Resolusi yang Lewat dan Ketika Sebaiknya Mulai Berdiam

Sore ini segar, dengan gerimis kecil dan angin sejuk. Langit masih terang tapi lampu-lampu jalanan mulai menyala. Bersaing terang sebelum sendiri temaram. Aku berjalan melewati gerbang kampus yang beberapa pekan lagi tak cuma diperuntukkan pejalan kaki. Ah, kelabilan pimpinan memang. Setelah menghabiskan dana ratusan juta untuk membangun jembatan yang disebut akses hijau, padahal toh tak ada hijau-hijaunya, tak berapa lama jembatan jalan itu ambles tak kuat menopang ratusan kendaraan yang lalu lalang tiap harinya. Akhirnya dibukalah kembali gerbang yang lama disekat-sekat dan hanya menyisakan jalan-jalan kecil untuk dilewati. Gerbang yang banyak menjadi tempat mencari nafkah para pedagang: pedagang tissue, tali sepatu, jepit rambut, nasi uduk 5ribu, jus, es krim tusuk, hingga angkringan di malam hari. Tak lama lagi, entah ke mana mereka akan bermigrasi. Sekitar seratus meter dari gerbang tersebut, biasanya orang-orang menunggu Damri, tujuan Dipatiukur, Elang, Tanjungsari, atau babon Bandung-Cirebon. Mereka pun pasti terdampak, lalu dipaksa hijrah.

Tapi aku sedang malas membahas hal-hal ini. Gempita yang belakangan menuai dinamika dan polemik kini hilang seperti tak bersisa: seperti uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap. Orang-orang begitu cepat terpancing tapi begitu cepat pula lupa.

Aku butuh liburan. Bukan liburan dalam arti yang ada di kepala banyak orang, seperti ke pantai, gunung, atau tempat wisata lainnya. Liburan bagiku adalah momen berdiam.

—-

Malam tahun baru lalu, aku tidur sejak pukul 22.00. Melewatkan pergantian tahun, kembang api, atau jagung bakar yang mungkin ditawarkan tetangga. Tetangga sekre, maksudku. Tak seperti biasanya, aku ogah menggunakan fasilitas wifi untuk berselancar di jejaring maya. Aku membuka cerpen Kompas Minggu yang belum sempat kubaca, tapi pun akhirnya memilih menelantarkannya, merebahkan diri dan menutup mata. Terbangun 12 jam kemudian.

—-

Apa yang menarik dilakukan menjelang pergantian tahun? Barangkali menyusun kaleidoskop atau resolusi. Sebuah meme di 9gag menyebutkan, “New year, new me. Stop that bullshit”. Kurang lebih seperti itu.

Barangkali kaleidoskop dan resolusi telah begitu mainstream dan usang. Resousiku tahun lalu pun banyak tak kesampaian. Aku mendapat penggantinya, tentu saja. Namun itu menjadi sebuah kontemplasi akan ketidakkonsistenan. Konsisten untuk tidak konsisten. Seperti penggalan naskah monolog “Mayat Terhormat” karya Agus Noor yang membawa GSSTF ke Palembang November lalu. Entah, sepertinya Palembang tak pernah menjadi resolusiku tahun lalu. Bukan aku tak mensyukurinya, bukan. Hanya saja, ada begitu banyak arah yang berbelok, entah memang begitu jalannya ataukah ada yang membelokkan tanpa kusadar.

Satu resolusi yang kuingat, aku ingin setiap bulan setidaknya mengirimkan tulisan ke media massa arus utama. Sama sekali tak kesampaian. Hanya ada satu tulisan di Kompas Kampus, itu pun karena aku dan Niko diminta menulis oleh Cik Suly. Ada beberapa tulisan lainnya hasil magang. Ah, tapi kan bukan begitu maksudnya.

Banyak yang tidak tercapai 🙂

—-

Pagi tadi, aku chat dengan Ivany. Kutulis demikian:

“Mungkin harus lebih banyak merenung dan belajar. Lebih banyak diam, mendengarkan, mengurangi berbicara. I’ve been thinking bout it these recent days”

Kata Vany, resolusi kami hampir sama. Mungkin itu yang disebut kedewasaan pikiran.

Entahlah, aku lelah. Mungkin aku terlalu banyak mengoceh tanpa berbuat apa-apa. Aku merasa kosong dan telah sombong. Arogan demi–bertahan hidup–dalihku. Aku tak butuh lagi arogansi, aku butuh kerendahan hati. Kasih. Dan seorang Pribadi untuk kembali.

—-

Aku senang telah rampung membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Juga Murjangkung karya AS Laksana. Semenjak aku mengenal satu orang itu, aku menyesal tak membaca cukup banyak buku. Aku isin bahwasannya aku tahu cuma hal-hal permukaan. Aku cuma tahu nama-nama Sartre, Beauvoir, Kristeva, Lacan, Camus, dsb tanpa pernah benar-benar paham. Aku berjanji waktu-waktu ini akan kugunakan untuk menyelami mereka. Bukan untuk menarik kembali simpatinya, bukan untuk meruntuhkan pemikiran “ternyata aku tak sesuka itu membaca” yang mungkin kadung melekat di otaknya. Bukan. Bukan untuknya. Dia cuma membukakan padaku cakrawala ilmu. Aku sudah hampir lupa momen nonton Everest atau The Martian kala itu. Pun ketika kami ngopi hingga pukul 2 pagi tak menjadi sepahit kopi yang kuminum tanpa gula kalau diingat kini. Biasa saja. Aku berterima kasih padanya. Mungkin aku salah, tapi bagiku ia hanya sedang tersesat dan suatu saat akan pulang: kepada puan bernama serupa diriku yang ada di sebuah kota menyenangkan sana.

—-

Aku menenteng dua buku lain: Wajah Terakhir karya Mona Sylviana, seniorku di Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film, dan Feminist Thought dari Rosemarie Putnam Tong. Siapa tahu, aku harus menyusun usmas terlebih dahulu sebelum memperoleh tempat jobtraining. Meski sepertinya aku harus menyusun ulang proposal seminar yang dangkal itu, atau mungkin berganti topik demi cepat waktu pengerjaan, materi ini sepertinya tetap menyita rasa ingin tahuku. Sebab, segala perjuangan perempuan, mengingatkanku pada sosok Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s