Hal Terbaik

“Hal terbaik kadang datang justru di saat kita sudah mengikhlaskannya.” -Bunga

—-

Ibuku menelepon pagi itu dan menanyakan apakah aku sudah sarapan. Kujawab, aku sedang ingin berpuasa. Senin Kamis. Dia bertanya dalam rangka apa. Aku bilang, entahlah. Kata Ibu, berpuasa memang baik, prihatin. Dia sendiri sudah tidak kuat berpuasa. Aku juga tak yakin aturan apa yang kuanut saat itu. Bangun pagi, minum air putih secukupnya, kemudian baru makan lagi setelah adzan maghrib. Mungkin jadinya mirip puasa Muslim. Namun tanpa sahur. Ibu juga tak terlalu Kejawen, dia tak paham betul. Katanya, ada puasa ngrowot, makan umbi-umbian saja. Ada puasa mutih, makan nasi putih dan minum air putih saja. Aku harus mencari tahu akan ikut yang mana, tentu saja.

Namun, saat itu, aku hanya ingin. Ingin menahan apa yang biasanya tidak dapat kutahan. Minum kopi, makan berat atau makan cemilan, dan sebagainya. Juga menahan rasa cakap dan cukup diri. Karena tidak dua-duanya ada padaku.

—-

Sore itu, aku baru saja membuat janji makan sore (sekalian berbuka puasa) bersama seorang teman. Pukul 17.30. Sebuah pesan singkat masuk. Ada sorak girang dalam hatiku lantaran isi pesan tersebut yakni undangan untuk wawancara magang. Meski berusaha gegas, aku mencoba tetap tenang. Tak mau ada yang terlewat karena terburu. Kukabari Ibu dan kedua masku. Juga teman makanku, memundurkan waktu pertemuan agar aku dapat bersiap sekalian berangkat ke Jakarta. Ohya, sebenarnya keadaan cukup mengkhawatirkan lantaran siangnya bom meledak di kawasan Sarinah. Beberapa media yang tidak bertanggung jawab menyiar berita hoax hingga memicu kekhawatiran berlebih dari khalayak. Ah, kenapa mereka gemar sekali seperti itu?

—-

Wawancara berlangsung singkat. Pertanyaan standar yang justru tidak kusiapkan jawabannya. Lantas apa yang terucap ya apa yang tengah lewat di otak. Biarlah. Aku dan Bunga diterima dan diarahkan ke bagian dokumenter. Izinkan aku mengucap puji Tuhan.

Satu hal yang cukup tidak terduga. Beberapa waktu belakangan, aku seperti menyerah mengupayakan hal ini. Aku mendaftar ke tempat lain, dan menelepon bagian personalia yang lain tersebut tiap minggu. Yang ini justru sangat susah dihubungi. Aku mencoba mengikhlaskan saja. Siapa sangka, apa yang dilepaskan justru yang merangkulku lebih cepat, tepat di saat aku hampir terjerambab.

—-

Saya sedang takut berharap terlampau banyak. Akhir-akhir ini saya merasa banyak sekali kesusahan mendera. Mungkin karena tanpa sadar, arogansi mulai mengakar dalam diri. Barangkali kebaikan dari semua ini adalah tercabutnya sebagian besar sikap tinggi hati tersebut. Barangkali, ini adalah cara Tuhan—anda pasti menganggap saya sok suci, moralis, sok beriman dan percaya Tuhan, dll—untuk melenyapkan kedegilan hati saya. Untuk kembali memperbaiki yang sudah retak. Untuk kembali menyapa teman-teman lama. Mengupayakan jalan pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s