Sekali Lagi Sepi dan Hal-hal yang Berjubel di Kepala

Saya kerap diserang pikiran-pikiran rumit yang sulit diurai. Sering merasa marah dan sedih dan bingung tanpa tahu kenapa. Barangkali sebenarnya tahu, tapi saya terlalu enggan melakukan dekonstruksi demi tahu prakondisi-prakondisi seperti apa yang bikin saya jadi begini.

Kota ini membuat saya jadi lebih pemarah. Jadi lebih sering mengumpat. Saya takut kehilangan diri di sini. Saya kawatir terbawa arus dan menjadi pragmatis. Saya takut kehilangan apa yang saya percaya dan yakini, lalu dengan mudah maklum pada semua yang seharusnya tidak demikian adanya.

Barangkali yang ironis adalah bahwa saya tahu perasaan macam itu muncul tepat sebelum pindah ke sini. Ketika sebenarnya kehidupan di kota yang dulu itu sedang berada di titik yang sangat menyenangkan, dengan teman-teman dan semangat komunal yang mendatangkan harapan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil, bahwa perjuangan adalah soal ketekunan memelihara semangat bersama, bahwa ruang-ruang alternatif sebenarnya telah dan akan terus ada. Bahwa cinta barangkali juga bisa bertunas dan tumbuh di sana.

Lalu saya merasa dicerabut tiba-tiba. Sebagian diri tertinggal di sana, tertahan rasa suka pada jalan dan udara dan orang-orang yang mengesankan.

Sepi ini nyata. Kesendirian ini juga.

Dikelilingi banyak orang barangkali sama artinya dengan tak bersama siapa-siapa. Seperti tampaknya bisa melakukan banyak hal tapi sebenarnya sama sekali tak berbakat betul.

Kehadiran saya di antara banyak orang dan sebaliknya kadang terasa semu, seperti cuma ada tanpa mengalami, seperti memandang selintas lalu tanpa benar-benar melihat. Seperti sekedar mendengar/didengar, bukan mendengarkan/didengarkan.

Seperti bisa bersandar sesaat tapi tiap waktu bisa hampir jatuh tiba-tiba.

Saya sudah sejak awal bertanya-tanya, kota ini akan mengubahku menjadi apa? Denyut kota ini tentu saja menggoda, merayu kita menikmati degupnya yang gempita, barangkali dengan tawa karena mode dan pizza dan kopi atau alkohol atau apapun yang bisa terbeli.

Hanya saja, bahagia bukan sesuatu yang gampang dibeli. Pun ia bukan barang gadaian yang bisa ditebus kalau kita sudah punya uang. Ia, buat saya, hanya dapat dirasakan ketika jawaban akan apa yang esensial sudah didapatkan.

Apa yang esensial? Dari keseharian, kesibukan, pekerjaan, kesuksesan, perjalanan, atau bahkan keberadaan?

Advertisements

Kenapa Kita Cemburu Pada Masa Lalu?

Kenapa kita cemburu pada masa lalu?

Saya tidak bisa berhenti memikirkan pertanyaan ini selama beberapa hari. Ini bermula dari cuitan seorang teman di Twitter yang bertanya pada followers-nya, “Lebih cemburu pada yang mana, mantannya pacar atau pacar barunya mantan?”

Kontemplasi pun bermula dari pertanyaan spesifik tersebut, yang lingkupnya memang perihal cinta-cintaan. Saya dengan bodohnya mulai menelisik diri sendiri, meski tahu bahwa mengurai kesadaran itu menyebalkan. Hal-hal yang sebenarnya sudah otomatis, terjadi di subconscious line, dan terasa ‘natural ya memang begitu adanya dari sananya’, ternyata toh terjadi karena prakondisi-prakondisi yang tersebar dalam sejarah kecil kita masing-masing. Kadang apa yang kita temukan perih dan pedih, dan mengurainya ibarat menabur garam pada luka.

Jadi, saya lebih cemburu pada yang mana: pacar barunya mantan atau mantannya pacar? Dalam konteks waktu yang spesifik, yaitu sekarang, saya punya mantan tapi tidak punya pacar. Namun setelah ditanya, dipikir, dirasa, dan ditimbang, ternyata saya tetap cemburu pada yang telah lalu daripada yang kini ada atau yang akan datang. Cemburu. Bukan lebih atau lebih sering. Dus, saya terintimidasi bukan saat melihat mantan pacar sudah bersama orang lain, tetapi justru dengan kenangan pacar bersama mantannya. Pada setiap artifak yang terlacak, pada nama dan cerita yang terucap, pada ingatan yang memang mengendap.

Saya ingin menelisik bukan hanya masa lalu pacar, tetapi juga tentang masa lalu itu sendiri.

Yang unik dari masa lalu, menurut saya, adalah bahwa kita sebenarnya tak pernah benar-benar mengetahuinya dengan gamblang. Bahkan mungkin kita tidak benar-benar pernah mengalaminya; hanya separuh saja atau seberapun tapi tak pernah penuh. Dengan kata lain, masa lalu tak kurang misterius ketimbang masa depan. Seperti halnya fakta sejarah yang punya banyak versi narasi, masa lalu mungkin carut marut. Tinggal dari keinginan siapa ia dikisahkan. Lalu yang tertinggal yang bisa kita lakukan hanya memberinya makna, agar ia tak sekedar menjadi peristiwa tak berjiwa.

Saya teringat pada film Midnight in Paris yang disutradari Woody Allen. Dalam film tersebut, sang tokoh utama yang berkeliaran di Paris pasca tengah malam dapat pergi ke masa silam (time travel) dan bertemu dengan para seniman besar masa lampau yang ia idolakan: Fitzgerald, Hemingway, Dali, Picasso, dan lainnya. Gil Pender, nama sang tokoh, berpelesiran dari abad 21 (tahun 2010) ke abad 20, masa di mana para seniman tersebut berjaya. Yang menarik dari film ini yaitu bagaimana sebuah generasi ternyata terjerat romantisme dengan era yang sudah lewat. Gil memuja semangat zaman 1920-an dengan segala kecemerlangan para senimannya, sampai ia mendapati bahwa Adriana—kekasih Picasso—merasa bosan dengan era tersebut dan beranggapan 1890-lah golden age yang sesungguhnya. Lebih jauh lagi, seniman 1890-an yang Gil dan Adriana temui, seperti Henri de Toulouse-Lautrec dan Paul Gauguin menganggap semangat generasi zaman itu ‘kosong dan kehilangan imajinasi’. Dan golden age versi mereka adalah masa Renaissance!

Gil jatuh cinta pada Adriana. Adriana pun menyukai Gil. Namun Adriana memilih tinggal di tahun 1890 dan Gil memutuskan kembali ke masa kini. Saya telah bertemu beberapa orang; kami adalah Gil di suatu waktu dan Adriana di waktu lain.

Saya kadang juga berandai-andai hidup di era yang sudah lewat; di masa kolonial maupun pascakolonial. Misalnya, saya sering membayangkan hidup di zaman saat trem masih menjadi alat transportasi yang keren, saat Puncak masih berupa hutan yang belum diperkosa vila dan bantaran Ciliwung tidak meluap serta belum dibeton. Barangkali saya bisa cukup beruntung mengenal sang bohemian Chairil Anwar, dekat dengan sosok seperti Trimurti, atau menjadi kroco apapun itu asalkan terlibat dalam perjuangan. Kalau hidup pada masa demokrasi terpimpin, akankah saya ikut dalam rombongan pemuda yang menggulingkan Orde Lama, melihat orasi Soe Hok Gie dan yang lainnya? Atau kalau hidup di era Orde Baru, bagian apa yang akan saya ambil dalam perjuangan Reformasi? Saya seringkali larut dalam romantisme ini itu, padahal toh itu cuma perkara waktu, perkara masa. Yang terguling dari setiap masa hanyalah figur, bukan ketidakadilan itu sendiri. Perjuangan masih panjang dan abadi.

Lantas sebenarnya, romantik atau cemburu yang menjerat kita pada masa lalu? Bagi saya keduanya hadir berbarengan, sebagai kontradiksi yang niscaya. Seperti halnya saya menyadari bahwa apa yang saya cela juga saya dambakan. Bahwa yang ingin saya tinggalkan sebenarnya ingin saya dekap erat. Hiruk pikuk media sosial, kesuksesan, kebahagiaan—dalam standar dunia, juga cinta.

Maka sampai di sini, saya benci ketika sampai pada pengetahuan dan kesadaran akan siapa atau apa yang lebih saya cemburui. Perihal mantan bagi saya berkaitan dengan ingatan, dan siapa  bisa menghapus ingatan? Di masa ini, ingatan dan saya tinggal bersama, tanpa saya tahu akankah suatu saat nanti kami saling menyiksa.

Upaya saya mengurai pertanyaan ‘masa lalu’ ini agak terbantu usai menelusuri laman mesin pencari Google. Sebuah tulisan di The Guardian spesifik membahas tentang lovers past.

Whatever it is, it is a feeling more complex than mere jealousy—it is fascination mingled with curiousity mingled with dread.

[……]

…it’s the unknown that scares and tempts us. What exactly do we fear from our partner’s past?

Namun pada bagian akhir justru tertulis,

Knowing everything about someone can be dull, and there’s nothing more antithetical, more detrimental to love than dullness. Maybe we all need that fear, that last vestige of the unknown to keep us guessing, keep us trying, keep us together.

Dalam konteks lebih general, to keep us alive. Mungkin kita memang perlu hidup dari ketidaktahuan. Sembari mencari tahu. Sembari merayakan cemburu.

 

Post-scriptum:

Namun apa sih yang benar-benar kita tahu? Dari orang lain, dari dunia ini, bahkan dari diri kita sendiri?

the-false-mirror.jpg
The False Mirror (1928), Rene Magritte

“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Tentang Teman dan Hasrat Menjadi Liyan

Menyebalkan sekali rasanya dipaksa untuk meredefinisi beberapa hal. ‘Paksaan’ tersebut datang ujug-ujug sampai saya tak bisa mengelak dan lebih baik cepat menuliskannya.

Pertanyaan tentang hasrat sudah cukup lama mengganggu pikiran saya belakangan ini. Memuncak ketika tengah ada di dalam ruang perpustakaan jurusan di kampus, beberapa saat sebelum yudisium pasca sidang akhir studi. Bukannya deg-degan, saya justru terpikir tentang siapa sajakah teman yang ada di luar? Tepatnya, siapa saja teman-teman dekat yang datang dan akan ikut selebrasi?

Selebrasi itu sendiri jadi momen yang cukup sering saya cela–baik dalam hati maupun secara langsung dalam beberapa obrolan. Suasana riuh, mars jurusan yang dinyanyikan, ucapan selamat yang kadang terasa asing diucapkan atau didengar, bunga-bunga, balon, selempang, hadiah. Saya mencelanya sebab selebrasi telah menjadi satu momen rutin yang menegaskan jurang ketidaksetaraan dalam dunia ini. Antara yang elit dan biasa saja. Lingkaran pertemanan yang luas+banyak dan yang tidak.

Masih jelas teringat obrolan dengan seorang teman menjelang akhir tahun lalu.

Tentu ada bayangan dan harapan tentang siapa teman-teman yang datang. Saya memang tak memberi tahu banyak orang. Perjalanan untuk sampai di titik tersebut sudah cukup melelahkan, sampai menggerus keinginan untuk pengumuman ke sana kemari, eh lo lo pada dateng dong besok gue mau sidang! 

Plus, entah kenapa selalu ada imaji bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi. Meski telah berlelah-lelah mengerjakan penelitian, menekuni disiplin etimologi dan metodologi, mempelajari critical discourse analysis dari sumber asli yang tentu tidak sepraksis apa yang dituliskan Eriyanto dalam bukunya yang banyak dirujuk itu, dan telah terlibat dalam dimensi sosiologis masalah yang saya teliti, pikiran bahwa saya mungkin salah dan gagal tak bisa enyah.

Selebrasi hari itu sepi. Jauh dari hingar bingar yang saya cela. Hingar bingar yang sebetulnya mengalienasi setiap orang dalam riuh ucapan dan foto bersama yang kemudian diunggah demi menjadi bagian dari masyarakat tontonan.

Sepi dengan ketiadaan teman-teman yang saya pikir akan datang.

Saya hanya menyadari satu hal. Bahwa ternyata dalam saya ada hasrat tersembunyi dalam ketidaksadaran. Hasrat untuk menjadi liyan yang seringkali saya cela dan tertawakan dalam pertanyaan akan esensi dan eksistensi. Sebuah id atas ego. Sebuah pertanda bahwa saya harus mulai menekuni psikoanalisis Lacanian demi menjawab kelindan pertanyaan dalam kepala.

Ada satu hal yang selayaknya saya syukuri. Teman yang hadir kala itu adalah orang-orang yang dengan mereka sebuah relasi pertemanan telah seringkali diuji. Dan saya sangat berterima kasih untuk ke-Ada-an mereka saat itu. Sebuah kualitas yang saya yakin lebih awet dari waktu yang dimiliki bunga sebelum layu, balon sebelum pecah/habis udara, atau makanan/minuman yang akan habis/basi.

Menyukaimu Sebatas Secangkir Kopi dan Obrolan Malam Hari

Ada hal lain yang perlu saya tuangkan sebelum melanjutkan cerita tentang Ekofeminisme yang seharusnya saya tulis dengan rajin itu. Saya butuh bercerita, tentang kamu, meski tak banyak yang boleh saya ceritakan.

Saya bingung bagaimana memulai, tapi mungkin ini relevan mengawali. Physically and mentally unstable. Itu yang saya rasakan beberapa waktu ke belakang. Puncaknya ketika dosen menyudutkan agar saya bisa memberikan rekomendasi yang sifatnya ‘legal dan struktural’ dari hasil penelitian, setelah terlalu lelah menjawab dan berargumen, sementara perbincangan hanya berputar-putar, saya meledak dalam tangis. Pertama kalinya membiarkan diri saya menunjukkan kerentanan yang sangat. Pada akhirnya saya mengatakan: siapa saya? Saya bukan siapa-siapa selain orang yang lebih banyak belajar ketimbang berkontribusi. Jelas saya tak lebih pintar dari mereka sendiri.

Banyak hal terjadi belakangan. Campur aduk saling berkelindan. Ketidakstabilan itu dan hambatan-hambatan lain, sampai pada rampungnya studi, keraguan bagaimana harus melanjutkan hidup, keharusan untuk segera pindah dari tempat kost–dan itu berarti berpisah dengan Kukis si anjing, dengan pohon bebuahan di halaman, dengan rumput hijau, dengan kolam lele, dengan sepetak alam hijau yang semakin sulit dijumpai di tengah kota.

Apa yang bisa saya harapkan hanyalah agar kebingungan ini berangsur pergi. Sebab saya butuh melanjutkan langkah, saya tak boleh lama tenggelam dalam pergulatan dan kesepian yang saya sendiri pun sukar mengerti. Kadang saya ingin menuding seseorang yang sedikit banyak membikin saya jadi begini. Albert Camus, mungkin? Atau kamu saja? Kamu yang hadir sebentar, tapi memengaruhi saya begitu besar. Membuat saya meredefinisi berbagai standar, menunda justifikasi, menikmati sepi, menjauhi hingar bingar dan kebanalan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan secara gamblang. Saya begitu menikmati ada di dekatmu, mengobrol tentang apapun, mengagumi kecerdasan dan cara pandangmu setiap waktu, sesekali menentangmu, sambil terus menjaga kesadaran agar tidak menyukaimu lebih dari itu. Sebab saya tahu pasti, hal-hal apa yang tidak bisa membuat kamu menyukai saya lebih daripada sekadar menjadi teman minum kopi dan berdiskusi. Pun saya tidak mau menggadaikan itu demi sesuatu yang ‘lebih’, padahal fana, rapuh, dan dapat rusak kapan saja tanpa bisa diperbaiki kembali. Tidak. Saya telah banyak belajar mencukupkan diri, dan saya merasa sangat cukup dengan secangkir kopi dan obrolan. Meski kamu dan saya terbungkus saput dan cuma masing-masing kita yang paham.

 

Epistemologi Ekofeminisme #1

Saya sempatkan menulis ini di tengah dinginnya pagi. Pukul 02.13 dan hujan turun di luar. Entah kenapa belum mengantuk meski sudah terlalu enggan merevisi skripsi yang (harusnya) sedikit lagi rampung.

Saya selalu menunda untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nanti saja, pikir saya, jika beban utama sudah selesai saya akan menuliskannya secara lengkap. Menuliskan cerita perjalanan yang awalnya merupakan bagian dari penelitian skripsi, tetapi akhirnya menjadi pengalaman katarsis cum spiritual. Oktober-November tahun lalu, saya mendatangi dua kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah yang sedang terancam pembangunan pabrik semen. Ya, ke Pati dan Rembang, mengunjungi dulur-dulur yang tengah berjuang melawan sebuah korporasi semen pelat merah dan korporasi besar lainnya yang setengah sahamnya dikuasai asing. Ini bukan isu baru, juga bukan isu yang tak banyak diketahui publik. Pemberitaan mengenainya bertebaran di media mainstream, media alternatif, dan juga media sosial.

5 Oktober 2016, situs resmi Mahkamah Agung memenangkan gugatan warga Rembang yang menyengketakan izin lingkungan PT Semen Indonesia. Saya pikir tadinya, itu kemenangan yang akan menjadi bukti bahwa rakyat masih berdaulat, hukum masih dijunjung tinggi, dan akal sehat masih punya tempat di negeri ini. Pun akan menjadi api semangat bagi perjuangan masyarakat dalam sengketa agraria di manapun.

25 Oktober, saya menuju Yogyakarta dengan naik KA Kahuripan. Saya sudah lama membayangkan alangkah asyiknya bepergian sendirian. Bertemu teman yang sudah dikenal atau orang-orang baru di perjalanan atau di tempat tujuan. Barangkali ini klise, tapi pengalaman bepergian sendirian memang sungguh momen komtemplatif. Kita akan mempunyai waktu untuk mempertanyakan dan memaknai ulang banyak hal. Ada yang maknanya semakin taksa, ada yang sedikit demi sedikit menjadi terang.

Saya sudah menghubungi beberapa teman yang kuliah dan tinggal di Kota Pelajar itu, meminta izin untuk menjadi parasit selama beberapa waktu. Tiba di Stasiun Lempuyangan, saya memberi kabar pada Adlun yang menawarkan diri menjemput. Ternyata ada Anggar yang sudah lebih dulu tiba, padahal sebelumnya dia bilang kemungkinan tidak akan terbangun dan sudah memberikan alamat lengkap agar saya bisa naik Gojek ke tempatnya. Adlun dan Anggar adalah dua teman saya sewaktu mengikuti Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA) 8 di KontraS.

img-20161026-wa0000
Dari kiri: saya, Anggar, Adlun. Wajah-wajah kurang tidur.

Kami cabut dari stasiun dan mampir sarapan nasi gudeg di pinggir Jalan Kaliurang. Saya agak memprotes klaim mereka bahwa cuaca Yogya hari-hari itu dingin. Ya, bagi saya yang tinggal di Jatinangor, Yogya waktu itu tidak ada dingin-dinginnya. Adlun menyebut saya ‘anandi’, anak daerah dingin. Selesai sarapan, kami menuju ke sebuah rumah di Jalan Kabupaten, ke rumah Tasya yang ia tinggali bersama Anggar dan beberapa teman lainnya.

27 Oktober, saya, Tasya, dan Wikan menuju Pati untuk menghadiri acara “Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda” yang akan digelar keesokan harinya. Kami berangkat naik travel dan salah turun di Gajah, Demak. Kami memutuskan untuk makan indomie di sebuah warung pinggir jalan sembari Tasya menghubungi Mas Gunretno dan minta pengarahan. Tasya memang sudah cukup dekat dengan Mas Gun; saya tak tahu bagaimana akan diterima di Pati dan diperbolehkan tinggal beberapa hari di sana jika bukan karena dia.

img-20161019-wa0001
Ini acara yang akan kami datangi ketika itu, sekaligus ‘pintu masuk’ saya untuk bisa tinggal di Pati beberapa hari dan mewawancarai beberapa tokoh gerakan tolak semen.

Saat sedang asyik menikmati indomie, minuman hangat, dan beberapa gorengan di warung tersebut, beberapa bapak-bapak pengojek menanyakan tujuan kami dan mengapa kami selarut itu. Barangkali karena kawatir, justru mereka ribut sendiri tentang bagaimana kami bisa sampai di Sukolilo. Ketika kami bilang akan mengompreng sampai Pati, mereka bilang “Ampun mbak, ora ilok (jangan mbak, tidak patut).”

Namun kami memang berusaha menghemat ongkos. Tak berniat terperangkap dalam ewuh-pekewuh dan keributan itu lebih lama lagi, kami akhirnya pamit dan berjalan saja menjauhi warung. Beberapa orang memanggil-manggil, tetapi kami bergeming dan terus melangkah. Setelah agak jauh, kami mulai mengacungkan jempol sebagai tanda meminta tumpangan kepada kendaraan yang lewat. Ketika itu mungkin mendekati tengah malam. Namun jalanan pantura tak pernah sepi, truk-truk besar melaju kencang. Tak lama kemudian, sebuah truk menepi. Seorang pria yang menjadi kenek truk tersebut turun dan mempersilakan kami bertiga menumpang.

*bersambung*

I wanna grow up once again

Give Me Some Sunshine, 3 Idiots

The shoulders were bent by the weight of the books
The concentrated H2SO4 burnt through my whole childhood
Our childhood is lost and so has our youth
Now let us live fully for just a moment
We’ve been dying every day and haven’t been living at all
Now let us live fully for just a moment
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance
I wanna grow up once again

Seseorang berkata bahwa sejarah adalah apa yang membuat kita menjadi kita. Saya menjadi saya. Saya ingin tahu hari-hari penuh ketakutan dan kekhawatiran ini menjadikan saya seperti apa di masa datang. Setiap tangis yang hanya berupa isak dalam kesunyian, setiap air mata, keringat, lelah, lapar yang seringkali terabaikan.

3 Idiots tak pernah gagal membuat saya merenung dan berpikir, juga senang dan sedih, berkali-kali. Saya rasa tak ada film lain yang punya efek seperti ini untuk diri saya, setidaknya sepanjang perjalanan menonton film selama ini.

Saya sedang mampir ke kosan Guguk, sepupu saya, di Jebres, Solo. Mungkin sekitar 6 tahun lalu. Atau lebih, saya tidak ingat pasti. Guguk mengajak saya menonton film, seperti kebiasaan kami kalau sedang berkumpul di rumah Baturetno dulu. Kami akan menonton film di ruang depan setelah sebelumnya menyeduh kopi dan memasak di dapur. Ia yang memasak, saya hanya sekedar ada di ruang yang sama. Guguk memperkenalkan saya pada film ini. Dan benar apa yang dia bilang, saya akan tertawa dan menangis menyaksikannya.

Tahun-tahun berlalu. Saya sudah berpindah setidaknya ke dua kota, dan sesekali masih mengulang menonton film itu. Detik ini saya mendapati diri seperti Raju; memelihara rasa takut dan memikirkan terlalu banyak hal. Perbedaan besarnya adalah tak ada Rancho dan Farhan.

Guguk masih di Solo. Di kosan dan kamar yang sama. Enggan berpindah dari kota itu sebab sudah kadung betah. Ia tampaknya tak suka kota besar. Juga sudah menemukan tambatan hatinya.

Saya teringat malam-malam yang kami habiskan dulu, entah untuk bercerita horor (ia indigo, tetapi untungnya bukan megalomania seperti kebanyakan orang yang mengaku indigo yang saya temui hari-hari ini), sains, film, buku-buku ensiklopedi yang ia lahap, atau apapun. Kenangan saya juga kadang berkelana ke masa-masa kami tidur di rumah sakit, di lantai kamar kelas 1 sampai 3 demi menunggui ibunya yang sakit. Saat ibunya sudah semakin kritis dan dipindahkan ke ruang HCU, kami tidur di emperan, di dekat sebuah tangga, bergantian berjaga dengan ayahnya. Ingatan itu kadang begitu samar, seakan sudah begitu lama, tetapi untung saya masih bisa menemukannya di relung kepala. Dan setiap kali mengingat, saya tersadar bahwa saya pernah begitu akrab dengan rumah sakit: dengan bau obat-obatan, bunyi roda tempat tidur pasien yang bergesekan dengan lantai, dinding-dinding yang menguarkan keputusasaan, juga aroma kematian yang menguap dari sudut-sudut kamar jenazah.

Di sana juga saya belajar menghargai kehidupan. Hidup yang menurut Camus adalah sebuah kesia-siaan, tapi toh tetap harus dirayakan. Bahkan diperjuangkan, jika si pemilik hidup memiliki sedikit semangat dan niat untuk itu.

Namun kadang semangat saja tidak cukup untuk memperjuangkan hidup yang absurd ini. Sebab meski semangat dan talenta itu universal, tidak begitu halnya dengan kesempatan. Ada sebuah teks yang juga begitu membekas untuk saya, sebuah tulisan Nicholas Kristof tentang lotere kelahiran yang menentukan peluang-peluang yang bisa dimiliki seseorang.

Dan detik ini, setelah menyaksikan 3 Idiots untuk yang entah keberapa kali, saya meminta untuk diberi kesempatan lagi. Saya ingin bertumbuh. Lagi.