menjadi Liyan

Menyebalkan sekali rasanya dipaksa untuk meredefinisi beberapa hal. ‘Paksaan’ tersebut datang ujug-ujug sampai saya tak bisa mengelak dan lebih baik cepat menuliskannya.

Pertanyaan tentang hasrat sudah cukup lama mengganggu pikiran saya belakangan ini. Memuncak ketika tengah ada di dalam ruang perpustakaan jurusan di kampus, beberapa saat sebelum yudisium pasca sidang akhir studi. Bukannya deg-degan, saya justru terpikir tentang siapa sajakah teman yang ada di luar? Tepatnya, siapa saja teman-teman dekat yang datang dan akan ikut selebrasi?

Selebrasi itu sendiri jadi momen yang cukup sering saya cela–baik dalam hati maupun secara langsung dalam beberapa obrolan. Suasana riuh, mars jurusan yang dinyanyikan, ucapan selamat yang kadang terasa asing diucapkan atau didengar, bunga-bunga, balon, selempang, hadiah. Saya mencelanya sebab selebrasi telah menjadi satu momen rutin yang menegaskan jurang ketidaksetaraan dalam dunia ini. Antara yang elit dan biasa saja. Lingkaran pertemanan yang luas+banyak dan yang tidak.

Masih jelas teringat obrolan dengan seorang teman menjelang akhir tahun lalu.

Tentu ada bayangan dan harapan tentang siapa teman-teman yang datang. Saya memang tak memberi tahu banyak orang. Perjalanan untuk sampai di titik tersebut sudah cukup melelahkan, sampai menggerus keinginan untuk pengumuman ke sana kemari, eh lo lo pada dateng dong besok gue mau sidang! 

Plus, entah kenapa selalu ada imaji bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi. Meski telah berlelah-lelah mengerjakan penelitian, menekuni disiplin etimologi dan metodologi, mempelajari critical discourse analysis dari sumber asli yang tentu tidak sepraksis apa yang dituliskan Eriyanto dalam bukunya yang banyak dirujuk itu, dan telah terlibat dalam dimensi sosiologis masalah yang saya teliti, pikiran bahwa saya mungkin salah dan gagal tak bisa enyah.

Selebrasi hari itu sepi. Jauh dari hingar bingar yang saya cela. Hingar bingar yang sebetulnya mengalienasi setiap orang dalam riuh ucapan dan foto bersama yang kemudian diunggah demi menjadi bagian dari masyarakat tontonan.

Sepi dengan ketiadaan teman-teman yang saya pikir akan datang.

Saya hanya menyadari satu hal. Bahwa ternyata dalam saya ada hasrat tersembunyi dalam ketidaksadaran. Hasrat untuk menjadi liyan yang seringkali saya cela dan tertawakan dalam pertanyaan akan esensi dan eksistensi. Sebuah id atas ego. Sebuah pertanda bahwa saya harus mulai menekuni psikoanalisis Lacanian demi menjawab kelindan pertanyaan dalam kepala.

Ada satu hal yang selayaknya saya syukuri. Teman yang hadir kala itu adalah orang-orang yang dengan mereka sebuah relasi pertemanan telah seringkali diuji. Dan saya sangat berterima kasih untuk ke-Ada-an mereka saat itu. Sebuah kualitas yang saya yakin lebih awet dari waktu yang dimiliki bunga sebelum layu, balon sebelum pecah/habis udara, atau makanan/minuman yang akan habis/basi.

Menyukaimu Sebatas Secangkir Kopi dan Obrolan Malam Hari

Ada hal lain yang perlu saya tuangkan sebelum melanjutkan cerita tentang Ekofeminisme yang seharusnya saya tulis dengan rajin itu. Saya butuh bercerita, tentang kamu, meski tak banyak yang boleh saya ceritakan.

Saya bingung bagaimana memulai, tapi mungkin ini relevan mengawali. Physically and mentally unstable. Itu yang saya rasakan beberapa waktu ke belakang. Puncaknya ketika dosen menyudutkan agar saya bisa memberikan rekomendasi yang sifatnya ‘legal dan struktural’ dari hasil penelitian, setelah terlalu lelah menjawab dan berargumen, sementara perbincangan hanya berputar-putar, saya meledak dalam tangis. Pertama kalinya membiarkan diri saya menunjukkan kerentanan yang sangat. Pada akhirnya saya mengatakan: siapa saya? Saya bukan siapa-siapa selain orang yang lebih banyak belajar ketimbang berkontribusi. Jelas saya tak lebih pintar dari mereka sendiri.

Banyak hal terjadi belakangan. Campur aduk saling berkelindan. Ketidakstabilan itu dan hambatan-hambatan lain, sampai pada rampungnya studi, keraguan bagaimana harus melanjutkan hidup, keharusan untuk segera pindah dari tempat kost–dan itu berarti berpisah dengan Kukis si anjing, dengan pohon bebuahan di halaman, dengan rumput hijau, dengan kolam lele, dengan sepetak alam hijau yang semakin sulit dijumpai di tengah kota.

Apa yang bisa saya harapkan hanyalah agar kebingungan ini berangsur pergi. Sebab saya butuh melanjutkan langkah, saya tak boleh lama tenggelam dalam pergulatan dan kesepian yang saya sendiri pun sukar mengerti. Kadang saya ingin menuding seseorang yang sedikit banyak membikin saya jadi begini. Albert Camus, mungkin? Atau kamu saja? Kamu yang hadir sebentar, tapi memengaruhi saya begitu besar. Membuat saya meredefinisi berbagai standar, menunda justifikasi, menikmati sepi, menjauhi hingar bingar dan kebanalan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan secara gamblang. Saya begitu menikmati ada di dekatmu, mengobrol tentang apapun, mengagumi kecerdasan dan cara pandangmu setiap waktu, sesekali menentangmu, sambil terus menjaga kesadaran agar tidak menyukaimu lebih dari itu. Sebab saya tahu pasti, hal-hal apa yang tidak bisa membuat kamu menyukai saya lebih daripada sekadar menjadi teman minum kopi dan berdiskusi. Pun saya tidak mau menggadaikan itu demi sesuatu yang ‘lebih’, padahal fana, rapuh, dan dapat rusak kapan saja tanpa bisa diperbaiki kembali. Tidak. Saya telah banyak belajar mencukupkan diri, dan saya merasa sangat cukup dengan secangkir kopi dan obrolan. Meski kamu dan saya terbungkus saput dan cuma masing-masing kita yang paham.

 

Epistemologi Ekofeminisme #1

Saya sempatkan menulis ini di tengah dinginnya pagi. Pukul 02.13 dan hujan turun di luar. Entah kenapa belum mengantuk meski sudah terlalu enggan merevisi skripsi yang (harusnya) sedikit lagi rampung.

Saya selalu menunda untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nanti saja, pikir saya, jika beban utama sudah selesai saya akan menuliskannya secara lengkap. Menuliskan cerita perjalanan yang awalnya merupakan bagian dari penelitian skripsi, tetapi akhirnya menjadi pengalaman katarsis cum spiritual. Oktober-November tahun lalu, saya mendatangi dua kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah yang sedang terancam pembangunan pabrik semen. Ya, ke Pati dan Rembang, mengunjungi dulur-dulur yang tengah berjuang melawan sebuah korporasi semen pelat merah dan korporasi besar lainnya yang setengah sahamnya dikuasai asing. Ini bukan isu baru, juga bukan isu yang tak banyak diketahui publik. Pemberitaan mengenainya bertebaran di media mainstream, media alternatif, dan juga media sosial.

5 Oktober 2016, situs resmi Mahkamah Agung memenangkan gugatan warga Rembang yang menyengketakan izin lingkungan PT Semen Indonesia. Saya pikir tadinya, itu kemenangan yang akan menjadi bukti bahwa rakyat masih berdaulat, hukum masih dijunjung tinggi, dan akal sehat masih punya tempat di negeri ini. Pun akan menjadi api semangat bagi perjuangan masyarakat dalam sengketa agraria di manapun.

25 Oktober, saya menuju Yogyakarta dengan naik KA Kahuripan. Saya sudah lama membayangkan alangkah asyiknya bepergian sendirian. Bertemu teman yang sudah dikenal atau orang-orang baru di perjalanan atau di tempat tujuan. Barangkali ini klise, tapi pengalaman bepergian sendirian memang sungguh momen komtemplatif. Kita akan mempunyai waktu untuk mempertanyakan dan memaknai ulang banyak hal. Ada yang maknanya semakin taksa, ada yang sedikit demi sedikit menjadi terang.

Saya sudah menghubungi beberapa teman yang kuliah dan tinggal di Kota Pelajar itu, meminta izin untuk menjadi parasit selama beberapa waktu. Tiba di Stasiun Lempuyangan, saya memberi kabar pada Adlun yang menawarkan diri menjemput. Ternyata ada Anggar yang sudah lebih dulu tiba, padahal sebelumnya dia bilang kemungkinan tidak akan terbangun dan sudah memberikan alamat lengkap agar saya bisa naik Gojek ke tempatnya. Adlun dan Anggar adalah dua teman saya sewaktu mengikuti Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA) 8 di KontraS.

img-20161026-wa0000
Dari kiri: saya, Anggar, Adlun. Wajah-wajah kurang tidur.

Kami cabut dari stasiun dan mampir sarapan nasi gudeg di pinggir Jalan Kaliurang. Saya agak memprotes klaim mereka bahwa cuaca Yogya hari-hari itu dingin. Ya, bagi saya yang tinggal di Jatinangor, Yogya waktu itu tidak ada dingin-dinginnya. Adlun menyebut saya ‘anandi’, anak daerah dingin. Selesai sarapan, kami menuju ke sebuah rumah di Jalan Kabupaten, ke rumah Tasya yang ia tinggali bersama Anggar dan beberapa teman lainnya.

27 Oktober, saya, Tasya, dan Wikan menuju Pati untuk menghadiri acara “Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda” yang akan digelar keesokan harinya. Kami berangkat naik travel dan salah turun di Gajah, Demak. Kami memutuskan untuk makan indomie di sebuah warung pinggir jalan sembari Tasya menghubungi Mas Gunretno dan minta pengarahan. Tasya memang sudah cukup dekat dengan Mas Gun; saya tak tahu bagaimana akan diterima di Pati dan diperbolehkan tinggal beberapa hari di sana jika bukan karena dia.

img-20161019-wa0001
Ini acara yang akan kami datangi ketika itu, sekaligus ‘pintu masuk’ saya untuk bisa tinggal di Pati beberapa hari dan mewawancarai beberapa tokoh gerakan tolak semen.

Saat sedang asyik menikmati indomie, minuman hangat, dan beberapa gorengan di warung tersebut, beberapa bapak-bapak pengojek menanyakan tujuan kami dan mengapa kami selarut itu. Barangkali karena kawatir, justru mereka ribut sendiri tentang bagaimana kami bisa sampai di Sukolilo. Ketika kami bilang akan mengompreng sampai Pati, mereka bilang “Ampun mbak, ora ilok (jangan mbak, tidak patut).”

Namun kami memang berusaha menghemat ongkos. Tak berniat terperangkap dalam ewuh-pekewuh dan keributan itu lebih lama lagi, kami akhirnya pamit dan berjalan saja menjauhi warung. Beberapa orang memanggil-manggil, tetapi kami bergeming dan terus melangkah. Setelah agak jauh, kami mulai mengacungkan jempol sebagai tanda meminta tumpangan kepada kendaraan yang lewat. Ketika itu mungkin mendekati tengah malam. Namun jalanan pantura tak pernah sepi, truk-truk besar melaju kencang. Tak lama kemudian, sebuah truk menepi. Seorang pria yang menjadi kenek truk tersebut turun dan mempersilakan kami bertiga menumpang.

*bersambung*

I wanna grow up once again

Give Me Some Sunshine, 3 Idiots

The shoulders were bent by the weight of the books
The concentrated H2SO4 burnt through my whole childhood
Our childhood is lost and so has our youth
Now let us live fully for just a moment
We’ve been dying every day and haven’t been living at all
Now let us live fully for just a moment
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance
I wanna grow up once again

Seseorang berkata bahwa sejarah adalah apa yang membuat kita menjadi kita. Saya menjadi saya. Saya ingin tahu hari-hari penuh ketakutan dan kekhawatiran ini menjadikan saya seperti apa di masa datang. Setiap tangis yang hanya berupa isak dalam kesunyian, setiap air mata, keringat, lelah, lapar yang seringkali terabaikan.

3 Idiots tak pernah gagal membuat saya merenung dan berpikir, juga senang dan sedih, berkali-kali. Saya rasa tak ada film lain yang punya efek seperti ini untuk diri saya, setidaknya sepanjang perjalanan menonton film selama ini.

Saya sedang mampir ke kosan Guguk, sepupu saya, di Jebres, Solo. Mungkin sekitar 6 tahun lalu. Atau lebih, saya tidak ingat pasti. Guguk mengajak saya menonton film, seperti kebiasaan kami kalau sedang berkumpul di rumah Baturetno dulu. Kami akan menonton film di ruang depan setelah sebelumnya menyeduh kopi dan memasak di dapur. Ia yang memasak, saya hanya sekedar ada di ruang yang sama. Guguk memperkenalkan saya pada film ini. Dan benar apa yang dia bilang, saya akan tertawa dan menangis menyaksikannya.

Tahun-tahun berlalu. Saya sudah berpindah setidaknya ke dua kota, dan sesekali masih mengulang menonton film itu. Detik ini saya mendapati diri seperti Raju; memelihara rasa takut dan memikirkan terlalu banyak hal. Perbedaan besarnya adalah tak ada Rancho dan Farhan.

Guguk masih di Solo. Di kosan dan kamar yang sama. Enggan berpindah dari kota itu sebab sudah kadung betah. Ia tampaknya tak suka kota besar. Juga sudah menemukan tambatan hatinya.

Saya teringat malam-malam yang kami habiskan dulu, entah untuk bercerita horor (ia indigo, tetapi untungnya bukan megalomania seperti kebanyakan orang yang mengaku indigo yang saya temui hari-hari ini), sains, film, buku-buku ensiklopedi yang ia lahap, atau apapun. Kenangan saya juga kadang berkelana ke masa-masa kami tidur di rumah sakit, di lantai kamar kelas 1 sampai 3 demi menunggui ibunya yang sakit. Saat ibunya sudah semakin kritis dan dipindahkan ke ruang HCU, kami tidur di emperan, di dekat sebuah tangga, bergantian berjaga dengan ayahnya. Ingatan itu kadang begitu samar, seakan sudah begitu lama, tetapi untung saya masih bisa menemukannya di relung kepala. Dan setiap kali mengingat, saya tersadar bahwa saya pernah begitu akrab dengan rumah sakit: dengan bau obat-obatan, bunyi roda tempat tidur pasien yang bergesekan dengan lantai, dinding-dinding yang menguarkan keputusasaan, juga aroma kematian yang menguap dari sudut-sudut kamar jenazah.

Di sana juga saya belajar menghargai kehidupan. Hidup yang menurut Camus adalah sebuah kesia-siaan, tapi toh tetap harus dirayakan. Bahkan diperjuangkan, jika si pemilik hidup memiliki sedikit semangat dan niat untuk itu.

Namun kadang semangat saja tidak cukup untuk memperjuangkan hidup yang absurd ini. Sebab meski semangat dan talenta itu universal, tidak begitu halnya dengan kesempatan. Ada sebuah teks yang juga begitu membekas untuk saya, sebuah tulisan Nicholas Kristof tentang lotere kelahiran yang menentukan peluang-peluang yang bisa dimiliki seseorang.

Dan detik ini, setelah menyaksikan 3 Idiots untuk yang entah keberapa kali, saya meminta untuk diberi kesempatan lagi. Saya ingin bertumbuh. Lagi.

It’s been a decade

This is my first piece in English. Just trying to improve my writing.

———

It brings either happiness or sorrow to be amongst them. To stand every Thursday afternoon at 3-5 pm across the State Palace in Medan Merdeka Utara Street. To be one of some people striving for justice in human rights issues. To know Sumarsih, Suciwati, Bedjo Untung, Tumiso, and other victims closer.

It’s my 4th Kamisan in Jakarta. I first joined when I was involving in Sekolah Hak Asasi Manusia untuk Mahasiswa (SeHAMA) 8, a 3-weeks human rights-course for college students held by Commission for the Disappeared and Victims of Violence (KontraS).

img-20170119-wa0031
Suciwati and Feri Kusuma (KontraS) greeted those present.

The Thursday action, or known as Aksi Kamisan, first inspired by a movement named Madres de Plaza de Mayo (Mothers of the Plaza the Mayo) in Argentina. Madres de Plaza de Mayo was a legendary movement. It consisted to be on going for 30 years since 1977. The mothers stood across Casa Rosada in the centre of Buenos Aires every Thursday, pursued the government to reveal the existence of their children who missed during the military regime in Argentina.

January, 18th 2007, Maria Catarina Sumarsih, mother of Bernardus Realino Norma Irmawan (Wawan), started the movement in Jakarta. Wawan is a victim of Semanggi I incident, November 1998. It was a mass demonstration (most of them are universities students) rejecting special session of the People Consultative Assembly (MPR). There was a clash between the mass and the army. Wawan was shot by the army when trying to help his wounded friend in Atma Jaya University parking area.

Wawan died, but his spirit doesn’t. It lives through his mother, Sumarsih, long way until now. Every Thursday, Sumarsih stands across the State Palace, handling a black umbrella on her hand, reminding the presidents during this decade to solve human rights-violations happened in the past. The movement becomes bigger and bigger. Many people come and join the movement. Derived from a mother demanding justice for her son to a movement responding every human rights cases that happen later on.

It’s been a decade. Jokowi becomes the president replacing the two periods-president SBY. In spite of that, seems like we still need a long journey to justice. The power remains silent, the president’s promises to pay attention on past human rights-violations makes no significant-steps in these days. Impunity goes on. It’s such an irony when the man alleged as the actor of mass slaughtering becomes the minister.

img-20170119-wa0007
Suciwati (left) and Sumarsih flinging out a banner.

It’s been a decade. Do we need another 10 years to come? Will the power remain silent? It’s either a happiness or sorrow being there, to see Sumarsih and Suciwati—wife of slain activist Munir Said Thalib—embracing each other. Yet Suciwati has another struggle on revealing the report of Facts Seeker Team (TPF Munir) claimed lost by the government. Munir Said Thalib is a human rights defender who died in his flight from Jakarta to Amsterdam, with arsenic poisoned-drink served to him. There’s notion he was killed intentionally (by the government) with assumption he brought state’s secret documents.

img-20170119-wa0006
Suciwati (left) and Sumarsih embraced each other.

In SBY era, TPF was established to track the murdering of the defender. But until now, the government has not published the result yet. The regime take turns, and remains silent.

Jurnalisme Alternatif dan Media Sosial sebagai Ruang Publik

_92601467_sukamulya3
Petani Sukamulya mempertahankan tanah mereka dari penggusuran untuk pembangunan Bandara Internasional Kertajati. (sumber: bbc.com)

Saya sedang berada di kompleks Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat (Mapolda Jabar) untuk sebuah urusan ketika mendapat kabar bahwa enam petani Sukamulya yang ditangkap ternyata berada di lokasi yang sama. Carsiman, Darni, Sunardi, Tarjo, Junen, dan Zaenuddin—mereka berenam ditangkap oleh aparat gabungan dalam aksi warga menolak pengukuran tanah untuk pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, pada Kamis, 17 November 2016.

Mereka dibawa dan tiba di Mapolda hari Jumat, 18 November 2016 dini hari untuk menjalani pemeriksaan keesokan harinya. Pemeriksaan terakhir kira-kira selesai pukul 8 malam. Menunggu pemeriksaan selesai, bapak-bapak petani Sukamulya menunggu di lobby Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum  sembari sesekali bercerita pada siapa saja yang menanyakan kronologis kejadian pada mereka.

Carsiman, misalnya. Ia bercerita dirinya sempat dikeroyok ketika aksi. Wajahnya penuh memar, kedua punggung telapak kakinya bengkak. Sebelumnya darah bahkan mengalir dari luka-luka di kepalanya. Sejak ditangkap hingga malam pemeriksaan itu, ia belum menerima perawatan medis yang memadai atas luka-lukanya.

Circa pukul 9 malam hasil putusan berita acara pemeriksaan (BAP) keluar. Tarjo, Junen, dan Zaenuddin ditetapkan sebagai saksi, sementara Carsiman, Darni, dan Sunardi naik status menjadi tersangka. Pemeriksaan berlanjut hingga Sabtu (19/11) menjelang subuh. Ketua WALHI Jabar Dadan Ramdan terdengar sempat menelepon seseorang, meminta agar orang yang diajaknya bicara tersebut menginformasikan pada wartawan untuk datang meliput.

Sampai proses penyidikan selesai, tak tampak ada wartawan yang hadir. Saya ingat, siangnya seorang teman saya menelepon Ketua AJI Bandung Adi Marsiela untuk membuat janji bertemu. Adi mengatakan dirinya sedang berada di Pekanbaru (atau Lampung, saya tidak ingat pasti).


download-1
Sumber: mediademocracyproject.ca

Peristiwa di atas menjadi menarik ketika beberapa hari kemudian beredar berita BBC Indonesia, bertajuk “Mengapa media sosial ‘memalingkan muka’ dari nasib para petani Sukamulya?”[i] Tulisan tersebut mempertanyakan apakah masalah petani Sukamulya tak cukup menarik bagi pengguna media sosial—sebagai pemegang akses informasi—sehingga tidak cukup ramai diperbincangkan di media sosial.

Merujuk tulisan BBC, dalam beberapa tahun belakangan  gerakan di media sosial terbukti mampu mendatangkan perubahan. Sebut saja pembatalan larangan aplikasi ojek online dan aturan baru terkait pencairan Jaminan Hari Tua.

Perbincangan di media sosial pada titik tertentu dapat menjelma menjadi apa yang disebut alternative and citizen journalism. Konsep jurnalisme warga dan jurnalisme alternatif ini, menurut Chris Atton dalam The Handbook of Journalism Studies, merupakan turunan dari media warga untuk aktivisme dan gerakan sosial. Apa yang lantas membedakan jurnalisme ini dengan yang dilakukan media massa arus utama?

Selama ini komunikasi massa dipandang dengan kaku berdasarkan prinsip-prinsip yang berbasis keahlian (skills), kapitalisasi (capitalization), dan kontrol (controls). Menurut James Hamilton, demi menerapkan prinsip-prinsip ini pada media alternatif kita harus lebih dulu sepakat untuk mendekonstruksi ketiga aspek tersebut (deprofessionalization, decapitalization, deinstitutionalization). Media alternatif harus hadir untuk ‘orang-orang biasa’, orang-orang tanpa profesionalisme dan kapital besar seperti yang dimiliki media massa arus utama. Meski demikian ia justru lebih potensial dalam merefleksikan praktik-praktik demokrasi langsung dan desentralisasi, serta jaringan solidaritas kolektif—yang disebut oleh Alberto Mellucci sebagai jantung aktivisme dan gerakan sosial (Atton, hal. 265-266).

Atton mencontohkan fanzine dan blog sebagai bentuk media alternatif. Di era ini, media sosial tampaknya menjadi bentuk media alternatif yang banyak digunakan. Penggunaan tagar di Twitter, misalnya, dapat menggelembungkan suatu isu menjadi perbincangan nasional bahkan mendunia. Semisal, tagar #BringBackOurGirls yang mendesak dipulangkannya 300 siswa perempuan Nigeria yang diculik oleh kelompok teroris Boko Haram, tagar #BlackLivesMatter yang mengkampanyekan anti-kekerasan terhadap warga kulit hitam, atau dalam konteks Indonesia tagar #RembangMelawan yang mendukung perjuangan petani Kendeng menolak korporasi semen, dan banyak contoh lainnya.

Media sosial adalah senjata, sekaligus ruang publik yang menjadi wadah jurnalisme alternatif. Peneliti media dari University of Amsterdam, Thomas Poell dan Erik Borra, secara khusus meneliti sosial media sebagai platform jurnalisme alternatif dalam protes terhadap G20 summit di Toronto, Canada pada 2010 lalu. Media sosial yang dikaji yakni Twitter, Youtube, dan Flickr. Penelitian yang berfokus pada 11.556 tweet, 222 video, dan 3.338 foto dengan tagar #g20report selama 12 hari tersebut menunjukkan, Twitter pada akhirnya menjadi platform yang paling menjanjikan untuk jurnalisme alternatif. Platform ini tidak hanya melibatkan kontributor—orang-orang yang mencuitkan isu terkait—dalam jumlah besar, fitur retweet (RT) sangat efektif membuat isu tersebut menjangkau lebih banyak pengguna.

Jurnalisme alternatif memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pers mainstream. Halloran et all. (dalam Poell dan Borra) pernah mengkritik media massa mainstream yang cenderung fokus pada ‘peristiwa’ dalam memberitakan demonstrasi. Alih-alih menyorot akar isu seperti kerusakan lingkungan, ketidakadilan yang dialami kaum buruh, dlsb, pers mainstream justru memberitakan demonstrasi sebagai peristiwa—biasanya dengan kericuhan yang mengiringinya. Pada saat seperti itulah, para pelaku jurnalisme alternatif hadir dengan informasi-informasi yang disebut oleh Poell dan Borra bernada counterbalance terhadap pemberitaan pers mainstream. Pelaku jurnalisme alternatif ini—merujuk Atton—biasanya aktivis atau warga siapa saja yang bersuara dari posisi mereka sebagai orang yang memiliki keberpihakan.


Jurnalisme Advokasi

Selain jurnalisme alternatif, sebenarnya ada pula aliran jurnalisme yang bisa digunakan untuk ‘memihak warga’. Ia disebut jurnalisme advokasi.

Morris Janowitz (1975) menyebutkan, jurnalisme advokasi menugaskan wartawan berperan sebagai partisipan aktif yang berbicara mewakili kelompok tertentu, terlebih mereka yang tertindas atau tidak punya suara. Jurnalisme advokasi membolehkan wartawan menjadi representasi publik dan mengambil posisi menentang ketidakadilan dalam sistem masyarakat.

Lebih luas dari Janowitz, Silvio Waisbord dalam papernya “Advocacy Journalism in a Global Context” memaparkan bentuk-bentuk lain dari jurnalisme advokasi. Jurnalisme advokasi merujuk pada upaya-upaya kelompok tertentu yang menggunakan media massa untuk memengaruhi kebijakan publik. Melalui jurnalisme advokasi, publik didorong untuk terlibat secara aktif merumuskan solusi terkait permasalahan-permasalahan yang ada.

Geliat jurnalisme advokasi dapat ditemui dalam pemberitaan media massa mainstream belakangan ini–meski secara kuantitas masih terbatas. Misalnya, liputan CNNIndonesia dalam mengkover perjuangan petani Sukamulya. CNNIndonesia mempunyai kanal topik “Tersingkir di Tanah Sendiri” yang isinya kisah-kisah mengenai masyarakat yang terancam digusur lantaran pembangunan. Seperti masyarakat Kulon Progo yang dibayangi pembangunan bandara dan masyarakat Batang versus pembangunan pembangkit listrik.

Namun seberapa signifikan geliat jurnalisme advokasi ini menjadi sebuah counter melawan narasi pembangunan nasional masih menjadi pertanyaan tersendiri. Sejak Orde Baru, pembangunan menjadi narasi utama; menjadi narasi yang hegemonik. Di masa pemerintahan Jokowi-JK yang memang mengarusutamakan pembangunan infrastruktur seperti sekarang, diskursus ini menguat setelah dicanangkannya Proyek Strategis Nasional yang dikukuhkan melalui Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Aturan ini semakin menambah rentetan ancaman penggusuran terhadap masyarakat, yang mana korbannya seringkali adalah petani, masyarakat adat, masyarakat kampung miskin kota, dlsb. Semua demi terselenggaranya pembangunan atas nama kepentingan umum.

Barangkali perdebatan mengenai pembangunan akan menjadi diskusi panjang yang melelahkan di antara para developmentalis dan orang-orang yang tidak serta merta sepakat dengan pembangunan (demi menghindari istilah anti-pembangunan). Namun dalam konteks media, kita berbicara tentang kekuasaan dan siapa yang bisa menentukan wacana dominan. Pembangunan kebak dengan orang-orang berkuasa di baliknya; wacana pembangunan telah lama menjadi dominan melalui berbagai aparatusnya.


Di satu sisi benar geliat jurnalisme advokasi harus diapresiasi, serta terus diberi ruang dalam pemberitaan media massa mainstream. Namun jurnalisme alternatif juga perlu terus dihadirkan dan dilakoni. Dalam konteks ini, melalui media sosial sebagai ruang publik tempat bertarungnya aneka wacana. Agar kita tidak lagi ‘memalingkan muka’.


[i] http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38060750

Poell, Thomas dan Erik Borra. 2012. Twitter, Youtube, and Flickr as platforms of alternative journalism: The social media account of the 2010 Toronto G20 protests. Sage Publication.

Wahl-Jorgensen, Karen dan Thomas Hanitzsch (ed.). 2009. The Handbook of Journalism Studies. Routledge.