Epistemologi Ekofeminisme #1

Saya sempatkan menulis ini di tengah dinginnya pagi. Pukul 02.13 dan hujan turun di luar. Entah kenapa belum mengantuk meski sudah terlalu enggan merevisi skripsi yang (harusnya) sedikit lagi rampung.

Saya selalu menunda untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nanti saja, pikir saya, jika beban utama sudah selesai saya akan menuliskannya secara lengkap. Menuliskan cerita perjalanan yang awalnya merupakan bagian dari penelitian skripsi, tetapi akhirnya menjadi pengalaman katarsis cum spiritual. Oktober-November tahun lalu, saya mendatangi dua kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah yang sedang terancam pembangunan pabrik semen. Ya, ke Pati dan Rembang, mengunjungi dulur-dulur yang tengah berjuang melawan sebuah korporasi semen pelat merah dan korporasi besar lainnya yang setengah sahamnya dikuasai asing. Ini bukan isu baru, juga bukan isu yang tak banyak diketahui publik. Pemberitaan mengenainya bertebaran di media mainstream, media alternatif, dan juga media sosial.

5 Oktober 2016, situs resmi Mahkamah Agung memenangkan gugatan warga Rembang yang menyengketakan izin lingkungan PT Semen Indonesia. Saya pikir tadinya, itu kemenangan yang akan menjadi bukti bahwa rakyat masih berdaulat, hukum masih dijunjung tinggi, dan akal sehat masih punya tempat di negeri ini. Pun akan menjadi api semangat bagi perjuangan masyarakat dalam sengketa agraria di manapun.

25 Oktober, saya menuju Yogyakarta dengan naik KA Kahuripan. Saya sudah lama membayangkan alangkah asyiknya bepergian sendirian. Bertemu teman yang sudah dikenal atau orang-orang baru di perjalanan atau di tempat tujuan. Barangkali ini klise, tapi pengalaman bepergian sendirian memang sungguh momen komtemplatif. Kita akan mempunyai waktu untuk mempertanyakan dan memaknai ulang banyak hal. Ada yang maknanya semakin taksa, ada yang sedikit demi sedikit menjadi terang.

Saya sudah menghubungi beberapa teman yang kuliah dan tinggal di Kota Pelajar itu, meminta izin untuk menjadi parasit selama beberapa waktu. Tiba di Stasiun Lempuyangan, saya memberi kabar pada Adlun yang menawarkan diri menjemput. Ternyata ada Anggar yang sudah lebih dulu tiba, padahal sebelumnya dia bilang kemungkinan tidak akan terbangun dan sudah memberikan alamat lengkap agar saya bisa naik Gojek ke tempatnya. Adlun dan Anggar adalah dua teman saya sewaktu mengikuti Sekolah Hak Asasi Manusia (SeHAMA) 8 di KontraS.

img-20161026-wa0000
Dari kiri: saya, Anggar, Adlun. Wajah-wajah kurang tidur.

Kami cabut dari stasiun dan mampir sarapan nasi gudeg di pinggir Jalan Kaliurang. Saya agak memprotes klaim mereka bahwa cuaca Yogya hari-hari itu dingin. Ya, bagi saya yang tinggal di Jatinangor, Yogya waktu itu tidak ada dingin-dinginnya. Adlun menyebut saya ‘anandi’, anak daerah dingin. Selesai sarapan, kami menuju ke sebuah rumah di Jalan Kabupaten, ke rumah Tasya yang ia tinggali bersama Anggar dan beberapa teman lainnya.

27 Oktober, saya, Tasya, dan Wikan menuju Pati untuk menghadiri acara “Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda” yang akan digelar keesokan harinya. Kami berangkat naik travel dan salah turun di Gajah, Demak. Kami memutuskan untuk makan indomie di sebuah warung pinggir jalan sembari Tasya menghubungi Mas Gunretno dan minta pengarahan. Tasya memang sudah cukup dekat dengan Mas Gun; saya tak tahu bagaimana akan diterima di Pati dan diperbolehkan tinggal beberapa hari di sana jika bukan karena dia.

img-20161019-wa0001
Ini acara yang akan kami datangi ketika itu, sekaligus ‘pintu masuk’ saya untuk bisa tinggal di Pati beberapa hari dan mewawancarai beberapa tokoh gerakan tolak semen.

Saat sedang asyik menikmati indomie, minuman hangat, dan beberapa gorengan di warung tersebut, beberapa bapak-bapak pengojek menanyakan tujuan kami dan mengapa kami selarut itu. Barangkali karena kawatir, justru mereka ribut sendiri tentang bagaimana kami bisa sampai di Sukolilo. Ketika kami bilang akan mengompreng sampai Pati, mereka bilang “Ampun mbak, ora ilok (jangan mbak, tidak patut).”

Namun kami memang berusaha menghemat ongkos. Tak berniat terperangkap dalam ewuh-pekewuh dan keributan itu lebih lama lagi, kami akhirnya pamit dan berjalan saja menjauhi warung. Beberapa orang memanggil-manggil, tetapi kami bergeming dan terus melangkah. Setelah agak jauh, kami mulai mengacungkan jempol sebagai tanda meminta tumpangan kepada kendaraan yang lewat. Ketika itu mungkin mendekati tengah malam. Namun jalanan pantura tak pernah sepi, truk-truk besar melaju kencang. Tak lama kemudian, sebuah truk menepi. Seorang pria yang menjadi kenek truk tersebut turun dan mempersilakan kami bertiga menumpang.

*bersambung*

Mengingat Munir Melampaui Pribadi

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.”

Demikian nukilan legendaris dari Milan Kundera yang ditulis di halaman pertama bukunya yang bertajuk The Book of Laughter and Forgetting. Kalimat tersebut dikutip oleh oleh Zen RS dan Heru Hikayat dalam diskusi “Menyimak Munir, Merawat Ingatan” di Bandung. Menjadi pembicara di dua hari yang berbeda, ternyata nukilan Kundera menjadi benang merah di antara keduanya.

Poster Menyimak Munir.jpg

Pekan lalu menjadi pekan merawat ingatan 12 tahun kematian aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Omah Munir bersama sahabat Munir di 23 kota memperingati momen tersebut dalam acara bertajuk “Menyimak Munir, Merawat Ingatan” dengan menggelar pemutaran film dan diskusi. Ada lima film yang dikirimkan KontraS kepada Wanggi selaku inisiator penyelenggara di Bandung: Bunga Dibakar (Ratrikala Bhre Aditya), Tuti Koto: Perempuan Pemberani (Riri Reza), Kiri Hijau Kanan Merah (Dandhy Dwi Laksono), Cerita Tentang Cak Munir (Hariwi), dan His Story (Steve Pillar Setiabudi). Minus Garuda’s Deadly Upgrade (Lexy Rambadeta).

Sempat muncul pertanyaan menggelitik terkait bagaimana sebaiknya acara ini diselenggarakan di Bandung. Misalnya: pernahkah Munir menginjakkan kaki di Bandung? Bagaimana mendekatkan Munir dengan orang-orang di kota yang lekat dengan citra populis ini hingga mereka mau sejenak menyimak? Setelah melewati beberapa jam diskusi, tim yang kemudian diberi nama Solidaritas Bandung Mengingat Munir (Sobat Munir) sepakat bahwa momen mengingat Munir di Bandung harus disertai upaya membaca spirit perjuangannya yang dapat diadopsi dan dilaksanakan merespon permasalahan yang terjadi di lingkup lokal. Mengingat Munir tidaklah terbatas sebagai sikap menggugat pemerintah yang membentengi impunitas yang menyebabkan kasus ini belum jelas sampai sekarang, tetapi juga berusaha membaca semangatnya untuk menyatukan solidaritas perjuangan di bidang kemanusiaan. Tercetuslah dua tema: (1) Ingatan kolektif: regenerasi perjuangan merawat kemanusiaan dan (2) Membaca Munir: melipatgandakan solidaritas gerakan di Bandung.

Dan inilah sekelumit cerita tentang perayaan “Menyimak Munir, Merawat Ingatan” di Kafe KaKa, Bandung yang berlangsung pada Jumat-Sabtu, 9-10 September 2016.

 

Ingatan Kolektif: Regenerasi Perjuangan Merawat Kemanusiaan

IMG_20160909_170158.jpg

Eyefeelsix membuka dengan tiga buah lagu. Kehadiran band hiphop asal Bandung ini terasa tepat, mengingat dua hari sebelumnya mereka baru saja merilis video klip untuk lagu lawas yang bertajuk Hampa. Musik Eyefeelsix menyentak ketenangan sore itu, menambah ramai suasana seiring dengan semakin banyaknya massa yang datang.

Film pertama yakni Bunga Dibakar, diputar pukul 18.30. Film ini merekonstruksi perjalanan hidup, perkembangan, serta pergolakan batin Munir. Dalam film tampak bahwa Munir adalah sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Ia bukan hanya seorang aktivis dan pejuang hak asasi manusia, ia juga seorang suami, ayah, anak, kakak, dan adik bagi keluarganya. Film kedua, Cerita Tentang Cak Munir, merangkum kesaksian orang-orang terdekat Munir tentang interaksinya dan bagaimana hubungan di antara mereka terbangun serta saling memengaruhi.

Lantaran durasi film cukup panjang, diskusi baru dapat dimulai sekitar pukul 21.00. Herry Sutresna (Ucok Homicide), Zen RS, dan Aldo Fernando Nasir menjadi pembicara yang dimoderatori oleh Kristiana Devina. Zen dan Ucok—sebagai seorang penulis dan musisi—memang sudah kerap kali berbicara perihal merawat ingatan. Luasnya, mereka menyerukan kritik sosial. Sementara Aldo adalah seorang mahasiswa yang bergiat di organisasi pengkajian dan pengabdian masyarakat demokratis.

Setali tiga uang, Ucok dan Zen sama-sama berbicara bahwa merawat ingatan akan Munir sebaiknya tidak berhenti pada mengenang sosok atau peristiwa, tetapi mengingat pokok persoalan atau konteks. Zen mengatakan, jika kita hanya mengenang Munir sebagai seorang pribadi atau sebuah peristiwa, maka kita rentan terjebak pada merayakan sosok.

“Saya kira kita harus melampaui itu. Kita bukan hanya hendak mengenang tokoh, tetapi pokok persoalan. Munir, Widji Thukul, korban di Talangsari, di Santa Cruz, di Papua, di manapun, itu lahir dari situasi yang kira-kira sama saja. Mereka dianggap menghalangi agenda-agenda rezim Orde Baru waktu itu,” papar Zen.

Hanya dengan demikian, menurut Zen, sejarah tidak lagi diperlakukan seperti album tua yang dilap terus menerus. Memahami konteks akan memampukan kita membaca benang merah antara yang silam, yang sekarang, dan yang menjelang. Dengan demikian pula kita bisa lolos dari jebakan retorika pembangunan dan eufimisme Orde Baru yang sekarang muncul kembali. Diskursus tentang relokasi, misalnya, sesungguhnya bukan hal baru, melainkan repetisi Orde Baru dengan ideologi developmentalismenya yang dulu berpayung pada GBHN, MP3EI, dan sekarang RPJMN.

“Kedungombo di tahun 1980-an itu juga direlokasi. Di mana? Dikasih tempat yang namanya transmigrasi. Konon kabarnya tanahnya dikasih, paculnya dikasih, pupuknya dikasih. Pada kenyataannya indah kabar dari rupa.”

Seakan memang sebuah keniscayaan, Zen menyinggung permasalahan lainnya yang akan dibahas dalam diskusi hari berikutnya: penggusuran Rawajati, Stasiun Barat, Sukamulya, Kulonprogo, dan di banyak tempat lainnya. Pada saat bersamaan idiom politik bernama relokasi pun terus menerus didengungkan hingga masyarakat terbiasa atau bahkan menganggap wajar. Dari sinilah kemudian menjadi penting untuk memahami konteks yang membuat Munir dibunuh, Widji Thukul hilang, dan jutaan syuhada tanpa nama lainnya meninggal dalam peristiwa Talangsari, Simpang Kraft, Tanjung Priok, dsb, agar generasi ini dapat terus menerus mengaktualisasi masa lalu.

Adakah Munir-Munir baru di masa ini? Atau bagaimana melahirkan figur-figur seperti Munir?

“Kalau ditanya bagaimana menghadirkan orang—bukan Munir baru—tapi orang dengan intensitas keberpihakan seperti Munir, saya kira salah satu syarat personal masing-masing kita semua adalah tidak cupet,” tegas Zen.

Esais ini menyambung tentang bagaimana dua orang dari kelas yang berbeda, Widji Thukul dari kelas bawah dan Munir dari kelas menengah, kemudian bertemu dalam intensitas yang sama untuk membela orang-orang lemah yang dikalahkan. Kedua film yang diputar menunjukkan bagaimana seorang Munir berubah pandangan, dari yang sebelumnya berlanggam politik Islam fundamental dan berpikir dalam kerangka oposisi biner surga neraka, kemudian keluar melampaui itu semua, keluar dari kepompong kecupetan.

Sementara, Ucok merasa ia belum melihat adanya figur seperti Munir—yang turun ke lapangan, menjadi perekat gerakan, dan diterima di tataran akar rumput secara luas. Namun terlepas dari itu ia sepakat bahwa mengingat Munir harus terus menerus disertai upaya membuka ruang kesadaran akan konteks yang menyebabkan Munir dibunuh.

“Bagaimana membuat ruang-ruang kesadaran dan kesadaran apa yang bisa didiasporakan? Bagaimana kemudian kawan-kawan—saya yakin banyak mahasiswa hari ini—mengembalikan kampus sebagai ruang gagasan radikal. Semuanya harus ditarik ke ekonomi politik, karena itu akarnya,” kata Ucok.

Pola pikir historis kemudian menjadi penting agar kita tidak cupet. Ucok mencontohkan, masih banyak yang memandang relokasi dengan logika formal negara, menjunjung nalar bahwa warga memang salah karena menempati tanah yang bukan miliknya.

“Saya pikir kalau kita melihat semua korban pembangunan itu salah, yang dibela Munir itu semua salah. Teman-teman harus belajar bagaimana kemiskinan lahir. Bagaimana kesejahteraan dideskripsikan dan diwujudkan pada segelintir orang,” kata Ucok.

Sederhana dan praksisnya, Zen mengajak agar kita tidak berhenti menerima apa yang terlihat sebagai sesuatu yang terberi (given), yang jatuh dari langit. Sebagai gantinya, generasi ini haruslah terus bertanya, terus resah, dan terus keluar menembus ruang-ruang nyaman dan kepompong kecupetan.

“Selalu ada proses yang membuat orang itu tiba-tiba terdampar tidur di emperan, harus menjadi pengemis, harus menjadi pencoleng, harus menjadi pelacur di Saritem, itu semua ada sejarahnya,” ujarnya.

Kampus kemudian diharapkan menjadi ruang dialektika yang dapat melahirkan gagasan-gagasan dan menginisiasi perjuangan. Sejarah membuktikan pergerakan dimulai dari ruang diskusi di lingkup pendidikan, meski kemudian tidak berhenti di sana. Misalnya, sejarah pergerakan nasional dari lingkung STOVIA yang sangat elitik, kemudian digantikan oleh Sarekat Islam, disusul Sarekat Islam merah.

Sebagai mahasiswa, Aldo sepakat bahwa kampus harus kembali menjadi ruang diskusi yang bergeliat. Menghidupkan kampus sebagai ruang dialektika, menurutnya, harus dimulai dengan tumbuhnya kepedulian mahasiswa terhadap apa yang terjadi di dalam kampus terlebih dahulu.

“Kita harus tahu bahwa pendidikan saat ini tidak baik-baik saja. Kampus penuh dengan aroma komersialisasi pendidikan. Kemewahan kita untuk berpikir ada di dalam kampus. Kalau itu dikekang, itu menyedihkan dan harus kita lawan,” kata Aldo.

Selain perjuangan di dalam kampus, ia sepakat bahwa mahasiswa harus bergerak ke luar melihat persoalan masyarakat. Melihat Kendeng, Kertajati, Sukamulya, dan masalah-masalah lainnya sebagai masalah bersama, tanpa kemudian menggurui atau mengeksklusi diri.

“Bukan berarti kita harus menggurui kawan-kawan kita, para petani yang ada di sana misalnya, tetapi kita menjadi kawan untuk terus bersolidaritas. Terus mewarisi semangat Munir, semangat Widji Thukul, tanpa harus menjadi Munir atau Widji Thukul. Kita adalah diri kita sendiri, yang harus terus melawan,” pungkasnya.

 

Politik Ingatan

Bahasan mengenai politik ingatan ini dikutip dan diedit seperlunya dari pernyataan Zen RS.

Tidak ada satu bangsa yang tidak mempraktikkan politik ingatan. Hampir semua bangsa melakukan praktik mengingat dan melupakan. Dalam konteks Indonesia misalnya, ingatan itu ditarik dengan cara memilih apa yang bagus sebagai asal usul Indonesia. Yang dianggap bagus yakni Sriwijaya, Majapahit, Sumpah Palapa, itu dianggap sebagai genesis kita. Padahal Indonesia tidak (belum) ada di zaman itu. (Moh) Yamin berbicara tentang 6000 tahun sang saka merah putih, itu sejarah mitos. Teman-teman sekalian, tetapi setiap bangsa memang membutuhkan itu. Tanpa politik ingatan saya kira Indonesia juga tidak akan pernah ada. Nah, politik ingatan dalam konteks bangsa Indonesia adalah, satu, mengingat terus menerus pengalaman sebagai sebuah bangsa yang ditindas oleh kolonialisme. Yang kedua, dengan cara mengingat apa yang dirasa perlu untuk memperkuat bayangan kita tentang Indonesia. Yamin paling canggih melakukan itu dengan cara menceritakan ulang secara ideologis apa arti Majapahit, apa arti Sriwijaya, apa arti Sumpah Palapa, apa arti sang saka merah putih yang katanya berusia 6000 tahun. Nah itu dalam proses pembentukan bangsa. Tetapi ketika sebuah bangsa sudah terbentuk, politik ingatan kemudian bekerja dengan cara yang lain. Kalau kita mengingat kembali misalnya di TMP Kalibata, ada sekitar 7000 makam, 6000 makam tentara (5000 TNI AD), sipil cuma 1000. Sipil mah naon atuhlah. Jadi bayangkan bahwa proses perjuangan Indonesia didominasi oleh kontribusi militer. Ini salah satu bentuk politik ingatan karena memangkas sejarah kemerdekaan kita hanya sejak Agustus 1945.

Kita semua ada di medan pertempuran politik ingatan. Padahal kalau kita melihat proses kemerdekaan ini sudah dimulai sejarah pergerakan nasional ini dimulai akhir abad 19 dan akhir abad 20. Mulai Kartini Minke Abdul Rifai Tan Malaka Sjahrir Amir Syarifuddin Alimin Musso dan lain-lain. Kalau kita bicara proyek kemerdekaan, itu proyek sipil sebetulnya. Tokoh-tokoh terpenting tentara di tahun-tahun pertama itu sebetulnya kalau bukan didikan KNIL didikan Jepang. Mereka pada dasarnya pernah mencicipi nikmatnya kue kolonial. Para tentara itu. Teman-teman sekalian, ada satu idiom yang sangat terkenal sekali, pengalaman manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Itu munculnya di halaman pertama sebuah novel esai The Book of Laughter and Forgetting-nya Milan Kundera. Itu bercerita tentang bagaimana Vladimir Clementis, seorang pejabat tinggi di Cekoslovakia, yang fotonya dihilangkan hanya karena dia kemudian dituduh sudah berkhianat kepada partai komunis Ceko.

gambar-1
Foto 1 (kanan): Vladimir Clementis (paling kiri) terlihat dalam foto. Foto yang sudah tersebar dalam buku-buku sejarah tersebut kemudian diedit dan Vladimir Clementis dihilangkan.

 

Inilah yang sebetulnya disebut sebagai apa yang saya bilang, politik ingatan itu menjadi sesuatu yang real dan konkret, dan kita semua adalah, bukan korban tapi kita ada di medan pertempuran politik ingatan.

 

gambar-2
Dalam buku-buku sejarah disebutkan melalui gambar 1&2, orang-orang adalah para korban keganasan PKI Madiun, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang PKI yang menjadi korban pembantaian (gambar 3&4)

Dan saya kira yang harus kita lakukan sekarang adalah, saya ingin mengatakan bahwa kita ada di medan politik ingatan dan kita harus membangun politik ingatan sendiri. Upaya mengingat Munir adalah upaya membangun politik ingatan sendiri. kekuasaan mencoba menghapuskan Munir dengan cara yang sangat definitif maupun konotatif. Menghilangkan laporan TPF yang sudah ada hasil dan simpulannya. Semua anggota TPF itu tidak mungkin melaporkan karena dia bisa kena pidana, melanggar Keppres, melanggar UU, jadi hanya presiden yang boleh mengumumkan, tapi tidak ada satupun presiden yang mengumumkan. Katanya di Setneg katanya di mana. Munir dihilangkan, maka kita di sini adalah bagian dari politik ingatan itu, kita mencoba membangun politik ingatan kita sendiri. setiap kelompok, setiap rezim, setiap partai bahkan, itu harus membangun politik ingatannya sendiri, dan kita sebagai warga itu harus punya ketahanan politik ingatan, kalau pakai bahasa Lemhanas. Kita harus punya daya tahan untuk mengingat apa yang memang kita ingin ingat. Jangan sampai apa yang kita ingat dan kita lupakan itu dikendalikan oleh orang lain. Itu pentingnya kita sadar memilih apa yang akan kita ingat dan apa yang tidak. Dan kita datang malam ini ke sini adalah sebentuk kesadaran memutuskan apa yang ingin kita ingat dan apa yang tidak ingin kita ingat. Kita datang hari ini, mengingat Munir, mengingat Widji Thukul, dan mengingat yang lain, adalah sebuah praktik membangun daya tahan politik ingatan kita, agar kita secara merdeka memutuskan apa yang ingin kita ingat dan apa yang ingin kita lupakan. Kita melakukannya secara merdeka dan hanya dengan itulah kita bisa lolos dari jebakan-jebakan retorika politik yang sebetulnya sedang mengulang-ulang apa yang terjadi di masa lalu yang menyebabkan Munir diracun dan Widji Thukul hilang.