Hina, Asing, dan Pertemuan-Kedekatan-Perpisahan yang Bergantian

Maaf Semak Belukar, aku terus memutar video klip kalian, meski hanya kudengarkan tanpa menonton, sembari menulis cerita berkeluh ini. Barangkali aku tengah merasa hina dina dan terasing dari dunia. Atau sebenarnya karena semata ulasan tentang kalian membawaku jatuh cinta pada Camus yang kini tengah kuresapi. Dengan susah payah, tentunya.

Namun memang aku sedang merasa terlahir dan terlupakan. Lalu suatu perasaan yang akrab ketika aku kecil kembali menyelinap: rasa asing dan aneh dengan tubuh, akal, dan perasaan yang ada. Aku merasa begitu fana dan mudah hancur. Apa sih menjadi manusia itu? Bagaimana manusia ada? Pertanyaan-pertanyaan ini kembali menggelayuti meski banyak teori sudah digemborkan.

Aku tidak tahu bilamana perasaan dan pertanyaan itu muncul. Barangkali ketika hari-hari menjadi begitu berat dan aku merasa sendiri saja. Seringkali aku terbangun dari tidur dengan perasaan asing yang sukar diperinci. Bahkan ketika jari-jari tanganku menyentuh pergelangan atau lengan tangan yang lain, aku merasa begitu aneh dan asing. Setiap kali aku berusaha menjangkau Tuhan, sebagai entitas awal yang menjadikan segalanya ada. Setiap saat itu pula aku merasa tak sampai pikir.

Banyak teman kujumpai dari perjalanan ini–mungkin selama hampir empat tahun ini. Namun bukankah aneh jika di ujung perjalanan aku justru merasa tak menjumpai siapa-siapa. Barangkali memang tak banyak yang tersisa. Orang berbondong-bondong datang dan pergi. Sebagian dengan ucapan perpisahan, sebagian besar lainnya begitu saja hengkang. Tak ada yang salah dari pertemuan-kedekatan-perpisahan yang silih berganti. Hanya saja, aku dihinggapi rasa takut yang tak jelas akan apa.

Saya tidak takut akan sepi. Kadang berjarak justru membentengi diri dari ekspektasi dan kekecewaan. Ekspektasiku untuk mengakhiri masa studi ini dengan beberapa teman yang dapat saling menyemangati barangkali tinggal utopia.

Ada yang telah lebih dulu pergi. Aku banyak ditinggalkan, preferensi bergaul dengan mereka yang lebih dulu tiba ini mensyaratkan demikian. Tak apa. Mereka yang lebih dulu pergi sesekali menyapa, kembali berdiskusi, membagi cerita, menampung air mata. Mereka yang jauh kadang menjamah sakit dan luka yang menganga. Saya berterima kasih sekali untuk itu, syukur tak terkira.

Satu yang sangat saya suka dari film Fast and Furious yakni pernyataan Dominic Toretto yang beberapa kali ia tekankan.
“I do not have any friends, but a family.”

Barangkali terlambat untuk berharap, terlambat untuk meminta, pada Sang Entitas sumber segalanya, bahwa tak perlu banyak, sedikit tak mengapa, tapi saya ingin dikarunia saudara.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
Amsal 17:17

Terlahir dan terasingkan, tak lantas menjadi luka

Hanya karena berbeda, tak berarti hilang muka

Karena sempurna itu, hanya sebuah rencana

Karena sempurna itu, hanya sebuah bencana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s