“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Tentang Teman dan Hasrat Menjadi Liyan

Menyebalkan sekali rasanya dipaksa untuk meredefinisi beberapa hal. ‘Paksaan’ tersebut datang ujug-ujug sampai saya tak bisa mengelak dan lebih baik cepat menuliskannya.

Pertanyaan tentang hasrat sudah cukup lama mengganggu pikiran saya belakangan ini. Memuncak ketika tengah ada di dalam ruang perpustakaan jurusan di kampus, beberapa saat sebelum yudisium pasca sidang akhir studi. Bukannya deg-degan, saya justru terpikir tentang siapa sajakah teman yang ada di luar? Tepatnya, siapa saja teman-teman dekat yang datang dan akan ikut selebrasi?

Selebrasi itu sendiri jadi momen yang cukup sering saya cela–baik dalam hati maupun secara langsung dalam beberapa obrolan. Suasana riuh, mars jurusan yang dinyanyikan, ucapan selamat yang kadang terasa asing diucapkan atau didengar, bunga-bunga, balon, selempang, hadiah. Saya mencelanya sebab selebrasi telah menjadi satu momen rutin yang menegaskan jurang ketidaksetaraan dalam dunia ini. Antara yang elit dan biasa saja. Lingkaran pertemanan yang luas+banyak dan yang tidak.

Masih jelas teringat obrolan dengan seorang teman menjelang akhir tahun lalu.

Tentu ada bayangan dan harapan tentang siapa teman-teman yang datang. Saya memang tak memberi tahu banyak orang. Perjalanan untuk sampai di titik tersebut sudah cukup melelahkan, sampai menggerus keinginan untuk pengumuman ke sana kemari, eh lo lo pada dateng dong besok gue mau sidang! 

Plus, entah kenapa selalu ada imaji bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi. Meski telah berlelah-lelah mengerjakan penelitian, menekuni disiplin etimologi dan metodologi, mempelajari critical discourse analysis dari sumber asli yang tentu tidak sepraksis apa yang dituliskan Eriyanto dalam bukunya yang banyak dirujuk itu, dan telah terlibat dalam dimensi sosiologis masalah yang saya teliti, pikiran bahwa saya mungkin salah dan gagal tak bisa enyah.

Selebrasi hari itu sepi. Jauh dari hingar bingar yang saya cela. Hingar bingar yang sebetulnya mengalienasi setiap orang dalam riuh ucapan dan foto bersama yang kemudian diunggah demi menjadi bagian dari masyarakat tontonan.

Sepi dengan ketiadaan teman-teman yang saya pikir akan datang.

Saya hanya menyadari satu hal. Bahwa ternyata dalam saya ada hasrat tersembunyi dalam ketidaksadaran. Hasrat untuk menjadi liyan yang seringkali saya cela dan tertawakan dalam pertanyaan akan esensi dan eksistensi. Sebuah id atas ego. Sebuah pertanda bahwa saya harus mulai menekuni psikoanalisis Lacanian demi menjawab kelindan pertanyaan dalam kepala.

Ada satu hal yang selayaknya saya syukuri. Teman yang hadir kala itu adalah orang-orang yang dengan mereka sebuah relasi pertemanan telah seringkali diuji. Dan saya sangat berterima kasih untuk ke-Ada-an mereka saat itu. Sebuah kualitas yang saya yakin lebih awet dari waktu yang dimiliki bunga sebelum layu, balon sebelum pecah/habis udara, atau makanan/minuman yang akan habis/basi.

Menyukaimu Sebatas Secangkir Kopi dan Obrolan Malam Hari

Ada hal lain yang perlu saya tuangkan sebelum melanjutkan cerita tentang Ekofeminisme yang seharusnya saya tulis dengan rajin itu. Saya butuh bercerita, tentang kamu, meski tak banyak yang boleh saya ceritakan.

Saya bingung bagaimana memulai, tapi mungkin ini relevan mengawali. Physically and mentally unstable. Itu yang saya rasakan beberapa waktu ke belakang. Puncaknya ketika dosen menyudutkan agar saya bisa memberikan rekomendasi yang sifatnya ‘legal dan struktural’ dari hasil penelitian, setelah terlalu lelah menjawab dan berargumen, sementara perbincangan hanya berputar-putar, saya meledak dalam tangis. Pertama kalinya membiarkan diri saya menunjukkan kerentanan yang sangat. Pada akhirnya saya mengatakan: siapa saya? Saya bukan siapa-siapa selain orang yang lebih banyak belajar ketimbang berkontribusi. Jelas saya tak lebih pintar dari mereka sendiri.

Banyak hal terjadi belakangan. Campur aduk saling berkelindan. Ketidakstabilan itu dan hambatan-hambatan lain, sampai pada rampungnya studi, keraguan bagaimana harus melanjutkan hidup, keharusan untuk segera pindah dari tempat kost–dan itu berarti berpisah dengan Kukis si anjing, dengan pohon bebuahan di halaman, dengan rumput hijau, dengan kolam lele, dengan sepetak alam hijau yang semakin sulit dijumpai di tengah kota.

Apa yang bisa saya harapkan hanyalah agar kebingungan ini berangsur pergi. Sebab saya butuh melanjutkan langkah, saya tak boleh lama tenggelam dalam pergulatan dan kesepian yang saya sendiri pun sukar mengerti. Kadang saya ingin menuding seseorang yang sedikit banyak membikin saya jadi begini. Albert Camus, mungkin? Atau kamu saja? Kamu yang hadir sebentar, tapi memengaruhi saya begitu besar. Membuat saya meredefinisi berbagai standar, menunda justifikasi, menikmati sepi, menjauhi hingar bingar dan kebanalan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan secara gamblang. Saya begitu menikmati ada di dekatmu, mengobrol tentang apapun, mengagumi kecerdasan dan cara pandangmu setiap waktu, sesekali menentangmu, sambil terus menjaga kesadaran agar tidak menyukaimu lebih dari itu. Sebab saya tahu pasti, hal-hal apa yang tidak bisa membuat kamu menyukai saya lebih daripada sekadar menjadi teman minum kopi dan berdiskusi. Pun saya tidak mau menggadaikan itu demi sesuatu yang ‘lebih’, padahal fana, rapuh, dan dapat rusak kapan saja tanpa bisa diperbaiki kembali. Tidak. Saya telah banyak belajar mencukupkan diri, dan saya merasa sangat cukup dengan secangkir kopi dan obrolan. Meski kamu dan saya terbungkus saput dan cuma masing-masing kita yang paham.

 

Epistemologi Ekofeminisme #1

Saya sempatkan menulis ini di tengah dinginnya pagi. Pukul 02.13 dan hujan turun di luar. Entah kenapa belum mengantuk meski sudah terlalu enggan merevisi skripsi yang (harusnya) sedikit lagi rampung.

Saya selalu menunda untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nanti saja, pikir saya, jika beban utama sudah selesai saya akan menuliskannya secara lengkap. Menuliskan cerita perjalanan yang awalnya merupakan bagian dari penelitian skripsi, tetapi akhirnya menjadi pengalaman katarsis cum spiritual. Oktober-November tahun lalu, saya mendatangi dua kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah yang sedang terancam pembangunan pabrik semen. Ya, ke Pati dan Rembang, mengunjungi dulur-dulur yang tengah berjuang melawan sebuah korporasi semen pelat merah dan korporasi besar lainnya yang setengah sahamnya dikuasai asing. Ini bukan isu baru, juga bukan isu yang tak banyak diketahui publik. Pemberitaan mengenainya bertebaran di media mainstream, media alternatif, dan juga media sosial.

5 Oktober 2016, situs resmi Mahkamah Agung memenangkan gugatan warga Rembang yang menyengketakan izin lingkungan PT Semen Indonesia. Saya pikir tadinya, itu kemenangan yang akan menjadi bukti bahwa rakyat masih berdaulat, hukum masih dijunjung tinggi, dan akal sehat masih punya tempat di negeri ini. Pun akan menjadi api semangat bagi perjuangan masyarakat dalam sengketa agraria di manapun.

25 Oktober, saya menuju Yogyakarta dengan naik KA Kahuripan. Saya sudah lama membayangkan alangkah asyiknya bepergian sendirian. Bertemu teman yang sudah dikenal atau orang-orang baru di perjalanan atau di tempat tujuan. Barangkali ini klise, tapi pengalaman bepergian sendirian memang sungguh momen komtemplatif. Kita akan mempunyai waktu untuk mempertanyakan dan memaknai ulang banyak hal. Ada yang maknanya semakin taksa, ada yang sedikit demi sedikit menjadi terang.

Saya sudah menghubungi beberapa teman yang kuliah dan tinggal di Kota Pelajar itu, meminta izin untuk menjadi parasit selama beberapa waktu. Tiba di Stasiun Lempuyangan, saya memberi kabar pada Adlun yang menawarkan diri menjemput. Ternyata ada Anggar yang sudah lebih dulu tiba, padahal sebelumnya dia bilang kemungkinan tidak akan terbangun dan sudah memberikan alamat lengkap agar saya bisa naik Gojek ke tempatnya. Adlun dan Anggar adalah dua teman saya sewaktu mengikuti Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA) 8 di KontraS.

img-20161026-wa0000
Dari kiri: saya, Anggar, Adlun. Wajah-wajah kurang tidur.

Kami cabut dari stasiun dan mampir sarapan nasi gudeg di pinggir Jalan Kaliurang. Saya agak memprotes klaim mereka bahwa cuaca Yogya hari-hari itu dingin. Ya, bagi saya yang tinggal di Jatinangor, Yogya waktu itu tidak ada dingin-dinginnya. Adlun menyebut saya ‘anandi’, anak daerah dingin. Selesai sarapan, kami menuju ke sebuah rumah di Jalan Kabupaten, ke rumah Tasya yang ia tinggali bersama Anggar dan beberapa teman lainnya.

27 Oktober, saya, Tasya, dan Wikan menuju Pati untuk menghadiri acara “Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda” yang akan digelar keesokan harinya. Kami berangkat naik travel dan salah turun di Gajah, Demak. Kami memutuskan untuk makan indomie di sebuah warung pinggir jalan sembari Tasya menghubungi Mas Gunretno dan minta pengarahan. Tasya memang sudah cukup dekat dengan Mas Gun; saya tak tahu bagaimana akan diterima di Pati dan diperbolehkan tinggal beberapa hari di sana jika bukan karena dia.

img-20161019-wa0001
Ini acara yang akan kami datangi ketika itu, sekaligus ‘pintu masuk’ saya untuk bisa tinggal di Pati beberapa hari dan mewawancarai beberapa tokoh gerakan tolak semen.

Saat sedang asyik menikmati indomie, minuman hangat, dan beberapa gorengan di warung tersebut, beberapa bapak-bapak pengojek menanyakan tujuan kami dan mengapa kami selarut itu. Barangkali karena kawatir, justru mereka ribut sendiri tentang bagaimana kami bisa sampai di Sukolilo. Ketika kami bilang akan mengompreng sampai Pati, mereka bilang “Ampun mbak, ora ilok (jangan mbak, tidak patut).”

Namun kami memang berusaha menghemat ongkos. Tak berniat terperangkap dalam ewuh-pekewuh dan keributan itu lebih lama lagi, kami akhirnya pamit dan berjalan saja menjauhi warung. Beberapa orang memanggil-manggil, tetapi kami bergeming dan terus melangkah. Setelah agak jauh, kami mulai mengacungkan jempol sebagai tanda meminta tumpangan kepada kendaraan yang lewat. Ketika itu mungkin mendekati tengah malam. Namun jalanan pantura tak pernah sepi, truk-truk besar melaju kencang. Tak lama kemudian, sebuah truk menepi. Seorang pria yang menjadi kenek truk tersebut turun dan mempersilakan kami bertiga menumpang.

*bersambung*

I wanna grow up once again

Give Me Some Sunshine, 3 Idiots

The shoulders were bent by the weight of the books
The concentrated H2SO4 burnt through my whole childhood
Our childhood is lost and so has our youth
Now let us live fully for just a moment
We’ve been dying every day and haven’t been living at all
Now let us live fully for just a moment
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance
I wanna grow up once again

Seseorang berkata bahwa sejarah adalah apa yang membuat kita menjadi kita. Saya menjadi saya. Saya ingin tahu hari-hari penuh ketakutan dan kekhawatiran ini menjadikan saya seperti apa di masa datang. Setiap tangis yang hanya berupa isak dalam kesunyian, setiap air mata, keringat, lelah, lapar yang seringkali terabaikan.

3 Idiots tak pernah gagal membuat saya merenung dan berpikir, juga senang dan sedih, berkali-kali. Saya rasa tak ada film lain yang punya efek seperti ini untuk diri saya, setidaknya sepanjang perjalanan menonton film selama ini.

Saya sedang mampir ke kosan Guguk, sepupu saya, di Jebres, Solo. Mungkin sekitar 6 tahun lalu. Atau lebih, saya tidak ingat pasti. Guguk mengajak saya menonton film, seperti kebiasaan kami kalau sedang berkumpul di rumah Baturetno dulu. Kami akan menonton film di ruang depan setelah sebelumnya menyeduh kopi dan memasak di dapur. Ia yang memasak, saya hanya sekedar ada di ruang yang sama. Guguk memperkenalkan saya pada film ini. Dan benar apa yang dia bilang, saya akan tertawa dan menangis menyaksikannya.

Tahun-tahun berlalu. Saya sudah berpindah setidaknya ke dua kota, dan sesekali masih mengulang menonton film itu. Detik ini saya mendapati diri seperti Raju; memelihara rasa takut dan memikirkan terlalu banyak hal. Perbedaan besarnya adalah tak ada Rancho dan Farhan.

Guguk masih di Solo. Di kosan dan kamar yang sama. Enggan berpindah dari kota itu sebab sudah kadung betah. Ia tampaknya tak suka kota besar. Juga sudah menemukan tambatan hatinya.

Saya teringat malam-malam yang kami habiskan dulu, entah untuk bercerita horor (ia indigo, tetapi untungnya bukan megalomania seperti kebanyakan orang yang mengaku indigo yang saya temui hari-hari ini), sains, film, buku-buku ensiklopedi yang ia lahap, atau apapun. Kenangan saya juga kadang berkelana ke masa-masa kami tidur di rumah sakit, di lantai kamar kelas 1 sampai 3 demi menunggui ibunya yang sakit. Saat ibunya sudah semakin kritis dan dipindahkan ke ruang HCU, kami tidur di emperan, di dekat sebuah tangga, bergantian berjaga dengan ayahnya. Ingatan itu kadang begitu samar, seakan sudah begitu lama, tetapi untung saya masih bisa menemukannya di relung kepala. Dan setiap kali mengingat, saya tersadar bahwa saya pernah begitu akrab dengan rumah sakit: dengan bau obat-obatan, bunyi roda tempat tidur pasien yang bergesekan dengan lantai, dinding-dinding yang menguarkan keputusasaan, juga aroma kematian yang menguap dari sudut-sudut kamar jenazah.

Di sana juga saya belajar menghargai kehidupan. Hidup yang menurut Camus adalah sebuah kesia-siaan, tapi toh tetap harus dirayakan. Bahkan diperjuangkan, jika si pemilik hidup memiliki sedikit semangat dan niat untuk itu.

Namun kadang semangat saja tidak cukup untuk memperjuangkan hidup yang absurd ini. Sebab meski semangat dan talenta itu universal, tidak begitu halnya dengan kesempatan. Ada sebuah teks yang juga begitu membekas untuk saya, sebuah tulisan Nicholas Kristof tentang lotere kelahiran yang menentukan peluang-peluang yang bisa dimiliki seseorang.

Dan detik ini, setelah menyaksikan 3 Idiots untuk yang entah keberapa kali, saya meminta untuk diberi kesempatan lagi. Saya ingin bertumbuh. Lagi.

Bukit Duri

Ingatan pada waktu tertentu barangkali memang harus disinggung. Ia harus disinggung agar tidak menguar bersama udara, atau memudar bersama hari-hari yang terus menambah beban untuk memori.

Jumat lalu ingatan saya akan sebuah cerita kehidupan kembali disinggung melalui sebuah film. Jakarta Unfair berhasil membangkitkan ingatan saya, tak lain tak bukan tentang Bukit Duri. Film dokumenter karya kolaborasi 16 mahasiswa di bawah asuhan WathdoC ini sesungguhnya merekam cerita penggusuran di beberapa titik, di antaranya Pasar Ikan, Kampung Dadap (Tangerang), Muara Baru, dan Bukit Duri. Saya akhirnya kesampaian menonton film tersebut dalam acara Pekan Literasi Kebangsaan yang dihelat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

Keberadaan kampung kota selalu mengusik perhatian saya. Dari segi fisik maupun psikis, kampung kota menguarkan suatu emosi yang kuat dan khas. Dengan Bukit Duri, saya punya pengalaman pribadi.

img_20160813_123801
Kampung Bukit Duri, dilihat dari seberang sungai Ciliwung, tepatnya dari jalan inspeksi yang dibangun di atas bekas Kampung Pulo yang sudah lebih dulu digusur setahun lalu.

Sekitar sebulan sebelum Bukit Duri digusur, saya berkesempatan live in di sana, bergabung dan belajar di Sanggar Ciliwung Merdeka. Saya dan teman-teman peserta SeHAMA 8 pertama kali tiba di Sekretariat Ciliwung Merdeka yang berlokasi di Jln Bukit Duri Tanjakan, diterima oleh Ibu Martha. Kami lalu diantar ke Sanggar Ciliwung Merdeka oleh seorang pria yang biasa dipanggil Cilong.

Komunitas Ciliwung Merdeka diinisiasi oleh Sandyawan Sumardi, resmi terbentuk 13 Agustus 2000. Komunitas ini lahir untuk merespon isu-isu warga kampung kota Bukit Duri yang tinggal di bantaran sungai. Ciliwung Merdeka menjadi wahana alternatif yang menyelenggarakan pendidikan, menggiatkan kebudayaan, dan mewadahi ekspresi warganya. Di kemudian hari, seiring dengan menguatnya isu penggusuran, komunitas ini juga menjadi lembaga swadaya yang membela masyarakat dan hak-haknya yang dirampas negara.

Kembali ke cerita live in di Bukit Duri. Kami menyusuri jalanan kampung. Rumah-rumah warga berdekatan satu sama lain—berfungsi ganda sebagai ruang tinggal dan tempat usaha, anak-anak bermain di jalan atau di sepetak halaman samping rumah, menerbangkan layang-layang atau balap merpati di sore hari, ibu-ibu dan bapak-bapak berkumpul di warung sambil membeli sayur atau minum kopi.

Kampung kota menurut Bagoes P Wiryomartono (1995) adalah permukiman yang tumbuh di kawasan urban tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Kamus tata ruang mendefinisikannya sebagai kelompok perumahan yang merupakan bagian kota yang mempunyai kepadatan penduduk tinggi, dibangun tidak secara formal, kurang sarana dan prasarana, dihuni oleh penduduk dalam jumlah padat, sehingga kesehatan menjadi masalah utama.

Barangkali, definisi di atas  juga kemudian turut memberi andil pada bagaimana kampung kota dan masyarakatnya diperlakukan melalui serangkaian kebijakan.

Ketika itu Bukit Duri sedang menghadapi ancaman relokasi oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. Dengan dalih normalisasi sungai, pemerintah mau merelokasi warga ke rusunawa Rawa Bebek, Bekasi Barat.

img_5722
Relokasi partikular yang waktu itu sudah berjalan. Sebagian warga bersedia pindah.

Bukit Duri adalah satu cerita tentang rakyat yang melawan. Didampingi oleh Ciliwung Merdeka—di dalamnya ada beberapa kuasa hukum, arsitek, dan planolog—mereka menempuh proses hukum melalui mekanisme gugatan class action. Bukan sekedar melawan, Bukit Duri pun punya solusi. Konsep Kampung Susun Manusiawi telah lama diajukan oleh para ahli yang terlibat dalam perjuangan tersebut. Alih-alih menggusur, tapi mengatur, seperti janji Jokowi ketika bertandang minta dukungan sebagai calon gubernur, 2012 silam.

img_5674
Para advokat (kuasa hukum, arsitek, planolog) Ciliwung Merdeka bersama warga melakukan pemetaan wilayah Bukit Duri. Kertas warna warni dipakai untuk menunjukkan keberadaan rumah warga, lokasi usaha, dan ruang bersama (tempat bermain, posyandu, poskamling, dsb). Melalui pemetaan ini diketahui berapa rumah, tempat usaha, dan ruang bersama yang akan hilang jika penggusuran tetap dilakukan.

Di Ciliwung Merdeka saya melihat wajah-wajah yang ramah dan tegar. Wajah-wajah yang menerima kami dengan tangan terbuka, meski kehadiran-kehadiran seperti ini sudah terlalu sering bagi mereka. Romo Sandy bilang, banyak yang sudah datang dan belajar di sana.

Selalu ada kesibukan di Ciliwung Merdeka. Anak-anak mudanya biasanya bermain musik atau memodifikasi motor. Deni—pemuda berambut gimbal yang figurnya muncul dalam scene film Jakarta Unfair—pandai bermain jimbe. Ada juga Ucok, Muis, dan banyak lainnya. Saya bisa mendengar mereka bermain musik dan menyanyi hingga dini hari, sebelum akhirnya tertidur di sembarang tempat di dalam sanggar. Tidur lelap dengan buaian suara air sungai mengalir tanpa peduli dingin dan nyamuk yang menggigit.

Mengingat mereka saya ingat lagu Anak Sungai, Deugalih & Folks. Sejuta kisah terbawa air.

Sejuta kisah diratakan dengan tanah. Rumah-rumah warga, warung, laundry, tempat pemotongan ayam, poskamling, sepetak tanah tempat bermain, dlsb, semuanya dihancurkan oleh alat berat yang digerakkan tangan kuasa pemerintah.

Sebulan kemudian, saya hanya dapat menyaksikan dari jauh penggusuran Bukit Duri. Saya terbangun pada suatu pagi dan mendapati media sosial ramai tentang jalannya penggusuran. Wajah-wajah yang saya kenal menghiasi linimasa, dengan nyanyi pilu dan tangis sendu. Romo Sandy minta difoto untuk terakhir kalinya bersama Sanggar Ciliwung Merdeka. Deni menabuh jimbe tanpa menyembunyikan linangan air matanya. Koor warga menyanyikan lagu berjudul Ciliwung Nafas Kita.

Tiga hari dua malam yang saya habiskan di sana terasa sangat kurang. Saya jatuh cinta pada aroma sungai, pada desir angin dan arus air, pada wajah anak-anak yang berlarian bermain, pada musik yang digemakan anak-anak muda bertato dan berambut gimbal, pada militansi para advokat dan masyarakat yang berjuang.

Saya teringat perbincangan dengan kak Ivana, salah satu arsitek pendamping Bukit Duri. Barangkali bayangan kekalahan tergambar jelas di depan mata, tapi baginya yang terpenting adalah melakukan apa yang bisa dilakukan. Melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

1471183152586

Tentang Hari Tani Nasional: yang Personal dan yang Komunal

mongabaydotcodotid
Sumber: mongabay.co.id

Menurut Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani No. 19 Tahun 2013 pasal 1, petani didefinisikan sebagai warga negara Indonesia perseorangan dan atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan atau peternakan (KontraS: 2015)

 

Seorang teman saya dari Fakultas Pertanian pernah bertanya, “Mengapa peduli dengan petani?” ketika membaca tulisan saya tentang asuransi petani. Tulisan tersebut merupakan hasil liputan saya ketika tengah magang sebagai wartawan di desk ekonomi harian Media Indonesia. Secara personal, tulisan tersebut berkesan karena itulah kali pertama nama saya tercatat—mengingat tulisan anak magang biasanya hanya dibubuhi kode (*).

 

Kembali ke mengapa peduli dengan petani. Saya punya cerita. Dalam sebuah mata kuliah yang saya ambil pada tahun 2013, dosen kami, Rana Akbari Fitriawan menugaskan sebuah reportase. Saya dan beberapa teman pergi ke Rancaekek, sebuah kawasan di Kabupaten Bandung. Kami bertemu dengan masyarakat petani di sana dan melihat bagaimana lahan pertanian beralih fungsi menjadi korporasi industri. Masyarakat petani menjadi buruh dan hidup dalam kondisi pekerjaan dan penghidupan yang belum layak, kualitas tanah dan air rusak, anak-anak putus sekolah, dlsb. Kalaupun masih ada lahan pertanian, sebagian besar warga hanya menjadi buruh dengan upah sekitar Rp20.000-Rp40.000 per hari. Pada musim hujan, sawah rentan tergenang banjir. Sanitasi pun masih menjadi persoalan lantaran masih banyak warga yang tidak memiliki jamban di rumah mereka.

Dua semester berselang, dalam sebuah program yang membawa saya ke negeri Sakura, saya dan lima orang teman berkesempatan tinggal selama tiga hari dua malam dengan sebuah keluarga petani. Host family kami adalah sebuah keluarga petani yang sangat makmur—dengan lahan pertanian yang luas, gudang besar di samping rumah, bahkan menjadi penyuplai tetap sebuah swalayan besar di Akita.

Semasa kecil saya sering membaca serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Beberapa judul yang berlatar belakang daerah pertanian (lengkap dengan peternakan) mendatangkan imaji yang asyik di kepala saya. Lahan luas, gudang penuh hasil melimpah, hewan-hewan ternak menyediakan semua kebutuhan protein, singkatnya: petani hidup berkecukupan.

          Namun memang berbeda halnya dengan di Indonesia.
tolak-pabrik-semen-12-4-2016-223-681x430
Sumber foto: aktual.com

 

Setahun silam, seorang petani bernama Salim Kancil dibunuh lantaran aktivitasnya menolak penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang. Lebih dari dua tahun berjalan, ibu-ibu Rembang tinggal di tenda demi memprotes pendirian pabrik semen yang merebut lahan pertanian mereka. Di Kertajati dan Kulonprogro, warga dipaksa mengorbankan sawah pertanian mereka demi proyek pembangunan infrastruktur yang dicanangkan negara. Di Ranu Pani, petani kentang tergeser kepentingan pariwisata. Dan masih banyak kasus dan konflik lahan lainnya. Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) melaporkan bahwa sepanjang 2004-2015 tercatat 1.772 konflik agraria (termasuk di dalamnya konflik atas lahan pertanian). Dalam periode yang sama, ada 1.673 petani/nelayan/masyarakat adat yang ditangkap, 757 orang dianiaya/luka-luka, 149 orang ditembak dan 90 orang tewas (KPA, 2015).[i]

Angka tersebut memprihatinkan jika dihadapkan dengan janji pemerintahan Jokowi-JK untuk melaksanakan reforma agraria melalui Nawacita[ii] dan RPJMN 2014-2019. Ada dua skema yang direncanakan, yakni redistribusi tanah dan legalisasi aset bagi petani. Namun kenyataannya, justru semakin banyak kebijakan ekonomi yang meningkatkan eskalasi konflik agraria di berbagai sektor dan daerah. Melansir dari siaran pers KPA di situs resminya, kebijakan-kebijakan pro investasi anti rakyat tersebut antara lain kebijakan pengadaan tanah untuk kebutuhan infrastruktur, pertambangan, perkebunan, kehutanan dan reklamasi; impor pangan; paket kebijakan ekonomi jilid I-XIII; UU Tax Amnesty; dan Perpres Percepatan Pembangunan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Saya mengikuti isu-isu pertanian, barangkali, karena alasan dan pengalaman yang sangat personal. Namun sudah semestinya apa yang personal tersebut kemudian menjadi perjuangan bersama; yang komunal, yang kolektif. Momentum Hari Tani Nasional (HTN) yang jatuh pada 24 September ini semestinya menjadi saat yang tepat untuk memperkuat kesadaran dan ingatan kolektif kita—generasi muda khususnya—akan masalah-masalah pertanian dan agraria yang ada di republik ini. Narasi bahwa Indonesia adalah negara agraris (yang hijau lahan pertaniannya bak untaian zamrud khatulistiwa jika dilihat dari atas) barangkali sudah kelewat basi, tetapi saya rasa memang demikian adanya. Negeri ini tidak terlahir untuk dipenuhi industri, tetapi untuk hidup dengan hasil tanah dan lautnya.

Peduli dengan petani dan tanah (dan laut) lantas sebaiknya tidak berhenti karena kebutuhan perut semata—yang terkesan personal bin egois meski tidak salah juga, tetapi juga kesadaran bahwa petani memiliki hak atas tanah, yang mana hak ini seringkali dicerabut oleh negara yang berkomplot dengan korporasi.

Aih, berbicara petani, tanah, negara, korporasi, saya rasa memang tidak ada habisnya. Dalam imaji absurditas, barangkali yang ada hanya pesimisme dan utopia. Namun, saya pikir yang namanya ingatan harus terus dirawat, dan kesadaran harus terus didiasporakan.

Selamat Hari Tani Nasional.

 

Ps: Teman yang bertanya (yang saya ceritakan di awal) tampaknya tidak berniat menekuni bidang pertanian. Sudah banyak anekdot tentang para mahasiswa lulusan pertanian yang kemudian tidak berkarya/bekerja/berkarier sesuai bidang keilmuan mereka. Malah ada yang bikin pelesetan “Institut Perbankan *sensor*”, saking banyaknya lulusannya yang menjadi pegawai bank. Yha nggak apa-apa sih. Linearitas bukan melulu hal yang harus ditaati atau diglorifikasi. Namun kalau yang tidak linear itu sebagian besar, yha…gimana….

 

[i] http://www.kpa.or.id/news/blog/pers-release-peringatan-hari-tani-nasional-2016-dan-56-tahun-undang-undang-pokok-agraria-uupa/
[ii] Poin ke-5 Nawacita berbunyi, “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.”