“Cinta itu Indah, Juga Kebinasaan yang Membuntutinya”

Saya bukan pembaca berat Pram. Belum menuntaskan Tetralogi Buru, saya masih berutang membaca Rumah Kaca. Buku pertama, Bumi Manusia, saya baca dengan susah payah di halaman-halaman awal. Butuh tekad, sekadar menyederhanakan kata ‘perjuangan’, untuk memahami halaman-halaman awal novel itu. Setelah lewat beberapa halaman yang berat itu, toh novel itu begitu nagih untuk dibaca tuntas.

Saya tak sedang ingin berbicara soal novel Bumi Manusia yang hendak difilmkan oleh seorang sutradara yang entah membaca atau tidak karya itu. Saya hanya tetiba ingat pada sebuah kalimat dalam novel tersebut. Saya lupa, barangkali Jean Marais yang menyampaikannya kepada Minke, atau entah siapa. Line yang terlalu banal, barangkali, tapi saya sedang tidak peduli.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang membuntutinya.

Saya telah melewati masa-masa pahit dan traumatik yang membikin saya berpikir sebaiknya tak usah jatuh cinta. Barangkali itu adalah akumulasi rasa takut yang cenderung saya hindari. Takut kecewa dan mengalami luka seperti orang-orang terdekat saya.

Ibu, kakak, kakak ipar, teman-temant erdekat. Mereka semua mengalaminya. Saya sudah cukup banyak melihat mereka berkeluh kesah dan menangis, kadang sampai tersedu sedan. Dan kocaknya saya menjadi manusia yang belaga kuat ketika dihadapkan pada kerapuhan mereka. Saya mendengarkan dan menampung susah hati mereka, saya bilang saya ada di sisi mereka. Tak selalu memang, tapi mereka boleh mencari saya jika ingin dan perlu.

Orang-orang yang melihat sisi kuat saya boleh jadi tak tahu atau sedikitpun menyangka, ada malam-malam yang saya habiskan dengan berurai air mata. Mereka tak tahu kalau saya justru rapuh dan tak lebih tangguh.

Hanya pada satu orang saya kerap kali meluapkan perasaan apa adanya. Tertawa dan menangis. Meluapkan perasaan yang kerap kali saya sembunyikan di hadapan orang-orang lainnya.

Dia acap bilang, jangan saya mudah menangis. Namun saya sering tak bisa menahan. Mungkin dia memandang saya begitu cengeng, rapuh, lemah. Tak tahu apa yang bikin saya tidak enggan menunjukkan diri apa adanya. Dia bisa melihat saya, tak utuh memang, tapi sebagian besar.

Saya telah ada di titik dimana saya tak takut lagi binasa. Saya tak peduli, kalau toh kebinasaan memang selalu membuntuti perasaan cinta yang tumbuh dalam hati manusia. Manusia tak selayaknya hidup dengan rasa takut. Hidup hanya sekali. Cinta, juga rasa sakitnya, haruslah disyukuri. Dirayakan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

 

Advertisements