“Put, ke Makassar?”

Seminggu belakangan saya menerima pertanyaan dari beberapa orang, yang kesemua isinya serupa: apakah saya ikut ke Makassar? Serangkaian chat tersebut justru bikin makin galau karena faktanya saya tidak bisa ikut atau menyusul ke sana. Saya cuma bisa membayangkan sambil merindukan atmosfer festival teater mahasiswa yang tahun ini digelar di timur Indonesia. Ekspektasi awal memang saya pengen ikut meski tidak lagi ditanggung kampus. Syaratnya harus cepat lulus minimal 4 bulan sebelum festival dan cari job apapun yang penting uangnya bisa buat berangkat. Ironis saya baru lulus H-7 festival dimulai. HEHEHEHEHE.

Atau sebenarnya saya cuma sedang mengenang festival teater dua tahun silam di Palembang.

Orang-orang yang menghubungi itu adalah teman-teman yang saya kenal ketika mengikuti Festival Monolog Mahasiswa Nasional (Stigma) 4 di Palembang, 2015 lalu. Saya bersama tim produksi dari Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF) Unpad mengikuti ajang tersebut dengan membawakan pentas bertajuk “Mayat Terhormat” (naskah karya Agus Noor dan Indra Tranggono). Kesempatan mengikuti festival teater mahasiswa di tingkat nasional jelas kesempatan yang jarang-jarang buat saya yang juga “nggak teater amat” ini. Kesannya masih lekat sampai sekarang. Saya tak bisa menafikan bahwa berteater–walaupun sebentar–adalah pengalaman yang turut membentuk diri saya.

Ketika itu saya berperan sebagai pimpinan produksi; sebuah tanggung jawab yang terasa berat apalagi bersamaan dengan masa saya harus magang sebagai wartawan desk ekonomi di harian Media Indonesia, di Jakarta. Setiap akhir pekan, usai liputan dan menulis berita, saya akan pulang ke Jatinangor untuk menengok timpro latihan—kewajiban yang harusnya saya lakukan setiap hari dan bukan cuma dua hari dalam seminggu. Namun dengan berbagai itung-itungan waktu itu saya memutuskan untuk tidak menunda magang dan melakoni keduanya berbarengan.

Singkat cerita, kami dinyatakan lolos tahap kurasi. Rombongan sebanyak 16 orang berangkat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 dengan menyewa bus. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 20 jam, kami akhirnya tiba di kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, sebuah kecamatan di pinggiran kota Palembang. Itu mengingatkan saya pada lokasi kampus Unpad yang terpisah di Jatinangor dan Bandung. Belakangan, saya tahu kalau waktu tempuh Indralaya-Palembang juga berkisar 1,5-2 jam, tak jauh berbeda dengan Jatinangor-Bandung dalam kondisi agak macet.

Para anggota eater Gabi 91’ yang menjadi panitia menyambut dengan ramah. Kami mendapat LO yang sigap dan menyenangkan. Namanya Tina. Suasana empat hari pertama agak tegang sebab itulah masa-masa pementasan. Beruntung tim GSSTF mendapat urutan ke-5 di hari pertama, sehingga kami bisa cepat merasa lega. Kalau sudah tampil kami tinggal bebas menonton pementasan lain dan belajar banyak hal.

Dari 18 komunitas teater yang terlibat memang pada akhirnya beberapa saja yang menjadi cukup dekat dengan kami atau saya secara pribadi. Dimulai dari pinjam meminjam korek api, obrolan yang nyambung, berswafoto, menyimpan kontak pribadi, hingga bertukar kaos. Orang-orang itulah yang sampai hari ini masih sering saling menyukai postingan instagram, sesekali memulai obrolan via BBM atau Line, dan merencanakan pertemuan meski entah kapan.

Dan saya mendadak jadi sangat rindu. Palembang mungkin akan bermakna beda kalau saya datang ke sana bukan untuk Stigma. Stigma pun mungkin kurang asyik tanpa orang-orangnya kala itu. Adalah waktu, tempat, dan orang-orang yang tepat yang membuat sebuah momen menjadi abadi dalam ingatan. Saya masih ingat pada seorang teman dari Borneo sana yang selalu mencari-cari korek api untuk membakar rokoknya. Saya belum merokok saat itu, tapi punya kebiasaan membawa cricket ke manapun. Atau pada tingkah beberapa orang mengenakan pakaian adat pada suatu pagi lalu membangunkan peserta lain dari kamar ke kamar. Ada juga peserta dari sebuah kelompok teater yang selalu nempel dan mengikuti kami ke manapun. Lalu pada seorang teman yang sebenarnya tak banyak mengobrol tapi meminta tukar kaos di detik terakhir ia harus pulang. Ah, semakin ditulis, saya semakin galau.

Mungkin, sebenarnya bukan Makassar yang ingin saya datangi, tapi mereka-lah yang saya ingin jumpai.

1447060087319
Sebagian dari kami.

 

Advertisements

Mencari Keseimbangan

IMG-20160221-WA0001

Apa yang saya dapatkan setelah hampir tiga bulan belakangan? Ini pertanyaan yang pertama kali saya ajukan pada diri sendiri pagi ini. Rutinitas hampir tiga bulan belakangan berakhir, tanpa romantisme, atau sesuatu yang bikin saya enggan cepat-cepat bergegas melupakan.

Saya berpikir ulang, barangkali saya salah mengambil langkah atau berekspektasi terlalu tinggi. Nyatanya di pertengahan hingga akhir saya sadar kelimpungan mencari cara menjaga kewarasan. Mungkin justru yang saya pelajari, menerima diri dan mencari keseimbangan. Ibu saya yang orang Jawa selalu mengajarkan, ojo rumangsa bisa tapi bisaa rumangsa. Memang ada saat kita cuma jadi kroco dan di-nol-kan oleh orang yang lebih pengalaman. Saya sungguh belajar rumangsa dan nerima. Nerima karena toh saya sudah dapat kesempatan ini, sementara ada orang lain yang belum. Saya dibenturkan pada keadaan di luar biasanya–keadaan di mana apa yang kita mau biasanya ‘dimudahkan’.

Barangkali belajar mencari keseimbangan adalah pelajaran terbesar yang saya dapatkan. Saya masih ingat kebosanan yang saya ceritakan pada seorang teman. Dia membalas pesan singkat tersebut, “awak ***** emang susah bikin feature-feature ringan.” Saya juga ingat pertanyaan yang disampaikan produser Satu Meja yang duduk di kubikel seberang, “kok kamu tidak di program politik atau talk show?” lantaran dia pernah memergoki saya membaca majalah Tempo dan Jurnal Perempuan. Mungkin dia sesekali juga melirik novel Norwegian Wood atau Lelaki Harimau yang kadang saya letakkan di meja–kebiasaan membawa sebuah buku ke mana-mana.

Nyatanya di tengah pengerjaan–meminjam istilah teman saya–feature-feature ringan tersebut, saya toh berusaha mencari pelarian. Pada akhir pekan saya datang ke acara Belok Kiri Fest (meski cuma dua kali dari keseluruhan rangkaian): saya menonton film A Copy of My Mind sendirian, nonton film Siti ke XXI TIM lantaran di sana yang paling murah, dan menikmati konser Silampukau juga di Teater Kecil TIM. Saya mengobrol hingga dini hari dengan Vany, tak peduli keesokan harinya harus bangun pagi buta demi liputan. Dalam tempo yang sama saya rampung membaca dua novel Eka Kurniawan dan satu novel Haruki Murakami. Saya izin pulang ke Jatinangor demi pemutaran film Perempuan yang barangkali pesertanya kurang dari 50 orang.

Saya sebut itu semua upaya menjaga kewarasan. Di satu sisi saya sungguh mensyukuri aktivitas rutin yang cukup santai selama dua bulan lebih belakangan: bertemu orang-orang yang sungguh baik dan lucu, banyak tertawa, tidak terlalu merepotkan kakak karena setiap pulang malam bisa diantar, dan tidak sering kepanasan di luar ruangan. Namun saya amat merasa ada yang hilang. Saya rindu diskusi dan perdebatan, kopi yang dinikmati sambil mengobrol sampai dini hari, membicarakan idealisme dan mimpi-mimpi sampai tiba pagi. Dalam rutinitas belakangan ini, saya kadang jengah mendengar bigot-bigot mencerca LGBT dengan moralisme dan rasa jijik mereka, dengan mengatakan toh lesbian atau gay pada akhirnya akan tetap mencari lubang! Tapi saya bisa apa? Juga ketika ada yang mengkritik penampilan saya yang kelewat santai dengan menunjuk pada seorang perempuan pebalet: “cewek tuh harusnya kayak gitu.” Saya berang tapi bisa apa? Apa ndak percuma berusaha menjelaskan kalau pikirannya itu termakan konstruksi budaya dalam memandang perempuan dan bahwa perempuan harusnya punya otoritas tubuh. Apa ndak percuma menjlentrehkan itu pada orang tua yang sudah merasa berpengalaman tapi toh ternyata bebal. Maaf saya kesal.

Saya senang bercanda dan tertawa, hidup saya jadinya ringan dan tidak serius-serius amat. Namun ternyata saya memang suka yang serius. Saya kadang iri pada orang yang dikenal karena kocak dan santai. Tapi bukankah kelahiran memang membawa takdirnya sendiri-sendiri dan saya ditakdirkan untuk serius kalau toh bukan sok serius.
Saya butuh menjaga kewarasan, butuh melihat lebih banyak dari sekedar komunitas A gemar melakukan ini bersama teman-temannya jadi selain berolahraga juga bikin sehat karena senang kumpul-kumpul, saya butuh lebih dalam dari sekedar menemukan di tempat X dulu pernah jadi pangkalan perang dan ada peninggalan berharga yang kini banyak diperjualbelikan atau dulu leluhur Y datang dengan kapal atau pantai di pulai Z sungguh indah namun belum terjamah wisatawan. Kalau kata teman saya yang lain, kita orang butuh mempertahankan empati, bukan cuma pion perusahaan yang duduk manis di balik meja dapat gaji banyak terus bisa ngegym di tempat mahal atau mabok di bar tiap akhir pekan juga pakai baju bagus wangi dan berias diri tiap saat.

Saya menemukan sesuatu yang paradoksal dengan keyakinan diri sendiri, tapi saya jalani selama hampir tiga bulan. Akhirnya, sekarang izinkanlah saya meyakini satu ayat dari surat Paulus yang ditulis buat jemaat di Korintus.
“…yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” -2 Korintus 5:17

Berjumpa Waktu

1458551588383

Yak, dan akhirnya tiba juga saatnya. Prodaksyen Production mendapat kesempatan memutarkan film yang dulu sempat tertunda. Kalau boleh jujur, itu harapan yang sudah agak terlupakan.

Ah, tapi bukankah seperti Pengkhotbah pasal 3 selalu menekankan, untuk segala sesuatu ada waktunya. Saya percaya hal ini kadang dengan keyakinan yang naif.

Film yang kami buat akan diputarkan bersama Departemen Susastra dan Kajian Budaya FIB Unpad. Belakangan, saya memang berusaha menjalin interaksi dengan pegiat dan pakar yang ada di sana. Dimulai dari Dija, hehe.

Dija akan berbicara dalam acara tersebut. Dia meminta saya untuk bersama atau menggantikan dia. Dia bilang, khawatir ada pertanyaan aneh-aneh yang dilontarkan oleh peserta yang hadir nanti. Buat saya tidak masalah siapa yang akan berbicara, mau saya atau dia. Saya pun yakin seorang Dija akan bisa menjawab itu semua: dia adalah rekan intelektual saya. Teman yang banyak memberi referensi pun sangat jarang melibatkan perasaannya sendiri dalam banyak polemik.

Buat saya pribadi, ini lebih pada momen mendengar kritik. Saya ingin membuka diri selebar-lebarnya pada kritik yang mungkin terlontar. Saya ingin belajar mengikis ego dan pretensi mendapat puja puji. Saya ingin dikritik, saya ingin dikasih masukan, saya ingin naik kelas.

Pun, ini adalah momen persentuhan saya dengan mereka, orang-orang yang sudah lebih dulu bergelut di dunia yang ingin saya hidupi.

Sampai jumpa nanti.

Katarsis

Dua kali datang ke acara Belok Kiri Festival, pada akhirnya saya cukup menyesal karena tidak cukup sering hadir. Dalam dua kali tersebut, saya sadar kalau saya seperti kehilangan pretensi seorang wartawan. Dulu, biasanya saya punya sense liputan yang cukup besar: datang awal dan menyimak acara dari awal sampai akhir, wawancara sana sini, lalu menulis berita. Kali ini, saya cuma ingin melakukan semuanya buat diri sendiri: datang, mendengarkan, menonton, berkeliling, menginginkan buku-buku berharga mahal, dan pulang kapan saja ingin.

Rasanya seperti momen katarsis. Barangkali memang begitu. Saya tidak punya hasrat menggebu untuk melakukan lebih daripada untuk diri saya sendiri. Saya menyerap apa yang disampaikan Mas Usman Hamid, Mbak Dolorosa, Mbak Dhyta Caturini, dan lain-lainnya. Menghasrati pengetahuan, membuka pikiran selebar-lebarnya, menentukan titik berdiri, menuangkan ekspresi, lalu memobilisasi diri.

Seperti yang disampaikan Mas Usman berkali-kali, saya harusnya memobilisasi diri. Tentu saja saya ingin, tetapi nanti setelah saya sudah banyak belajar dan memiliki dasar. Ah, bahkan sekarang untuk menuangkan pikiran dalam tulisan ini pun rasanya sulit sekali. Saya seperti terlalu banyak berpikir dan menimbang, lalu takut kalau apa yang saya tuangkan itu toh ternyata biasa saja. Namun bukankah kita semua memang biasa saja?

Saya jadi inget tulisan seseorang tentang ketidakberartian. Bahwasannya, kita ini, sebagian besar, hidup dengan biasa-biasa saja. Kita bukan Jim Geovedi, bukan Bill Gates, bukan Karl Marx, bukan Ann Frank, bukan Steve Jobs, bukan Arman Dhani, bukan Jonru, bukan Fahira Idris, atau siapapun yang hebat, yang pesakitan, yang dianggep bijak, yang dianggep guoblok. Kebanyakan kita cumak komentator di jagad maya pun nyata dunia ini. Dan kata si mas yang anonim ini, kalaupun memang tidak berarti, ya rayakan saja ketidakberartian itu.

Sesungguhnya mas ini tidak benar-benar anonim. Saya toh tahu pasti dia siapa, makanya saya bisa sebut dia mas, bukan mbak, bang, om, eyang, dsb. Anonimitas yang ditekuninya karena, satu, dia belum jadi siapa-siapa. Dua, dia inkonsisten. Saya ndak bilang inkonsisten itu jelek, itu manusiawi. Kayak Heroclates yang bilang satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Semuanya berubah: juga pendirian, sikap, ideologi, preferensi, dlsb. Tiga, mungkin dia sadar dirinya hari ini bisa jadi orang yang dicercanya sendiri besok pagi. Eh, tiga hal tadi simpulan saya sendiri. Tanpa verifikasi atau konfirmasi dari pihak bersangkutan. Ini kan bukan karya jurnalistik.

Atau sebenarnya saya sedang mengalami saturasi?

Barangkali saya ini cuma sedang kesal, kenapa kok ya kampus mengajarkan saya (dan para lulusan lainnya) ‘cuma’ jadi orang yang siap kerja. Sesuai kebutuhan industri. Betul itu sangat saya rasakan kini. Saya merasa begitu dangkal lantaran nggak banyak baca dari dulu, nggak akrab sama teori atau pemikir-pemikir klasik. Untung saya cepet sadar dan ketemu sama orang-orang yang ngasih reference betapa ….. (apa ya, mungkin kata yang paling manusiawi: overrated)  Tere Liye dan Andrea Hirata. Gini-gini, saya baca tetralogi Laskar Pelangi lhoh. Juga bukunya Bung Darwis yang Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin itu. Ndak papa, jadi boleh nyinyir kalau udah pernah baca.

Atau, saya ini sebenarnya sedang takut. Barangkali ini sindrom mahasiswa tingkat empat yang disuruh cepat-cepat lulus sama dosen-dosennya, sedikit banyak mulai berpikir materi. Toh dari dulu sebenarnya kami sudah sering dicekoki cerita kalau gaji wartawan nggak seberapa. Susah jadi kaya. Hidupnya bakal gitu-gitu aja. Apalagi kalau sok idealis, nggak mau nerima amplop, nggak mau liputan semi advertorial, nggak mau deket sama humas biar bisa sering dapat undangan jalan ke luar kota atau ke luar negeri (susah ngumpulin uang buat bisa piknik-piknik asik keliling Indonesa atau sekali-kali ke Asia Tenggara, Asia, Australia, terus Eropa dan Amrik!).

Seorang temen saya yang dilamar sebuah LSM sempat cerita kegalauannya. Kerjaan pertama toh menurut dia akan jadi penentu kerjaan dia berikutnya. Kalau sudah start dari LSM, apa nanti ndak akan muter di situ-situ aja? Padahal dia juga bakal butuh yang namanya kolam renang, halaman agak luas, ayunan anak, mobil muat banyak. Eh, ini bukan sekadar guyon. Tapi pekerjaan yang bisa memberinya semua itu dalam waktu relatif cepat, kayaknya bukan jenis pekerjaan yang ingin dia lakukan. Terus harus bagaimana? Ya milih. Temen saya milih kerja di LSM dulu.

Sekarang giliran saya: mau saya apa sih?

Setelah sempet lolos 40 besar kompetisi menulis yang digelar majalah travelling beberapa waktu lalu, tapi gagal lolos 10 besar lantaran medsos saya isinya curhat semua (!), saya sempat menyesal ah seandainya saya banyak menulis kisah perjalanan, saya bakal ke Western Australia tahun ini! Terus apa mulai sekarang saja saya nulis kisah perjalanan itu? Jadi kalau tahun depan ada lagi, saya ikut lagi, terus setidaknya blog atau tumblr atau wordpress saya isinya bukan curhat ala-ala yang terlalu eksistensialism alias personal ini. Terus setidaknya twitter saya isinya bukan mention-mention selebtwit macam Arman Dhani. Eh, udah kesebut dua kali. Hati-hati, nama depannya bukan Ahmad.

Eh, tapi apa itu yang saya impikan? Nulis cerita jalan-jalan? Saya pernah pengen belajar Antropologi buat S2, dan kebayang kerja di media ‘itu’ kalau memang kesampaian. Eh, tapi kayaknya bukan ini yang saya pengen.

Terus apa?

Dipertemukan sama Kamerad Kliwon di acara macam Belok Kiri Fest kemarin (siapa itu Kamerad Kliwon? Kalau ndak ada Kliwon, ya Kamerad siapa lah), baca-baca Jurnal Perempuan yang biarpun volume lama tapi berjodoh sama saya, beli buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula, nyoba kerja di LSM, main teater lagi, terus banyak menulis. Egois dan katarsis yah.

Hal Terbaik

“Hal terbaik kadang datang justru di saat kita sudah mengikhlaskannya.” -Bunga

—-

Ibuku menelepon pagi itu dan menanyakan apakah aku sudah sarapan. Kujawab, aku sedang ingin berpuasa. Senin Kamis. Dia bertanya dalam rangka apa. Aku bilang, entahlah. Kata Ibu, berpuasa memang baik, prihatin. Dia sendiri sudah tidak kuat berpuasa. Aku juga tak yakin aturan apa yang kuanut saat itu. Bangun pagi, minum air putih secukupnya, kemudian baru makan lagi setelah adzan maghrib. Mungkin jadinya mirip puasa Muslim. Namun tanpa sahur. Ibu juga tak terlalu Kejawen, dia tak paham betul. Katanya, ada puasa ngrowot, makan umbi-umbian saja. Ada puasa mutih, makan nasi putih dan minum air putih saja. Aku harus mencari tahu akan ikut yang mana, tentu saja.

Namun, saat itu, aku hanya ingin. Ingin menahan apa yang biasanya tidak dapat kutahan. Minum kopi, makan berat atau makan cemilan, dan sebagainya. Juga menahan rasa cakap dan cukup diri. Karena tidak dua-duanya ada padaku.

—-

Sore itu, aku baru saja membuat janji makan sore (sekalian berbuka puasa) bersama seorang teman. Pukul 17.30. Sebuah pesan singkat masuk. Ada sorak girang dalam hatiku lantaran isi pesan tersebut yakni undangan untuk wawancara magang. Meski berusaha gegas, aku mencoba tetap tenang. Tak mau ada yang terlewat karena terburu. Kukabari Ibu dan kedua masku. Juga teman makanku, memundurkan waktu pertemuan agar aku dapat bersiap sekalian berangkat ke Jakarta. Ohya, sebenarnya keadaan cukup mengkhawatirkan lantaran siangnya bom meledak di kawasan Sarinah. Beberapa media yang tidak bertanggung jawab menyiar berita hoax hingga memicu kekhawatiran berlebih dari khalayak. Ah, kenapa mereka gemar sekali seperti itu?

—-

Wawancara berlangsung singkat. Pertanyaan standar yang justru tidak kusiapkan jawabannya. Lantas apa yang terucap ya apa yang tengah lewat di otak. Biarlah. Aku dan Bunga diterima dan diarahkan ke bagian dokumenter. Izinkan aku mengucap puji Tuhan.

Satu hal yang cukup tidak terduga. Beberapa waktu belakangan, aku seperti menyerah mengupayakan hal ini. Aku mendaftar ke tempat lain, dan menelepon bagian personalia yang lain tersebut tiap minggu. Yang ini justru sangat susah dihubungi. Aku mencoba mengikhlaskan saja. Siapa sangka, apa yang dilepaskan justru yang merangkulku lebih cepat, tepat di saat aku hampir terjerambab.

—-

Saya sedang takut berharap terlampau banyak. Akhir-akhir ini saya merasa banyak sekali kesusahan mendera. Mungkin karena tanpa sadar, arogansi mulai mengakar dalam diri. Barangkali kebaikan dari semua ini adalah tercabutnya sebagian besar sikap tinggi hati tersebut. Barangkali, ini adalah cara Tuhan—anda pasti menganggap saya sok suci, moralis, sok beriman dan percaya Tuhan, dll—untuk melenyapkan kedegilan hati saya. Untuk kembali memperbaiki yang sudah retak. Untuk kembali menyapa teman-teman lama. Mengupayakan jalan pulang.

Hina, Asing, dan Pertemuan-Kedekatan-Perpisahan yang Bergantian

Maaf Semak Belukar, aku terus memutar video klip kalian, meski hanya kudengarkan tanpa menonton, sembari menulis cerita berkeluh ini. Barangkali aku tengah merasa hina dina dan terasing dari dunia. Atau sebenarnya karena semata ulasan tentang kalian membawaku jatuh cinta pada Camus yang kini tengah kuresapi. Dengan susah payah, tentunya.

Namun memang aku sedang merasa terlahir dan terlupakan. Lalu suatu perasaan yang akrab ketika aku kecil kembali menyelinap: rasa asing dan aneh dengan tubuh, akal, dan perasaan yang ada. Aku merasa begitu fana dan mudah hancur. Apa sih menjadi manusia itu? Bagaimana manusia ada? Pertanyaan-pertanyaan ini kembali menggelayuti meski banyak teori sudah digemborkan.

Aku tidak tahu bilamana perasaan dan pertanyaan itu muncul. Barangkali ketika hari-hari menjadi begitu berat dan aku merasa sendiri saja. Seringkali aku terbangun dari tidur dengan perasaan asing yang sukar diperinci. Bahkan ketika jari-jari tanganku menyentuh pergelangan atau lengan tangan yang lain, aku merasa begitu aneh dan asing. Setiap kali aku berusaha menjangkau Tuhan, sebagai entitas awal yang menjadikan segalanya ada. Setiap saat itu pula aku merasa tak sampai pikir.

Banyak teman kujumpai dari perjalanan ini–mungkin selama hampir empat tahun ini. Namun bukankah aneh jika di ujung perjalanan aku justru merasa tak menjumpai siapa-siapa. Barangkali memang tak banyak yang tersisa. Orang berbondong-bondong datang dan pergi. Sebagian dengan ucapan perpisahan, sebagian besar lainnya begitu saja hengkang. Tak ada yang salah dari pertemuan-kedekatan-perpisahan yang silih berganti. Hanya saja, aku dihinggapi rasa takut yang tak jelas akan apa.

Saya tidak takut akan sepi. Kadang berjarak justru membentengi diri dari ekspektasi dan kekecewaan. Ekspektasiku untuk mengakhiri masa studi ini dengan beberapa teman yang dapat saling menyemangati barangkali tinggal utopia.

Ada yang telah lebih dulu pergi. Aku banyak ditinggalkan, preferensi bergaul dengan mereka yang lebih dulu tiba ini mensyaratkan demikian. Tak apa. Mereka yang lebih dulu pergi sesekali menyapa, kembali berdiskusi, membagi cerita, menampung air mata. Mereka yang jauh kadang menjamah sakit dan luka yang menganga. Saya berterima kasih sekali untuk itu, syukur tak terkira.

Satu yang sangat saya suka dari film Fast and Furious yakni pernyataan Dominic Toretto yang beberapa kali ia tekankan.
“I do not have any friends, but a family.”

Barangkali terlambat untuk berharap, terlambat untuk meminta, pada Sang Entitas sumber segalanya, bahwa tak perlu banyak, sedikit tak mengapa, tapi saya ingin dikarunia saudara.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
Amsal 17:17

Terlahir dan terasingkan, tak lantas menjadi luka

Hanya karena berbeda, tak berarti hilang muka

Karena sempurna itu, hanya sebuah rencana

Karena sempurna itu, hanya sebuah bencana

Growing Up with The Little Prince

“Growing up is not a problem. Forgetting is.” -The Little Prince

Semalam saya menonton The Little Prince, dan menghabiskan beberapa jam setelahnya untuk membaca versi buku cerita karangan Antoine de Saint Exupéry tersebut. Filmnya sendiri disutradarai oleh Mark Osborne. Meski pecinta bukunya banyak yang kecewa dengan bagaimana sutradara Kung Fu Panda ini mengeksekusi cerita, saya kadung susah beranjak dari film tersebut. Filmnya kebak alegori, bertabur metafora, pun banyak kalimat yang tanpa dibedah pakai analisis wacana kritis pun rasanya bisa berlaku dalam kondisi yang general. Apalagi bukunya. Saya senang mulai betah baca versi PDF, untungnya memang tak begitu panjang.

Apakah Exupéry sebenarnya bercerita tentang kisah cinta atau bagaimana? Sepertinya Din memilih untuk menerka demikian. Kisah cinta segitiga antara Pangeran Kecil, Mawar, dan Rubah. Sayang Dijavu tidak ada di sini, sepertinya dia pernah membahas buku dan filmnya sekaligus. Saya sendiri sedang enggan menelaah lantaran masih kepikiran dengan ide besar cerita tersebut.

“The grown-ups are very odd.”

Saat di satu sisi diri saya pengen dewasa, sisi lainnya mau tetap seperti anak-anak. Menjadi dewasa barangkali memang berpotensi mengikis ingatan masa kecil kita. Ada yang menjadi samar-samar, ada yang sirna begitu saja, tapi ada juga yang melekat. Seringnya, dan umumnya, yang melekat justru yang paling menyakitkan.

Kalau hari ini sudah terlalu menyakitkan, kenapa harus mengenang yang menyakitkan dari masa lalu?

—-

Saya kemarin ke gereja. Bangun pagi-pagi karena alarm dan telpon dari Mama. Menyenangkan rasanya bisa bangun pagi di tengah liburan. Saya berusaha fokus mendengarkan homili ketika ingatan melayang ke suatu malam di kampung halaman. Waktu itu mati listrik sejak sore. Kami menyalakan lilin untuk penerangan. Seorang frater berkunjung ke rumah. Kalau tidak salah saya berkenalan dengannya dalam misa minggu sebelumnya di gereja. Bagaimana akhirnya dia berjanji akan berkunjung? Saya gagal mengingat. Saya masih sekolah dasar pula.

Dia memuji nilai rapor saya, yang dia lihat dengan bantuan cahaya lilin. Saya, frater, dan Mama mengobrol bertiga sebelum dia akhirnya berpamitan. Saya lupa apa saja yang kami obrolkan. Itu sudah belasan tahun silam. Kalau lancar, dia pasti sudah menerima sakramen Imamat beberapa bulan atau tahun setelah kunjungan itu. Barangkali dia kini tengah mengabdi, masih setia dengan panggilan hidupnya. Barangkali sudah berpaling. Barangkali, ah, banyak kemungkinan.

Entah apa maksudnya ingatan saya kembali ke sana. Mungkin hanya pengingat untuk kembali mendoakan orang-orang dan kebaikan dari masa silam.

—-

Saya bukan orang yang tekun membina hubungan dengan teman-teman lama. Saya hampir tidak berkomunikasi dengan teman-teman SD dan SMP kalau tidak secara kebetulan berteman di Facebook. Beberapa mungkin mengira saya sombong. Beberapa mungkin mengira saya kenapa-kenapa karena tidak pernah pulang. Saya cuma sedang menata diri. Meski tak memungkiri konsep pulang sudah begitu kabur buat saya. Saya bisa pulang ke mana saja, bisa ke Jakarta, bertemu Mama Papa dan kakak di sana. Atau ke Jatinangor, atau ke manapun saya merantau, perantauan sekaligus tempat pulang. Syukurnya, beberapa teman SMA masih berkorespondensi lewat Facebook, Instagram, atau Whatsapp. Ya, memang berbeda.

Tapi bukan berarti saya melupakan teman-teman masa kecil. Saya rutin menanyakan kabar mereka pada Mama. Siapa di antara mereka yang sudah lulus kuliah, yang akan menikah, yang baru saja melahirkan, yang pulang dari merantau dengan sukses, barangkali pacarnya masih yang dulu, atau ternyata dipinang tetangga dekat? Sesekali mereka pun menanyakan saya. Salam balik buat mereka.

—-

Pertama kali dalam hampir empat tahun, saya begitu pingin pulang. Terlepas dari itu saya pun harus mengurus KTP yang akan habis masa berlaku Mei mendatang. Mungkin memang saya sebaiknya pulang. Biar orang-orang menanyakan kabar dan kapan saya lulus (?) dengan berbagai cara yang kebanyakan menyebalkan. Semata agar saya merasa annoyed, lalu berikhtiar benar menamatkan kuliah. Hehe. Rasanya menyenangkan membayangkannya. Pun saya bisa berziarah ke makan kakek nenek, buyut, dan berkunjung ke sanak lainnya.Ya, saya ingin pulang. Seperti Pangeran Kecil ingin kembali ke asteroid B-612. Mungkin mawar yang saya cintai di rumah sudah tiada. Mawar yang selalu saya pikir bisa jadi tiket dan alasan untuk pulang. Dia sudah pergi ke pulau yang jauh.

Dia tidak tahu.

Bahwasannya saya mungkin bertemu Rubah, Ular, mawar-mawar lain, atau Aviator di perjalanan. Tapi saya tetap ingin pulang untuk dia.

“What is essential is invisible to the eye.”