Sekali Lagi Sepi dan Hal-hal yang Berjubel di Kepala

Saya kerap diserang pikiran-pikiran rumit yang sulit diurai. Sering merasa marah dan sedih dan bingung tanpa tahu kenapa. Barangkali sebenarnya tahu, tapi saya terlalu enggan melakukan dekonstruksi demi tahu prakondisi-prakondisi seperti apa yang bikin saya jadi begini.

Kota ini membuat saya jadi lebih pemarah. Jadi lebih sering mengumpat. Saya takut kehilangan diri di sini. Saya kawatir terbawa arus dan menjadi pragmatis. Saya takut kehilangan apa yang saya percaya dan yakini, lalu dengan mudah maklum pada semua yang seharusnya tidak demikian adanya.

Barangkali yang ironis adalah bahwa saya tahu perasaan macam itu muncul tepat sebelum pindah ke sini. Ketika sebenarnya kehidupan di kota yang dulu itu sedang berada di titik yang sangat menyenangkan, dengan teman-teman dan semangat komunal yang mendatangkan harapan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil, bahwa perjuangan adalah soal ketekunan memelihara semangat bersama, bahwa ruang-ruang alternatif sebenarnya telah dan akan terus ada. Bahwa cinta barangkali juga bisa bertunas dan tumbuh di sana.

Lalu saya merasa dicerabut tiba-tiba. Sebagian diri tertinggal di sana, tertahan rasa suka pada jalan dan udara dan orang-orang yang mengesankan.

Sepi ini nyata. Kesendirian ini juga.

Dikelilingi banyak orang barangkali sama artinya dengan tak bersama siapa-siapa. Seperti tampaknya bisa melakukan banyak hal tapi sebenarnya sama sekali tak berbakat betul.

Kehadiran saya di antara banyak orang dan sebaliknya kadang terasa semu, seperti cuma ada tanpa mengalami, seperti memandang selintas lalu tanpa benar-benar melihat. Seperti sekedar mendengar/didengar, bukan mendengarkan/didengarkan.

Seperti bisa bersandar sesaat tapi tiap waktu bisa hampir jatuh tiba-tiba.

Saya sudah sejak awal bertanya-tanya, kota ini akan mengubahku menjadi apa? Denyut kota ini tentu saja menggoda, merayu kita menikmati degupnya yang gempita, barangkali dengan tawa karena mode dan pizza dan kopi atau alkohol atau apapun yang bisa terbeli.

Hanya saja, bahagia bukan sesuatu yang gampang dibeli. Pun ia bukan barang gadaian yang bisa ditebus kalau kita sudah punya uang. Ia, buat saya, hanya dapat dirasakan ketika jawaban akan apa yang esensial sudah didapatkan.

Apa yang esensial? Dari keseharian, kesibukan, pekerjaan, kesuksesan, perjalanan, atau bahkan keberadaan?

Advertisements