Toko Buku Tua

Saya sedang menunggu sesuatu siang itu, ketika akhirnya memutuskan masuk ke sebuah toko buku tua (tertulis di papan nama, Toko Buku Langka dan Lawas) di depan terminal Pinang Ranti. Didera rasa deg-degan yang sangat, saya menaruh ponsel di dalam tas lalu melihat-lihat buku yang ada. Saya bertekat menemukan buku yang bagus untuk saya baca di situ sekalian membunuh waktu.

Tak berapa lama, saya menemukan buku kumpulan dongeng karya Beedle dimana ada cerita tentang Kisah Tiga Saudara yang memiliki relikui kematian di dalamnya. Penggemar Harry Potter tentu tak asing akan cerita yang termuat dalam buku pamungkas serial ini. Beedle adalah juru dongeng yang direka oleh mahajuru dongeng dalam persihiran Hogwarts, siapa lagi kalau bukan J.K. Rowling. Buku tersebut masih bagus. Di pojok kanan atas tertempel label bertuliskan angka 35. Maksudnya harganya 35 ribu. Saya sungguh ingin membeli buku tersebut, mungkin untuk koleksi pribadi atau diberikan pada seorang teman sesama penyuka Harry Potter. Namun, uang sudah menipis dan saya benar-benar harus berhemat. Semenipis apa? Cukup parah sampai saya harus mikir untuk beli buku seharga 35 ribu šŸ™‚

(Minggu sebelumnya saya membeli buku di lapakĀ onlineĀ dan belum terbaca sama sekali. Saya ingat kata seorang teman saya di Jogja, tentang pacarnya yang penggila buku. Meski buku yang dibeli bagus, meski membaca itu penting, dalam praktiknya kita bisa menjadi sangat konsumtif. Begitu kata teman saya ini. Lamat-lamat saya ingat.)

Meski begitu, saya membaca habis dongeng-dongeng Beedle ini sambil duduk di toko buku itu. Syukurlah ibu pemilik toko tidak menegur atau mengusir saya. Ia ada di sisi lain toko, juga duduk membaca buku sambil sesekali melayani pembeli.

Habis membaca buku tersebut, saya berkeliling lagi melihat buku-buku lain. Saya tak bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian dari ponsel yang sudah sengaja saya letakkan di dalam tas. Sesekali saya meraihnya, mengecek barangkali ada pesan atau surel. Belum juga. Saya cukup lama tak menengok ponsel ketika akhirnya menemukan kumpulan cerita pendek berjudulĀ Auk,Ā karya Arswendo Atmowiloto.

==========================================================================

Ini adalah tulisan yang tersimpan dalam draft blog ini. Sebuah tulisan yang tidak selesai. Sebuah tulisan yang tampaknya saya buat ketika masih dalam penantian. Ketika membuka lagi draft ini, saya tidak ingat lagi apa yang ingin saya tulis ketika itu.

Menakjubkan memang bagaimana ingatan bekerja. Ia menyeleksi yang penting dan bermakna, lalu menyimpannya baik-baik dalam memori, serta membuang yang lainnya.

Ah tapi toh, judul tulisan ini mengingatkan sedikit apa yang ingin saya tulis ketika itu. Mungkin saya ingin menulis tentang toko buku tua dan aroma debu, serta tumpukan yang perlu dibongkar untuk iseng-iseng barangkali ada yang menarik. Toko buku tua adalah tempat di mana kita tak pernah benar yakin apa yang kita inginkan untuk kita temukan. Memasuki toko buku tua barangkali ibarat berjalan ke ketidaktahuan, ke suatu ruang asing yang penuh kejutan.

Barangkali. Seperti halnya rasa.

Mungkin rasa yang menyenangkan adalah ketika kita ibarat memasuki toko buku tua. Tanpa harapan berlebih menemukan apa yang kita inginkan. Namun, tanpa sadar menemukan yang menyenangkan.

Advertisements