Growing Up with The Little Prince

“Growing up is not a problem. Forgetting is.” -The Little Prince

Semalam saya menonton The Little Prince, dan menghabiskan beberapa jam setelahnya untuk membaca versi buku cerita karangan Antoine de Saint Exupéry tersebut. Filmnya sendiri disutradarai oleh Mark Osborne. Meski pecinta bukunya banyak yang kecewa dengan bagaimana sutradara Kung Fu Panda ini mengeksekusi cerita, saya kadung susah beranjak dari film tersebut. Filmnya kebak alegori, bertabur metafora, pun banyak kalimat yang tanpa dibedah pakai analisis wacana kritis pun rasanya bisa berlaku dalam kondisi yang general. Apalagi bukunya. Saya senang mulai betah baca versi PDF, untungnya memang tak begitu panjang.

Apakah Exupéry sebenarnya bercerita tentang kisah cinta atau bagaimana? Sepertinya Din memilih untuk menerka demikian. Kisah cinta segitiga antara Pangeran Kecil, Mawar, dan Rubah. Sayang Dijavu tidak ada di sini, sepertinya dia pernah membahas buku dan filmnya sekaligus. Saya sendiri sedang enggan menelaah lantaran masih kepikiran dengan ide besar cerita tersebut.

“The grown-ups are very odd.”

Saat di satu sisi diri saya pengen dewasa, sisi lainnya mau tetap seperti anak-anak. Menjadi dewasa barangkali memang berpotensi mengikis ingatan masa kecil kita. Ada yang menjadi samar-samar, ada yang sirna begitu saja, tapi ada juga yang melekat. Seringnya, dan umumnya, yang melekat justru yang paling menyakitkan.

Kalau hari ini sudah terlalu menyakitkan, kenapa harus mengenang yang menyakitkan dari masa lalu?

—-

Saya kemarin ke gereja. Bangun pagi-pagi karena alarm dan telpon dari Mama. Menyenangkan rasanya bisa bangun pagi di tengah liburan. Saya berusaha fokus mendengarkan homili ketika ingatan melayang ke suatu malam di kampung halaman. Waktu itu mati listrik sejak sore. Kami menyalakan lilin untuk penerangan. Seorang frater berkunjung ke rumah. Kalau tidak salah saya berkenalan dengannya dalam misa minggu sebelumnya di gereja. Bagaimana akhirnya dia berjanji akan berkunjung? Saya gagal mengingat. Saya masih sekolah dasar pula.

Dia memuji nilai rapor saya, yang dia lihat dengan bantuan cahaya lilin. Saya, frater, dan Mama mengobrol bertiga sebelum dia akhirnya berpamitan. Saya lupa apa saja yang kami obrolkan. Itu sudah belasan tahun silam. Kalau lancar, dia pasti sudah menerima sakramen Imamat beberapa bulan atau tahun setelah kunjungan itu. Barangkali dia kini tengah mengabdi, masih setia dengan panggilan hidupnya. Barangkali sudah berpaling. Barangkali, ah, banyak kemungkinan.

Entah apa maksudnya ingatan saya kembali ke sana. Mungkin hanya pengingat untuk kembali mendoakan orang-orang dan kebaikan dari masa silam.

—-

Saya bukan orang yang tekun membina hubungan dengan teman-teman lama. Saya hampir tidak berkomunikasi dengan teman-teman SD dan SMP kalau tidak secara kebetulan berteman di Facebook. Beberapa mungkin mengira saya sombong. Beberapa mungkin mengira saya kenapa-kenapa karena tidak pernah pulang. Saya cuma sedang menata diri. Meski tak memungkiri konsep pulang sudah begitu kabur buat saya. Saya bisa pulang ke mana saja, bisa ke Jakarta, bertemu Mama Papa dan kakak di sana. Atau ke Jatinangor, atau ke manapun saya merantau, perantauan sekaligus tempat pulang. Syukurnya, beberapa teman SMA masih berkorespondensi lewat Facebook, Instagram, atau Whatsapp. Ya, memang berbeda.

Tapi bukan berarti saya melupakan teman-teman masa kecil. Saya rutin menanyakan kabar mereka pada Mama. Siapa di antara mereka yang sudah lulus kuliah, yang akan menikah, yang baru saja melahirkan, yang pulang dari merantau dengan sukses, barangkali pacarnya masih yang dulu, atau ternyata dipinang tetangga dekat? Sesekali mereka pun menanyakan saya. Salam balik buat mereka.

—-

Pertama kali dalam hampir empat tahun, saya begitu pingin pulang. Terlepas dari itu saya pun harus mengurus KTP yang akan habis masa berlaku Mei mendatang. Mungkin memang saya sebaiknya pulang. Biar orang-orang menanyakan kabar dan kapan saya lulus (?) dengan berbagai cara yang kebanyakan menyebalkan. Semata agar saya merasa annoyed, lalu berikhtiar benar menamatkan kuliah. Hehe. Rasanya menyenangkan membayangkannya. Pun saya bisa berziarah ke makan kakek nenek, buyut, dan berkunjung ke sanak lainnya.Ya, saya ingin pulang. Seperti Pangeran Kecil ingin kembali ke asteroid B-612. Mungkin mawar yang saya cintai di rumah sudah tiada. Mawar yang selalu saya pikir bisa jadi tiket dan alasan untuk pulang. Dia sudah pergi ke pulau yang jauh.

Dia tidak tahu.

Bahwasannya saya mungkin bertemu Rubah, Ular, mawar-mawar lain, atau Aviator di perjalanan. Tapi saya tetap ingin pulang untuk dia.

“What is essential is invisible to the eye.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s