Mediokritas dan Zona Nyaman

Hari ini saya putuskan menarik diri sejenak dari segala urusan pekerjaan. Saya belum membaca kabar terkini melalui portal berita tempat saya bekerja, juga belum melihat apa yang sedang ramai dibincangkan di media sosial. Saya juga izin kelas Jumat karena lagi-lagi dilanda sakit kepala, seiring flu dan demam yang lumayan bikin kesal.

Saya paksakan membuka laptop meski kerusakan layarnya sudah pada level yang bikin sakit mata. Ah, betapa rindu saya untuk menulis sesuatu. Saya rasa enam bulan belakangan ini sudah cukup membuat saya kering kerontang, hidup hanya sekedar menjalani rutinitas, barangkali kehilangan hasrat yang menggebu akan sesuatu yang dulu-dulu. Waktu dan tenaga hanya habis terserap untuk pekerjaan. Sedikit waktu membaca, menonton film, minum kopi, apalagi menulis hal-hal di luar berita.

Maka, izinkan saya sejenak mengambil jarak. Saya selalu percaya ruang sepi seperti ini penting dan berarti. Bagaimanapun, saya perlu memikirkan kembali apa yang tengah saya jalani, ke mana saya mau menuju, mau jadi apa esok dan seterusnya.

Dua bulan belakangan, yang paling menghantui saya adalah mediokritas. Kemandekan berpikir, berupaya, hidup dengan bergelora, bahkan dalam melakukan pekerjaan yang saya cintai. Dan kocaknya saya beralasan karena tak cukup ada tekanan, tak cukup ada arahan yang jelas, ketidakpastian setiap hari, terlempar ke sana kemari tanpa punya waktu untuk benar-benar memahami sesuatu. Juga lingkungan yang menyebalkan.

Seorang teman bilang jangan mencari kambing hitam. Namun bukankah kitab suci pun menulis bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik? Ah, juga pola pergaulan yang satu itu lagi. Dalam pekerjaan ini, ‘perlapakan’ mungkin menjadi bukti seseorang diakui keberadaannya di lapangan, diterima dalam sebuah kelompok pergaulan, dan dengan demikian bisa saling meminta tolong. Jujur saja, ini sebuah kebiasaan yang saya takutkan bakal bikin saya malas.

Saya ingat cerita tentang seorang wartawan lepas–dulu ia wartawan di tempat saya bekerja. Saya mendengar dia banyak dibicarakan oleh sesama rekan; tentang bagaimana ia tidak disukai karena punya cara kerja yang berbeda. Bagaimana dia selalu bergerak sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Terdengar egois dan tidak mungkin dikerjakan di era penuh persaingan dan menuntut serba cepat sekarang ini. Namun toh, saya akui dia wartawan yang hebat. Dia berhasil lepas dari mediokritas yang menjerat banyak orang.

Zona nyaman memang membahayakan. Barangkali itu hal memabukkan keempat selain alkohol, pujian, dan jatuh cinta. Dan barangkali, saya sedang mabuk-mabuknya sekarang. Bukan oleh alkohol dan jatuh cinta–meski saya memang jatuh cinta–tapi karena dua hal lainnya.

Saya seharusnya berjaga dan tak lengah oleh zona nyaman. Saya seharusnya ingat bahwa apa-apa yang saya peroleh seumur hidup tidak datang dari rasa nyaman. Semua datang dari rasa sakit dan tangis juga lelah. Kakak saya bilang, rasa nyaman hanya akan membuatmu berhenti berikhtiar. Kalimat ini saya ingat sesaat sebelum masuk kuliah dan menjadi penguat ketika hal-hal yang tak mudah menimpa.

Rasa sakitlah yang membuat saya berpikir dan menyadari banyak hal. Kesadaran mungkin saja lahir dari privilege dan akses terhadap pengetahuan. Namun bagi saya, ia lebih seperti kemarahan akan hal-hal yang tidak seharusnya demikian adanya. Privilege dan akses terhadap pengetahuan tidak datang ujug-ujug dengan mudahnya. Saya tidak hidup seperti Simone, Kartini, atau Camila Vallejo.

Namun, saya menikmati hidup yang saya jalani, prakondisi-prakondisi yang membentuk saya, dan hal-hal yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Saya hanya ingin hidup sepenuh-penuhnya dan lepas dari mediokritas. Bahkan kalau hidup ini sebuah absurditas, ya tidak apa absurd se-absurd-absurdnya! Jangan absurd yang medioker!

 

PS: Kebiasaan menulis berita, saya hampir saja menulis nama lengkap sebagai byline di akhir tulisan 😦

Advertisements