Lengang

Aku Berada Kembali

Chairil Anwar

Aku berada kembali. Banyak yang asing:

Air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang

Serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

Rasa laut telah berubah dan kupunya wajah

Juga disinari matari lain.

Hanya

Kelengangan tinggal tetap saja.

Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;

Lebih lengang pula ketika berada antara

Yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling

Ditarik gelisah yang sebentar-sebentar

Seterang

Guruh

(1949)

 

Kelengangan tinggal, menjadi sisa dari setiap pencarian. Ke utara, barat, timur, selatan, bingung dan bising seperti angin berpusing. Pada akhirnya, yang tersisa hanya kesadaran bahwasannya tetap tak menggenggam apa-apa.

Tiba-tiba saja aku di sini. Entah ini kerendahan hati, atau arogansi, ketiadaan rasa syukur, atau entah apa. Aku merasakan kekosongan yang sangat di ujung setiap pencarian ini. Aku lelah dan letih. Oleh benci dan caci maki, yang kutuai entah berapa kali. Ini zaman yang kejam, ketika sekat antara apa yang publik dan privat tak lagi jelas, ketika teknologi memberi kemudahan bagi siapapun untuk menyebarkan ujaran kebencian, atau ketika penghakiman dapat dibenarkan karena orang dengan mudahnya menyederhanakan pengalaman manusia.

Kosong dan sepi. Bukan ini yang kucari. Memang bukan. Bukan gempita kemenangan, atau kecewa atas ketidakmenangan. Bukan perayaan. Bukan sorak sorai atau ucapan selamat. Bukan pengakuan atas keberadaan. Bahwasannya Sartre menyatakan, eksistensi mendahului esensi, aku menjadi deviant dengan terus bertanya sebaliknya.

Barangkali, aku menginginkan sunyi yang mendukungku berdiam. Sunyi yang membuatku berefleksi, mempertanyakan kembali semua pencarian dan perjalanan dan pertanyaan dan tujuan dan jawaban dan esensi kehidupan. Aku lelah dengan banjir perbincangan dan segala negatif yang menyebar dan teknologi dan media sosial dan segala modernitas yang menggerus banyak hal yang dulu terasa nikmat dan bijak dan arif dan lokal dan kini kedisiplinan tergerus oleh segala kemudahan yang menyesatkan. Mentalitas berubah dan bergeser dan hancur dan di mana kita yang selayaknya menjadi manusia? Bukan homo homini lupus alias manusia yang menjadi serigala untuk manusia lainnya. Ironi bahwasannya merasa hebat padahal toh sebenarnya sedang silau akan sinar lampu yang menipu. Bukan matahari atau bintang yang memang sumber cahaya sumbangan semesta.

Aku tidak tahu bagaimana caranya kembali pada hidup yang terasa mudah dan menyenangkan. Mungkin semenjak apa yang aku cintai menjelma tuntutan. Mungkin aku lebih baik menjadi kelas pekerja yang berusaha mapan melakukan semua kecintaan sonder beban sonder tuntutan dan bisa membangkang kapan saja jika tak sesuai nurani atau tak ada kedamaian. Memang aku hanya bidak catur pion yang diatur-atur, tapi jika tak cukup punya kekuatan atau dukungan untuk melakukan perubahan bukannya memang toh lebih baik berada di luar kekuasaan, daripada harus menjadi munafik dan hipokrit atau sebaliknya menjadi deviant yang diasingkan.