Mencari Keseimbangan

IMG-20160221-WA0001

Apa yang saya dapatkan setelah hampir tiga bulan belakangan? Ini pertanyaan yang pertama kali saya ajukan pada diri sendiri pagi ini. Rutinitas hampir tiga bulan belakangan berakhir, tanpa romantisme, atau sesuatu yang bikin saya enggan cepat-cepat bergegas melupakan.

Saya berpikir ulang, barangkali saya salah mengambil langkah atau berekspektasi terlalu tinggi. Nyatanya di pertengahan hingga akhir saya sadar kelimpungan mencari cara menjaga kewarasan. Mungkin justru yang saya pelajari, menerima diri dan mencari keseimbangan. Ibu saya yang orang Jawa selalu mengajarkan, ojo rumangsa bisa tapi bisaa rumangsa. Memang ada saat kita cuma jadi kroco dan di-nol-kan oleh orang yang lebih pengalaman. Saya sungguh belajar rumangsa dan nerima. Nerima karena toh saya sudah dapat kesempatan ini, sementara ada orang lain yang belum. Saya dibenturkan pada keadaan di luar biasanya–keadaan di mana apa yang kita mau biasanya ‘dimudahkan’.

Barangkali belajar mencari keseimbangan adalah pelajaran terbesar yang saya dapatkan. Saya masih ingat kebosanan yang saya ceritakan pada seorang teman. Dia membalas pesan singkat tersebut, “awak ***** emang susah bikin feature-feature ringan.” Saya juga ingat pertanyaan yang disampaikan produser Satu Meja yang duduk di kubikel seberang, “kok kamu tidak di program politik atau talk show?” lantaran dia pernah memergoki saya membaca majalah Tempo dan Jurnal Perempuan. Mungkin dia sesekali juga melirik novel Norwegian Wood atau Lelaki Harimau yang kadang saya letakkan di meja–kebiasaan membawa sebuah buku ke mana-mana.

Nyatanya di tengah pengerjaan–meminjam istilah teman saya–feature-feature ringan tersebut, saya toh berusaha mencari pelarian. Pada akhir pekan saya datang ke acara Belok Kiri Fest (meski cuma dua kali dari keseluruhan rangkaian): saya menonton film A Copy of My Mind sendirian, nonton film Siti ke XXI TIM lantaran di sana yang paling murah, dan menikmati konser Silampukau juga di Teater Kecil TIM. Saya mengobrol hingga dini hari dengan Vany, tak peduli keesokan harinya harus bangun pagi buta demi liputan. Dalam tempo yang sama saya rampung membaca dua novel Eka Kurniawan dan satu novel Haruki Murakami. Saya izin pulang ke Jatinangor demi pemutaran film Perempuan yang barangkali pesertanya kurang dari 50 orang.

Saya sebut itu semua upaya menjaga kewarasan. Di satu sisi saya sungguh mensyukuri aktivitas rutin yang cukup santai selama dua bulan lebih belakangan: bertemu orang-orang yang sungguh baik dan lucu, banyak tertawa, tidak terlalu merepotkan kakak karena setiap pulang malam bisa diantar, dan tidak sering kepanasan di luar ruangan. Namun saya amat merasa ada yang hilang. Saya rindu diskusi dan perdebatan, kopi yang dinikmati sambil mengobrol sampai dini hari, membicarakan idealisme dan mimpi-mimpi sampai tiba pagi. Dalam rutinitas belakangan ini, saya kadang jengah mendengar bigot-bigot mencerca LGBT dengan moralisme dan rasa jijik mereka, dengan mengatakan toh lesbian atau gay pada akhirnya akan tetap mencari lubang! Tapi saya bisa apa? Juga ketika ada yang mengkritik penampilan saya yang kelewat santai dengan menunjuk pada seorang perempuan pebalet: “cewek tuh harusnya kayak gitu.” Saya berang tapi bisa apa? Apa ndak percuma berusaha menjelaskan kalau pikirannya itu termakan konstruksi budaya dalam memandang perempuan dan bahwa perempuan harusnya punya otoritas tubuh. Apa ndak percuma menjlentrehkan itu pada orang tua yang sudah merasa berpengalaman tapi toh ternyata bebal. Maaf saya kesal.

Saya senang bercanda dan tertawa, hidup saya jadinya ringan dan tidak serius-serius amat. Namun ternyata saya memang suka yang serius. Saya kadang iri pada orang yang dikenal karena kocak dan santai. Tapi bukankah kelahiran memang membawa takdirnya sendiri-sendiri dan saya ditakdirkan untuk serius kalau toh bukan sok serius.
Saya butuh menjaga kewarasan, butuh melihat lebih banyak dari sekedar komunitas A gemar melakukan ini bersama teman-temannya jadi selain berolahraga juga bikin sehat karena senang kumpul-kumpul, saya butuh lebih dalam dari sekedar menemukan di tempat X dulu pernah jadi pangkalan perang dan ada peninggalan berharga yang kini banyak diperjualbelikan atau dulu leluhur Y datang dengan kapal atau pantai di pulai Z sungguh indah namun belum terjamah wisatawan. Kalau kata teman saya yang lain, kita orang butuh mempertahankan empati, bukan cuma pion perusahaan yang duduk manis di balik meja dapat gaji banyak terus bisa ngegym di tempat mahal atau mabok di bar tiap akhir pekan juga pakai baju bagus wangi dan berias diri tiap saat.

Saya menemukan sesuatu yang paradoksal dengan keyakinan diri sendiri, tapi saya jalani selama hampir tiga bulan. Akhirnya, sekarang izinkanlah saya meyakini satu ayat dari surat Paulus yang ditulis buat jemaat di Korintus.
“…yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” -2 Korintus 5:17