Katarsis

Dua kali datang ke acara Belok Kiri Festival, pada akhirnya saya cukup menyesal karena tidak cukup sering hadir. Dalam dua kali tersebut, saya sadar kalau saya seperti kehilangan pretensi seorang wartawan. Dulu, biasanya saya punya sense liputan yang cukup besar: datang awal dan menyimak acara dari awal sampai akhir, wawancara sana sini, lalu menulis berita. Kali ini, saya cuma ingin melakukan semuanya buat diri sendiri: datang, mendengarkan, menonton, berkeliling, menginginkan buku-buku berharga mahal, dan pulang kapan saja ingin.

Rasanya seperti momen katarsis. Barangkali memang begitu. Saya tidak punya hasrat menggebu untuk melakukan lebih daripada untuk diri saya sendiri. Saya menyerap apa yang disampaikan Mas Usman Hamid, Mbak Dolorosa, Mbak Dhyta Caturini, dan lain-lainnya. Menghasrati pengetahuan, membuka pikiran selebar-lebarnya, menentukan titik berdiri, menuangkan ekspresi, lalu memobilisasi diri.

Seperti yang disampaikan Mas Usman berkali-kali, saya harusnya memobilisasi diri. Tentu saja saya ingin, tetapi nanti setelah saya sudah banyak belajar dan memiliki dasar. Ah, bahkan sekarang untuk menuangkan pikiran dalam tulisan ini pun rasanya sulit sekali. Saya seperti terlalu banyak berpikir dan menimbang, lalu takut kalau apa yang saya tuangkan itu toh ternyata biasa saja. Namun bukankah kita semua memang biasa saja?

Saya jadi inget tulisan seseorang tentang ketidakberartian. Bahwasannya, kita ini, sebagian besar, hidup dengan biasa-biasa saja. Kita bukan Jim Geovedi, bukan Bill Gates, bukan Karl Marx, bukan Ann Frank, bukan Steve Jobs, bukan Arman Dhani, bukan Jonru, bukan Fahira Idris, atau siapapun yang hebat, yang pesakitan, yang dianggep bijak, yang dianggep guoblok. Kebanyakan kita cumak komentator di jagad maya pun nyata dunia ini. Dan kata si mas yang anonim ini, kalaupun memang tidak berarti, ya rayakan saja ketidakberartian itu.

Sesungguhnya mas ini tidak benar-benar anonim. Saya toh tahu pasti dia siapa, makanya saya bisa sebut dia mas, bukan mbak, bang, om, eyang, dsb. Anonimitas yang ditekuninya karena, satu, dia belum jadi siapa-siapa. Dua, dia inkonsisten. Saya ndak bilang inkonsisten itu jelek, itu manusiawi. Kayak Heroclates yang bilang satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Semuanya berubah: juga pendirian, sikap, ideologi, preferensi, dlsb. Tiga, mungkin dia sadar dirinya hari ini bisa jadi orang yang dicercanya sendiri besok pagi. Eh, tiga hal tadi simpulan saya sendiri. Tanpa verifikasi atau konfirmasi dari pihak bersangkutan. Ini kan bukan karya jurnalistik.

Atau sebenarnya saya sedang mengalami saturasi?

Barangkali saya ini cuma sedang kesal, kenapa kok ya kampus mengajarkan saya (dan para lulusan lainnya) ‘cuma’ jadi orang yang siap kerja. Sesuai kebutuhan industri. Betul itu sangat saya rasakan kini. Saya merasa begitu dangkal lantaran nggak banyak baca dari dulu, nggak akrab sama teori atau pemikir-pemikir klasik. Untung saya cepet sadar dan ketemu sama orang-orang yang ngasih reference betapa ….. (apa ya, mungkin kata yang paling manusiawi: overrated)  Tere Liye dan Andrea Hirata. Gini-gini, saya baca tetralogi Laskar Pelangi lhoh. Juga bukunya Bung Darwis yang Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin itu. Ndak papa, jadi boleh nyinyir kalau udah pernah baca.

Atau, saya ini sebenarnya sedang takut. Barangkali ini sindrom mahasiswa tingkat empat yang disuruh cepat-cepat lulus sama dosen-dosennya, sedikit banyak mulai berpikir materi. Toh dari dulu sebenarnya kami sudah sering dicekoki cerita kalau gaji wartawan nggak seberapa. Susah jadi kaya. Hidupnya bakal gitu-gitu aja. Apalagi kalau sok idealis, nggak mau nerima amplop, nggak mau liputan semi advertorial, nggak mau deket sama humas biar bisa sering dapat undangan jalan ke luar kota atau ke luar negeri (susah ngumpulin uang buat bisa piknik-piknik asik keliling Indonesa atau sekali-kali ke Asia Tenggara, Asia, Australia, terus Eropa dan Amrik!).

Seorang temen saya yang dilamar sebuah LSM sempat cerita kegalauannya. Kerjaan pertama toh menurut dia akan jadi penentu kerjaan dia berikutnya. Kalau sudah start dari LSM, apa nanti ndak akan muter di situ-situ aja? Padahal dia juga bakal butuh yang namanya kolam renang, halaman agak luas, ayunan anak, mobil muat banyak. Eh, ini bukan sekadar guyon. Tapi pekerjaan yang bisa memberinya semua itu dalam waktu relatif cepat, kayaknya bukan jenis pekerjaan yang ingin dia lakukan. Terus harus bagaimana? Ya milih. Temen saya milih kerja di LSM dulu.

Sekarang giliran saya: mau saya apa sih?

Setelah sempet lolos 40 besar kompetisi menulis yang digelar majalah travelling beberapa waktu lalu, tapi gagal lolos 10 besar lantaran medsos saya isinya curhat semua (!), saya sempat menyesal ah seandainya saya banyak menulis kisah perjalanan, saya bakal ke Western Australia tahun ini! Terus apa mulai sekarang saja saya nulis kisah perjalanan itu? Jadi kalau tahun depan ada lagi, saya ikut lagi, terus setidaknya blog atau tumblr atau wordpress saya isinya bukan curhat ala-ala yang terlalu eksistensialism alias personal ini. Terus setidaknya twitter saya isinya bukan mention-mention selebtwit macam Arman Dhani. Eh, udah kesebut dua kali. Hati-hati, nama depannya bukan Ahmad.

Eh, tapi apa itu yang saya impikan? Nulis cerita jalan-jalan? Saya pernah pengen belajar Antropologi buat S2, dan kebayang kerja di media ‘itu’ kalau memang kesampaian. Eh, tapi kayaknya bukan ini yang saya pengen.

Terus apa?

Dipertemukan sama Kamerad Kliwon di acara macam Belok Kiri Fest kemarin (siapa itu Kamerad Kliwon? Kalau ndak ada Kliwon, ya Kamerad siapa lah), baca-baca Jurnal Perempuan yang biarpun volume lama tapi berjodoh sama saya, beli buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, nyoba kerja di LSM, main teater lagi, terus banyak menulis. Egois dan katarsis yah.

Advertisements

2 thoughts on “Katarsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s