“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Advertisements

Tentang Teman dan Hasrat Menjadi Liyan

Menyebalkan sekali rasanya dipaksa untuk meredefinisi beberapa hal. ‘Paksaan’ tersebut datang ujug-ujug sampai saya tak bisa mengelak dan lebih baik cepat menuliskannya.

Pertanyaan tentang hasrat sudah cukup lama mengganggu pikiran saya belakangan ini. Memuncak ketika tengah ada di dalam ruang perpustakaan jurusan di kampus, beberapa saat sebelum yudisium pasca sidang akhir studi. Bukannya deg-degan, saya justru terpikir tentang siapa sajakah teman yang ada di luar? Tepatnya, siapa saja teman-teman dekat yang datang dan akan ikut selebrasi?

Selebrasi itu sendiri jadi momen yang cukup sering saya cela–baik dalam hati maupun secara langsung dalam beberapa obrolan. Suasana riuh, mars jurusan yang dinyanyikan, ucapan selamat yang kadang terasa asing diucapkan atau didengar, bunga-bunga, balon, selempang, hadiah. Saya mencelanya sebab selebrasi telah menjadi satu momen rutin yang menegaskan jurang ketidaksetaraan dalam dunia ini. Antara yang elit dan biasa saja. Lingkaran pertemanan yang luas+banyak dan yang tidak.

Masih jelas teringat obrolan dengan seorang teman menjelang akhir tahun lalu.

Tentu ada bayangan dan harapan tentang siapa teman-teman yang datang. Saya memang tak memberi tahu banyak orang. Perjalanan untuk sampai di titik tersebut sudah cukup melelahkan, sampai menggerus keinginan untuk pengumuman ke sana kemari, eh lo lo pada dateng dong besok gue mau sidang! 

Plus, entah kenapa selalu ada imaji bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi. Meski telah berlelah-lelah mengerjakan penelitian, menekuni disiplin etimologi dan metodologi, mempelajari critical discourse analysis dari sumber asli yang tentu tidak sepraksis apa yang dituliskan Eriyanto dalam bukunya yang banyak dirujuk itu, dan telah terlibat dalam dimensi sosiologis masalah yang saya teliti, pikiran bahwa saya mungkin salah dan gagal tak bisa enyah.

Selebrasi hari itu sepi. Jauh dari hingar bingar yang saya cela. Hingar bingar yang sebetulnya mengalienasi setiap orang dalam riuh ucapan dan foto bersama yang kemudian diunggah demi menjadi bagian dari masyarakat tontonan.

Sepi dengan ketiadaan teman-teman yang saya pikir akan datang.

Saya hanya menyadari satu hal. Bahwa ternyata dalam saya ada hasrat tersembunyi dalam ketidaksadaran. Hasrat untuk menjadi liyan yang seringkali saya cela dan tertawakan dalam pertanyaan akan esensi dan eksistensi. Sebuah id atas ego. Sebuah pertanda bahwa saya harus mulai menekuni psikoanalisis Lacanian demi menjawab kelindan pertanyaan dalam kepala.

Ada satu hal yang selayaknya saya syukuri. Teman yang hadir kala itu adalah orang-orang yang dengan mereka sebuah relasi pertemanan telah seringkali diuji. Dan saya sangat berterima kasih untuk ke-Ada-an mereka saat itu. Sebuah kualitas yang saya yakin lebih awet dari waktu yang dimiliki bunga sebelum layu, balon sebelum pecah/habis udara, atau makanan/minuman yang akan habis/basi.