Bukit Duri

Ingatan pada waktu tertentu barangkali memang harus disinggung. Ia harus disinggung agar tidak menguar bersama udara, atau memudar bersama hari-hari yang terus menambah beban untuk memori.

Jumat lalu ingatan saya akan sebuah cerita kehidupan kembali disinggung melalui sebuah film. Jakarta Unfair berhasil membangkitkan ingatan saya, tak lain tak bukan tentang Bukit Duri. Film dokumenter karya kolaborasi 16 mahasiswa di bawah asuhan WathdoC ini sesungguhnya merekam cerita penggusuran di beberapa titik, di antaranya Pasar Ikan, Kampung Dadap (Tangerang), Muara Baru, dan Bukit Duri. Saya akhirnya kesampaian menonton film tersebut dalam acara Pekan Literasi Kebangsaan yang dihelat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

Keberadaan kampung kota selalu mengusik perhatian saya. Dari segi fisik maupun psikis, kampung kota menguarkan suatu emosi yang kuat dan khas. Dengan Bukit Duri, saya punya pengalaman pribadi.

img_20160813_123801
Kampung Bukit Duri, dilihat dari seberang sungai Ciliwung, tepatnya dari jalan inspeksi yang dibangun di atas bekas Kampung Pulo yang sudah lebih dulu digusur setahun lalu.

Sekitar sebulan sebelum Bukit Duri digusur, saya berkesempatan live in di sana, bergabung dan belajar di Sanggar Ciliwung Merdeka. Saya dan teman-teman peserta SeHAMA 8 pertama kali tiba di Sekretariat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Jln Bukit Duri Tanjakan, diterima oleh Ibu Martha. Kami lalu diantar ke Sanggar Ciliwung Merdeka oleh seorang pria yang biasa dipanggil Cilong.

Komunitas Ciliwung Merdeka diinisiasi oleh Sandyawan Sumardi, resmi terbentuk 13 Agustus 2000. Komunitas ini lahir untuk merespon isu-isu warga kampung kota Bukit Duri yang tinggal di bantaran sungai. Ciliwung Merdeka menjadi wahana alternatif yang menyelenggarakan pendidikan, menggiatkan kebudayaan, dan mewadahi ekspresi warganya. Di kemudian hari, seiring dengan menguatnya isu penggusuran, komunitas ini juga menjadi lembaga swadaya yang membela masyarakat dan hak-haknya yang dirampas negara.

Kembali ke cerita live in di Bukit Duri. Kami menyusuri jalanan kampung. Rumah-rumah warga berdekatan satu sama lain—berfungsi ganda sebagai ruang tinggal dan tempat usaha, anak-anak bermain di jalan atau di sepetak halaman samping rumah, menerbangkan layang-layang atau balap merpati di sore hari, ibu-ibu dan bapak-bapak berkumpul di warung sambil membeli sayur atau minum kopi.

Kampung kota menurut Bagoes P Wiryomartono (1995) adalah permukiman yang tumbuh di kawasan urban tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Kamus tata ruang mendefinisikannya sebagai kelompok perumahan yang merupakan bagian kota yang mempunyai kepadatan penduduk tinggi, dibangun tidak secara formal, kurang sarana dan prasarana, dihuni oleh penduduk dalam jumlah padat, sehingga kesehatan menjadi masalah utama.

Barangkali, definisi di atas  juga kemudian turut memberi andil pada bagaimana kampung kota dan masyarakatnya diperlakukan melalui serangkaian kebijakan.

Ketika itu Bukit Duri sedang menghadapi ancaman relokasi oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. Dengan dalih normalisasi sungai, pemerintah mau merelokasi warga ke rusunawa Rawa Bebek, Bekasi Barat.

img_5722
Relokasi partikular yang waktu itu sudah berjalan. Sebagian warga bersedia pindah.

Bukit Duri adalah satu cerita tentang rakyat yang melawan. Didampingi oleh Ciliwung Merdeka—di dalamnya ada beberapa kuasa hukum, arsitek, dan planolog—mereka menempuh proses hukum melalui mekanisme gugatan class action. Bukan sekedar melawan, Bukit Duri pun punya solusi. Konsep Kampung Susun Manusiawi telah lama diajukan oleh para ahli yang terlibat dalam perjuangan tersebut. Alih-alih menggusur, tapi mengatur, seperti janji Jokowi ketika bertandang minta dukungan sebagai calon gubernur, 2012 silam.

img_5674
Para advokat (kuasa hukum, arsitek, planolog) Ciliwung Merdeka bersama warga melakukan pemetaan wilayah Bukit Duri. Kertas warna warni dipakai untuk menunjukkan keberadaan rumah warga, lokasi usaha, dan ruang bersama (tempat bermain, posyandu, poskamling, dsb). Melalui pemetaan ini diketahui berapa rumah, tempat usaha, dan ruang bersama yang akan hilang jika penggusuran tetap dilakukan.

Di Ciliwung Merdeka saya melihat wajah-wajah yang ramah dan tegar. Wajah-wajah yang menerima kami dengan tangan terbuka, meski kehadiran-kehadiran seperti ini sudah terlalu sering bagi mereka. Romo Sandy bilang, banyak yang sudah datang dan belajar di sana.

Selalu ada kesibukan di Ciliwung Merdeka. Anak-anak mudanya biasanya bermain musik atau memodifikasi motor. Deni—pemuda berambut gimbal yang figurnya muncul dalam scene film Jakarta Unfair—pandai bermain jimbe. Ada juga Ucok, Muis, dan banyak lainnya. Saya bisa mendengar mereka bermain musik dan menyanyi hingga dini hari, sebelum akhirnya tertidur di sembarang tempat di dalam sanggar. Tidur lelap dengan buaian suara air sungai mengalir tanpa peduli dingin dan nyamuk yang menggigit.

Mengingat mereka saya ingat lagu Anak Sungai, Deugalih & Folks. Sejuta kisah terbawa air.

Sejuta kisah diratakan dengan tanah. Rumah-rumah warga, warung, laundry, tempat pemotongan ayam, poskamling, sepetak tanah tempat bermain, dlsb, semuanya dihancurkan oleh alat berat yang digerakkan tangan kuasa pemerintah.

Sebulan kemudian, saya hanya dapat menyaksikan dari jauh penggusuran Bukit Duri. Saya terbangun pada suatu pagi dan mendapati media sosial ramai tentang jalannya penggusuran. Wajah-wajah yang saya kenal menghiasi linimasa, dengan nyanyi pilu dan tangis sendu. Romo Sandy minta difoto untuk terakhir kalinya bersama Sanggar Ciliwung Merdeka. Deni menabuh jimbe tanpa menyembunyikan linangan air matanya. Koor warga menyanyikan lagu berjudul Ciliwung Nafas Kita.

Tiga hari dua malam yang saya habiskan di sana terasa sangat kurang. Saya jatuh cinta pada aroma sungai, pada desir angin dan arus air, pada wajah anak-anak yang berlarian bermain, pada musik yang digemakan anak-anak muda bertato dan berambut gimbal, pada militansi para advokat dan masyarakat yang berjuang.

Saya teringat perbincangan dengan kak Ivana, salah satu arsitek pendamping Bukit Duri. Barangkali bayangan kekalahan tergambar jelas di depan mata, tapi baginya yang terpenting adalah melakukan apa yang bisa dilakukan. Melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

1471183152586

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s