“Cinta itu Indah, Juga Kebinasaan yang Membuntutinya”

Saya bukan pembaca berat Pram. Belum menuntaskan Tetralogi Buru, saya masih berutang membaca Rumah Kaca. Buku pertama, Bumi Manusia, saya baca dengan susah payah di halaman-halaman awal. Butuh tekad, sekadar menyederhanakan kata ‘perjuangan’, untuk memahami halaman-halaman awal novel itu. Setelah lewat beberapa halaman yang berat itu, toh novel itu begitu nagih untuk dibaca tuntas.

Saya tak sedang ingin berbicara soal novel Bumi Manusia yang hendak difilmkan oleh seorang sutradara yang entah membaca atau tidak karya itu. Saya hanya tetiba ingat pada sebuah kalimat dalam novel tersebut. Saya lupa, barangkali Jean Marais yang menyampaikannya kepada Minke, atau entah siapa. Line yang terlalu banal, barangkali, tapi saya sedang tidak peduli.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang membuntutinya.

Saya telah melewati masa-masa pahit dan traumatik yang membikin saya berpikir sebaiknya tak usah jatuh cinta. Barangkali itu adalah akumulasi rasa takut yang cenderung saya hindari. Takut kecewa dan mengalami luka seperti orang-orang terdekat saya.

Ibu, kakak, kakak ipar, teman-temant erdekat. Mereka semua mengalaminya. Saya sudah cukup banyak melihat mereka berkeluh kesah dan menangis, kadang sampai tersedu sedan. Dan kocaknya saya menjadi manusia yang belaga kuat ketika dihadapkan pada kerapuhan mereka. Saya mendengarkan dan menampung susah hati mereka, saya bilang saya ada di sisi mereka. Tak selalu memang, tapi mereka boleh mencari saya jika ingin dan perlu.

Orang-orang yang melihat sisi kuat saya boleh jadi tak tahu atau sedikitpun menyangka, ada malam-malam yang saya habiskan dengan berurai air mata. Mereka tak tahu kalau saya justru rapuh dan tak lebih tangguh.

Hanya pada satu orang saya kerap kali meluapkan perasaan apa adanya. Tertawa dan menangis. Meluapkan perasaan yang kerap kali saya sembunyikan di hadapan orang-orang lainnya.

Dia acap bilang, jangan saya mudah menangis. Namun saya sering tak bisa menahan. Mungkin dia memandang saya begitu cengeng, rapuh, lemah. Tak tahu apa yang bikin saya tidak enggan menunjukkan diri apa adanya. Dia bisa melihat saya, tak utuh memang, tapi sebagian besar.

Saya telah ada di titik dimana saya tak takut lagi binasa. Saya tak peduli, kalau toh kebinasaan memang selalu membuntuti perasaan cinta yang tumbuh dalam hati manusia. Manusia tak selayaknya hidup dengan rasa takut. Hidup hanya sekali. Cinta, juga rasa sakitnya, haruslah disyukuri. Dirayakan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

 

Advertisements

Mediokritas dan Zona Nyaman

Hari ini saya putuskan menarik diri sejenak dari segala urusan pekerjaan. Saya belum membaca kabar terkini melalui portal berita tempat saya bekerja, juga belum melihat apa yang sedang ramai dibincangkan di media sosial. Saya juga izin kelas Jumat karena lagi-lagi dilanda sakit kepala, seiring flu dan demam yang lumayan bikin kesal.

Saya paksakan membuka laptop meski kerusakan layarnya sudah pada level yang bikin sakit mata. Ah, betapa rindu saya untuk menulis sesuatu. Saya rasa enam bulan belakangan ini sudah cukup membuat saya kering kerontang, hidup hanya sekedar menjalani rutinitas, barangkali kehilangan hasrat yang menggebu akan sesuatu yang dulu-dulu. Waktu dan tenaga hanya habis terserap untuk pekerjaan. Sedikit waktu membaca, menonton film, minum kopi, apalagi menulis hal-hal di luar berita.

Maka, izinkan saya sejenak mengambil jarak. Saya selalu percaya ruang sepi seperti ini penting dan berarti. Bagaimanapun, saya perlu memikirkan kembali apa yang tengah saya jalani, ke mana saya mau menuju, mau jadi apa esok dan seterusnya.

Dua bulan belakangan, yang paling menghantui saya adalah mediokritas. Kemandekan berpikir, berupaya, hidup dengan bergelora, bahkan dalam melakukan pekerjaan yang saya cintai. Dan kocaknya saya beralasan karena tak cukup ada tekanan, tak cukup ada arahan yang jelas, ketidakpastian setiap hari, terlempar ke sana kemari tanpa punya waktu untuk benar-benar memahami sesuatu. Juga lingkungan yang menyebalkan.

Seorang teman bilang jangan mencari kambing hitam. Namun bukankah kitab suci pun menulis bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik? Ah, juga pola pergaulan yang satu itu lagi. Dalam pekerjaan ini, ‘perlapakan’ mungkin menjadi bukti seseorang diakui keberadaannya di lapangan, diterima dalam sebuah kelompok pergaulan, dan dengan demikian bisa saling meminta tolong. Jujur saja, ini sebuah kebiasaan yang saya takutkan bakal bikin saya malas.

Saya ingat cerita tentang seorang wartawan lepas–dulu ia wartawan di tempat saya bekerja. Saya mendengar dia banyak dibicarakan oleh sesama rekan; tentang bagaimana ia tidak disukai karena punya cara kerja yang berbeda. Bagaimana dia selalu bergerak sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Terdengar egois dan tidak mungkin dikerjakan di era penuh persaingan dan menuntut serba cepat sekarang ini. Namun toh, saya akui dia wartawan yang hebat. Dia berhasil lepas dari mediokritas yang menjerat banyak orang.

Zona nyaman memang membahayakan. Barangkali itu hal memabukkan keempat selain alkohol, pujian, dan jatuh cinta. Dan barangkali, saya sedang mabuk-mabuknya sekarang. Bukan oleh alkohol dan jatuh cinta–meski saya memang jatuh cinta–tapi karena dua hal lainnya.

Saya seharusnya berjaga dan tak lengah oleh zona nyaman. Saya seharusnya ingat bahwa apa-apa yang saya peroleh seumur hidup tidak datang dari rasa nyaman. Semua datang dari rasa sakit dan tangis juga lelah. Kakak saya bilang, rasa nyaman hanya akan membuatmu berhenti berikhtiar. Kalimat ini saya ingat sesaat sebelum masuk kuliah dan menjadi penguat ketika hal-hal yang tak mudah menimpa.

Rasa sakitlah yang membuat saya berpikir dan menyadari banyak hal. Kesadaran mungkin saja lahir dari privilege dan akses terhadap pengetahuan. Namun bagi saya, ia lebih seperti kemarahan akan hal-hal yang tidak seharusnya demikian adanya. Privilege dan akses terhadap pengetahuan tidak datang ujug-ujug dengan mudahnya. Saya tidak hidup seperti Simone, Kartini, atau Camila Vallejo.

Namun, saya menikmati hidup yang saya jalani, prakondisi-prakondisi yang membentuk saya, dan hal-hal yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Saya hanya ingin hidup sepenuh-penuhnya dan lepas dari mediokritas. Bahkan kalau hidup ini sebuah absurditas, ya tidak apa absurd se-absurd-absurdnya! Jangan absurd yang medioker!

 

PS: Kebiasaan menulis berita, saya hampir saja menulis nama lengkap sebagai byline di akhir tulisan 😦

Toko Buku Tua

Saya sedang menunggu sesuatu siang itu, ketika akhirnya memutuskan masuk ke sebuah toko buku tua (tertulis di papan nama, Toko Buku Langka dan Lawas) di depan terminal Pinang Ranti. Didera rasa deg-degan yang sangat, saya menaruh ponsel di dalam tas lalu melihat-lihat buku yang ada. Saya bertekat menemukan buku yang bagus untuk saya baca di situ sekalian membunuh waktu.

Tak berapa lama, saya menemukan buku kumpulan dongeng karya Beedle dimana ada cerita tentang Kisah Tiga Saudara yang memiliki relikui kematian di dalamnya. Penggemar Harry Potter tentu tak asing akan cerita yang termuat dalam buku pamungkas serial ini. Beedle adalah juru dongeng yang direka oleh mahajuru dongeng dalam persihiran Hogwarts, siapa lagi kalau bukan J.K. Rowling. Buku tersebut masih bagus. Di pojok kanan atas tertempel label bertuliskan angka 35. Maksudnya harganya 35 ribu. Saya sungguh ingin membeli buku tersebut, mungkin untuk koleksi pribadi atau diberikan pada seorang teman sesama penyuka Harry Potter. Namun, uang sudah menipis dan saya benar-benar harus berhemat. Semenipis apa? Cukup parah sampai saya harus mikir untuk beli buku seharga 35 ribu 🙂

(Minggu sebelumnya saya membeli buku di lapak online dan belum terbaca sama sekali. Saya ingat kata seorang teman saya di Jogja, tentang pacarnya yang penggila buku. Meski buku yang dibeli bagus, meski membaca itu penting, dalam praktiknya kita bisa menjadi sangat konsumtif. Begitu kata teman saya ini. Lamat-lamat saya ingat.)

Meski begitu, saya membaca habis dongeng-dongeng Beedle ini sambil duduk di toko buku itu. Syukurlah ibu pemilik toko tidak menegur atau mengusir saya. Ia ada di sisi lain toko, juga duduk membaca buku sambil sesekali melayani pembeli.

Habis membaca buku tersebut, saya berkeliling lagi melihat buku-buku lain. Saya tak bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian dari ponsel yang sudah sengaja saya letakkan di dalam tas. Sesekali saya meraihnya, mengecek barangkali ada pesan atau surel. Belum juga. Saya cukup lama tak menengok ponsel ketika akhirnya menemukan kumpulan cerita pendek berjudul Auk, karya Arswendo Atmowiloto.

==========================================================================

Ini adalah tulisan yang tersimpan dalam draft blog ini. Sebuah tulisan yang tidak selesai. Sebuah tulisan yang tampaknya saya buat ketika masih dalam penantian. Ketika membuka lagi draft ini, saya tidak ingat lagi apa yang ingin saya tulis ketika itu.

Menakjubkan memang bagaimana ingatan bekerja. Ia menyeleksi yang penting dan bermakna, lalu menyimpannya baik-baik dalam memori, serta membuang yang lainnya.

Ah tapi toh, judul tulisan ini mengingatkan sedikit apa yang ingin saya tulis ketika itu. Mungkin saya ingin menulis tentang toko buku tua dan aroma debu, serta tumpukan yang perlu dibongkar untuk iseng-iseng barangkali ada yang menarik. Toko buku tua adalah tempat di mana kita tak pernah benar yakin apa yang kita inginkan untuk kita temukan. Memasuki toko buku tua barangkali ibarat berjalan ke ketidaktahuan, ke suatu ruang asing yang penuh kejutan.

Barangkali. Seperti halnya rasa.

Mungkin rasa yang menyenangkan adalah ketika kita ibarat memasuki toko buku tua. Tanpa harapan berlebih menemukan apa yang kita inginkan. Namun, tanpa sadar menemukan yang menyenangkan.

Sekali Lagi Sepi dan Hal-hal yang Berjubel di Kepala

Saya kerap diserang pikiran-pikiran rumit yang sulit diurai. Sering merasa marah dan sedih dan bingung tanpa tahu kenapa. Barangkali sebenarnya tahu, tapi saya terlalu enggan melakukan dekonstruksi demi tahu prakondisi-prakondisi seperti apa yang bikin saya jadi begini.

Kota ini membuat saya jadi lebih pemarah. Jadi lebih sering mengumpat. Saya takut kehilangan diri di sini. Saya kawatir terbawa arus dan menjadi pragmatis. Saya takut kehilangan apa yang saya percaya dan yakini, lalu dengan mudah maklum pada semua yang seharusnya tidak demikian adanya.

Barangkali yang ironis adalah bahwa saya tahu perasaan macam itu muncul tepat sebelum pindah ke sini. Ketika sebenarnya kehidupan di kota yang dulu itu sedang berada di titik yang sangat menyenangkan, dengan teman-teman dan semangat komunal yang mendatangkan harapan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil, bahwa perjuangan adalah soal ketekunan memelihara semangat bersama, bahwa ruang-ruang alternatif sebenarnya telah dan akan terus ada. Bahwa cinta barangkali juga bisa bertunas dan tumbuh di sana.

Lalu saya merasa dicerabut tiba-tiba. Sebagian diri tertinggal di sana, tertahan rasa suka pada jalan dan udara dan orang-orang yang mengesankan.

Sepi ini nyata. Kesendirian ini juga.

Dikelilingi banyak orang barangkali sama artinya dengan tak bersama siapa-siapa. Seperti tampaknya bisa melakukan banyak hal tapi sebenarnya sama sekali tak berbakat betul.

Kehadiran saya di antara banyak orang dan sebaliknya kadang terasa semu, seperti cuma ada tanpa mengalami, seperti memandang selintas lalu tanpa benar-benar melihat. Seperti sekedar mendengar/didengar, bukan mendengarkan/didengarkan.

Seperti bisa bersandar sesaat tapi tiap waktu bisa hampir jatuh tiba-tiba.

Saya sudah sejak awal bertanya-tanya, kota ini akan mengubahku menjadi apa? Denyut kota ini tentu saja menggoda, merayu kita menikmati degupnya yang gempita, barangkali dengan tawa karena mode dan pizza dan kopi atau alkohol atau apapun yang bisa terbeli.

Hanya saja, bahagia bukan sesuatu yang gampang dibeli. Pun ia bukan barang gadaian yang bisa ditebus kalau kita sudah punya uang. Ia, buat saya, hanya dapat dirasakan ketika jawaban akan apa yang esensial sudah didapatkan.

Apa yang esensial? Dari keseharian, kesibukan, pekerjaan, kesuksesan, perjalanan, atau bahkan keberadaan?

Kenapa Kita Cemburu Pada Masa Lalu?

Kenapa kita cemburu pada masa lalu?

Saya tidak bisa berhenti memikirkan pertanyaan ini selama beberapa hari. Ini bermula dari cuitan seorang teman di Twitter yang bertanya pada followers-nya, “Lebih cemburu pada yang mana, mantannya pacar atau pacar barunya mantan?”

Kontemplasi pun bermula dari pertanyaan spesifik tersebut, yang lingkupnya memang perihal cinta-cintaan. Saya dengan bodohnya mulai menelisik diri sendiri, meski tahu bahwa mengurai kesadaran itu menyebalkan. Hal-hal yang sebenarnya sudah otomatis, terjadi di subconscious line, dan terasa ‘natural ya memang begitu adanya dari sananya’, ternyata toh terjadi karena prakondisi-prakondisi yang tersebar dalam sejarah kecil kita masing-masing. Kadang apa yang kita temukan perih dan pedih, dan mengurainya ibarat menabur garam pada luka.

Jadi, saya lebih cemburu pada yang mana: pacar barunya mantan atau mantannya pacar? Dalam konteks waktu yang spesifik, yaitu sekarang, saya punya mantan tapi tidak punya pacar. Namun setelah ditanya, dipikir, dirasa, dan ditimbang, ternyata saya tetap cemburu pada yang telah lalu daripada yang kini ada atau yang akan datang. Cemburu. Bukan lebih atau lebih sering. Dus, saya terintimidasi bukan saat melihat mantan pacar sudah bersama orang lain, tetapi justru dengan kenangan pacar bersama mantannya. Pada setiap artifak yang terlacak, pada nama dan cerita yang terucap, pada ingatan yang memang mengendap.

Saya ingin menelisik bukan hanya masa lalu pacar, tetapi juga tentang masa lalu itu sendiri.

Yang unik dari masa lalu, menurut saya, adalah bahwa kita sebenarnya tak pernah benar-benar mengetahuinya dengan gamblang. Bahkan mungkin kita tidak benar-benar pernah mengalaminya; hanya separuh saja atau seberapun tapi tak pernah penuh. Dengan kata lain, masa lalu tak kurang misterius ketimbang masa depan. Seperti halnya fakta sejarah yang punya banyak versi narasi, masa lalu mungkin carut marut. Tinggal dari keinginan siapa ia dikisahkan. Lalu yang tertinggal yang bisa kita lakukan hanya memberinya makna, agar ia tak sekedar menjadi peristiwa tak berjiwa.

Saya teringat pada film Midnight in Paris yang disutradari Woody Allen. Dalam film tersebut, sang tokoh utama yang berkeliaran di Paris pasca tengah malam dapat pergi ke masa silam (time travel) dan bertemu dengan para seniman besar masa lampau yang ia idolakan: Fitzgerald, Hemingway, Dali, Picasso, dan lainnya. Gil Pender, nama sang tokoh, berpelesiran dari abad 21 (tahun 2010) ke abad 20, masa di mana para seniman tersebut berjaya. Yang menarik dari film ini yaitu bagaimana sebuah generasi ternyata terjerat romantisme dengan era yang sudah lewat. Gil memuja semangat zaman 1920-an dengan segala kecemerlangan para senimannya, sampai ia mendapati bahwa Adriana—kekasih Picasso—merasa bosan dengan era tersebut dan beranggapan 1890-lah golden age yang sesungguhnya. Lebih jauh lagi, seniman 1890-an yang Gil dan Adriana temui, seperti Henri de Toulouse-Lautrec dan Paul Gauguin menganggap semangat generasi zaman itu ‘kosong dan kehilangan imajinasi’. Dan golden age versi mereka adalah masa Renaissance!

Gil jatuh cinta pada Adriana. Adriana pun menyukai Gil. Namun Adriana memilih tinggal di tahun 1890 dan Gil memutuskan kembali ke masa kini. Saya telah bertemu beberapa orang; kami adalah Gil di suatu waktu dan Adriana di waktu lain.

Saya kadang juga berandai-andai hidup di era yang sudah lewat; di masa kolonial maupun pascakolonial. Misalnya, saya sering membayangkan hidup di zaman saat trem masih menjadi alat transportasi yang keren, saat Puncak masih berupa hutan yang belum diperkosa vila dan bantaran Ciliwung tidak meluap serta belum dibeton. Barangkali saya bisa cukup beruntung mengenal sang bohemian Chairil Anwar, dekat dengan sosok seperti Trimurti, atau menjadi kroco apapun itu asalkan terlibat dalam perjuangan. Kalau hidup pada masa demokrasi terpimpin, akankah saya ikut dalam rombongan pemuda yang menggulingkan Orde Lama, melihat orasi Soe Hok Gie dan yang lainnya? Atau kalau hidup di era Orde Baru, bagian apa yang akan saya ambil dalam perjuangan Reformasi? Saya seringkali larut dalam romantisme ini itu, padahal toh itu cuma perkara waktu, perkara masa. Yang terguling dari setiap masa hanyalah figur, bukan ketidakadilan itu sendiri. Perjuangan masih panjang dan abadi.

Lantas sebenarnya, romantik atau cemburu yang menjerat kita pada masa lalu? Bagi saya keduanya hadir berbarengan, sebagai kontradiksi yang niscaya. Seperti halnya saya menyadari bahwa apa yang saya cela juga saya dambakan. Bahwa yang ingin saya tinggalkan sebenarnya ingin saya dekap erat. Hiruk pikuk media sosial, kesuksesan, kebahagiaan—dalam standar dunia, juga cinta.

Maka sampai di sini, saya benci ketika sampai pada pengetahuan dan kesadaran akan siapa atau apa yang lebih saya cemburui. Perihal mantan bagi saya berkaitan dengan ingatan, dan siapa  bisa menghapus ingatan? Di masa ini, ingatan dan saya tinggal bersama, tanpa saya tahu akankah suatu saat nanti kami saling menyiksa.

Upaya saya mengurai pertanyaan ‘masa lalu’ ini agak terbantu usai menelusuri laman mesin pencari Google. Sebuah tulisan di The Guardian spesifik membahas tentang lovers past.

Whatever it is, it is a feeling more complex than mere jealousy—it is fascination mingled with curiousity mingled with dread.

[……]

…it’s the unknown that scares and tempts us. What exactly do we fear from our partner’s past?

Namun pada bagian akhir justru tertulis,

Knowing everything about someone can be dull, and there’s nothing more antithetical, more detrimental to love than dullness. Maybe we all need that fear, that last vestige of the unknown to keep us guessing, keep us trying, keep us together.

Dalam konteks lebih general, to keep us alive. Mungkin kita memang perlu hidup dari ketidaktahuan. Sembari mencari tahu. Sembari merayakan cemburu.

 

Post-scriptum:

Namun apa sih yang benar-benar kita tahu? Dari orang lain, dari dunia ini, bahkan dari diri kita sendiri?

the-false-mirror.jpg
The False Mirror (1928), Rene Magritte

“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Tentang Teman dan Hasrat Menjadi Liyan

Menyebalkan sekali rasanya dipaksa untuk meredefinisi beberapa hal. ‘Paksaan’ tersebut datang ujug-ujug sampai saya tak bisa mengelak dan lebih baik cepat menuliskannya.

Pertanyaan tentang hasrat sudah cukup lama mengganggu pikiran saya belakangan ini. Memuncak ketika tengah ada di dalam ruang perpustakaan jurusan di kampus, beberapa saat sebelum yudisium pasca sidang akhir studi. Bukannya deg-degan, saya justru terpikir tentang siapa sajakah teman yang ada di luar? Tepatnya, siapa saja teman-teman dekat yang datang dan akan ikut selebrasi?

Selebrasi itu sendiri jadi momen yang cukup sering saya cela–baik dalam hati maupun secara langsung dalam beberapa obrolan. Suasana riuh, mars jurusan yang dinyanyikan, ucapan selamat yang kadang terasa asing diucapkan atau didengar, bunga-bunga, balon, selempang, hadiah. Saya mencelanya sebab selebrasi telah menjadi satu momen rutin yang menegaskan jurang ketidaksetaraan dalam dunia ini. Antara yang elit dan biasa saja. Lingkaran pertemanan yang luas+banyak dan yang tidak.

Masih jelas teringat obrolan dengan seorang teman menjelang akhir tahun lalu.

Tentu ada bayangan dan harapan tentang siapa teman-teman yang datang. Saya memang tak memberi tahu banyak orang. Perjalanan untuk sampai di titik tersebut sudah cukup melelahkan, sampai menggerus keinginan untuk pengumuman ke sana kemari, eh lo lo pada dateng dong besok gue mau sidang! 

Plus, entah kenapa selalu ada imaji bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi. Meski telah berlelah-lelah mengerjakan penelitian, menekuni disiplin etimologi dan metodologi, mempelajari critical discourse analysis dari sumber asli yang tentu tidak sepraksis apa yang dituliskan Eriyanto dalam bukunya yang banyak dirujuk itu, dan telah terlibat dalam dimensi sosiologis masalah yang saya teliti, pikiran bahwa saya mungkin salah dan gagal tak bisa enyah.

Selebrasi hari itu sepi. Jauh dari hingar bingar yang saya cela. Hingar bingar yang sebetulnya mengalienasi setiap orang dalam riuh ucapan dan foto bersama yang kemudian diunggah demi menjadi bagian dari masyarakat tontonan.

Sepi dengan ketiadaan teman-teman yang saya pikir akan datang.

Saya hanya menyadari satu hal. Bahwa ternyata dalam saya ada hasrat tersembunyi dalam ketidaksadaran. Hasrat untuk menjadi liyan yang seringkali saya cela dan tertawakan dalam pertanyaan akan esensi dan eksistensi. Sebuah id atas ego. Sebuah pertanda bahwa saya harus mulai menekuni psikoanalisis Lacanian demi menjawab kelindan pertanyaan dalam kepala.

Ada satu hal yang selayaknya saya syukuri. Teman yang hadir kala itu adalah orang-orang yang dengan mereka sebuah relasi pertemanan telah seringkali diuji. Dan saya sangat berterima kasih untuk ke-Ada-an mereka saat itu. Sebuah kualitas yang saya yakin lebih awet dari waktu yang dimiliki bunga sebelum layu, balon sebelum pecah/habis udara, atau makanan/minuman yang akan habis/basi.